Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi resmi menambah 44% kursi kuota penerima program Bidikmisi 2019. Jumlah tersebut naik sekitar 57.200 kursi menjadi 130.000 penerima dibandingkan dengan tahun lalu. Pengalokasian program Bidikmisi 2019 diperuntukkan bagi perguruan tinggi negeri dan swasta termasuk pendidikan tinggi vokasi.

...

Nasib orang tentu berbeda-beda. Kita juga tidak  bisa meminta dipilihkan orang tua yang kita inginkan kepada Tuhan. Lahir dari Anak Presiden sampai anak gelandangan, tak ada yang bisa protes akan hal itu. 

Ada si kaya dan si miskin. Apakah miskin itu memang nasib dan takdir yang bisa diubah? Bagi saya, semua bisa diubah, tinggal diri kita mau atau tidak. 

Sejak tahun 2010, pemerintah pada waktu pemerintahan SBY meluncurkan program Paket Pengubah Nasib atau lebih dikenal Beasiswa Bidikmisi. Kenapa saya katakan demikian, sebab Beasiswa Bidikmisi adalah bantuan pendidikan bagi calon mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi namun mempunyai prestasi yang baik, prestasi dari akademik maupun non-akademik. 

Hemat saya bahwa kuliah tak harus anak orang kaya, sekarang anak orang yang miskin bisa meraih gelar sarjana dan itu bukan mimpi.

Bidikmisi siap memberikan bantuan pembiayaan penuh selama menjadi mahasiswa strata 1 lengkap dengan biaya hidup per bulan. Tahun ini adalah tahun ke sembilan pembiayaan Bidikmisi hampir satu dekade. Cukup lama, bukan? 

Alokasi dana untuk pendidikan Indonesia sekitar 20 persen. Gelontoran dana juga dikucurkan tiap tahunnya. Sebuah dana untuk proyek jangka panjang mengentaskan kemiskinan lewat pendidikan tinggi. Hampir satu dekade Beasiswa Bidikmisi ada lalu berhasilkah progam ini? 

Beberapa catatan kecil untukmu

Masih saja si kaya kecipratan

Sejatinya Bidikmisi diperuntukkan untuk calon mahasiswa yang benar-benar kurang mampu. Bukan orang yang mengaku-ngaku miskin. Bagi calon mahasiswa di seluruh Indonesia sadar dirilah dan mohon untuk bercermin seberapa pantaskah kita untuk menerima beasiswa ini. 

Anak Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih daftar Bidikmisi, punya rumah besar bertingkat masih juga daftar, punya mobil masih ngotot pengen dapat Bidikmisi. Yo mbok sadaro rek. 

Salah sasaran, kurang tepat, dan kurang jitu.

Miris ketika pada waktu pengumuman Bidikmisi di kampus saya. Tiba-tiba ada mahasiswa baru yang mengirimkan bagaimana keadaan rumahnya. Ia menceritakan bagaimana susahnya kondisi keluarganya. Ia mendaftar sebagai calon penerima namun pihak kampus menilai ia tak layak.

Aku bingung apa yang harus aku lakukan kecuali memberikan kesabaran padanya dan tekad mencoba di Bidikmisi tambahan atau mencoba beasiswa lain. Tapi aku bilang padanya. "Jangan berhenti kuliah, dek" kataku dalam pesan di WhatsApp.

Sementara ia bercerita tentang salah satu seorang anak pegawai dikategorikan mampu malah mendapatkan Bidikmisi ini. Tahun 2018 lalu memang terdapat pengurangan kuota yang signifikan yang ada di kampus sehingga banyak yang belum terakomodir. Namun kebocoran seperti kalangan anak-anak yang dikategorikan mampu ini memang ada satu sistem yang salah dalam proses seleksinya.

Saya berharap bila ada sistem, prosedur, dan tahapan yang benar-benar berlandaskan keadilan dan profesionalitas, transparan, dan akuntabel. Agar beasiswa ini jatuh kepada tangan yang benar-benar berhak mendapatkannya tidak sebaliknya.

Masih dipandang sebelah mata

Banyak yang memandang mahasiswa Bidikmisi adalah kumpulan anak miskin yang mendapat kuliah gratisan. Tentu kita harus siap mental akan hal itu. Namun jangan salah miskin bukan berarti tak ada otak. Justru mahasiswa Bidikmisi yang tersebar seantero negeri ini memiliki prestasi yang cukup cemerlang di masing-masing kampusnya. Baik prestasi akademik maupun akademiknya. 

Beda lagi urusan fashion. Kita selalu dalam tanda kutip "nyiyir" bila anak Bidikmisi tampil gaya dengan model baju terbaru. Kadang saya sendiri serba salah dalam berpakaian. Pakai baju bagus salah, baju sederhana dihina memang perlu kesabaran disini. Sepatu nyentrik dan tas keren dari online shop. Salahkah kita sebagai mahasiswa Bidikmisi memakai barang-barang tersebut? 

Mungkin saja setelah mereka mendapatkan beasiswa tersebut mereka dapat berwirausaha akhirnya mereka mendapatkan penghasilan tambahan atau mereka kerja sambilan yang kita tidak tahu. Walaupun kita miskin tapi kalau uang itu kita cari dengan cara yang benar tidak masalahkan? 

Jadi kesimpulannya sementara jangan sok tau atau berprasangka buruk dulu.

Lantas yang salah adalah masih saja mahasiswa yang kaya bermental kere. Mengaku miskin namun naiknya ninja. Mengaku orang tak punya tapi setiap hari makan enak di cafe yang mahal setiap malam minggu menggandeng pacar jalan-jalan ke mall shoping sana shopping sini. 

Setiap pencairan update status pasang story Watshap atau Istagram. Lalu jalan-jalan sama temen beli jam dan aksesoris mahal. Tidak pernah ketinggalan model Handphone baru. Seperti inilah mahasiswa Bidikmisi bangsat. 

Masalah fashion ini sama dengan handphone, motor, dll. Tidak salah bila memiliki barang yang bagus, asal saja barang tersebut didapat dengan cara yang benar. Uang tersebut adalah hasil mereka sendiri lewat usaha, kerja, serta tanpa menyalah gunakan uang beasiswa mereka masing-masing.

Pemberdayaan Mahasiswa Bidikmisi Yang Masih Kurang.

Setiap tahun kampus tempat saya mendapat kuota Bidikmisi yang cukup banyak. Bisa dikategorikan dalam kuota yang besar. Saya pernah bertanya kepada teman saya di kampus lain bahwa ia heran kalau kampus saya cukup besar kuotanya. 

Angkatan saya ada lebih 800 orang, tahun 2018 lalu sekitar 500 orang namun mendapatkan tambahan kuota lagi. Kurang lebih ada 700 lebih saya lupa jumlah aslinya tapi kurang lebih sekitar itu.

Bukan saya tidak bersyukur mendapatkan beasiswa ini. Namun salam pendoman Bidikmisi memang terdapat acuan pihak kampus untuk melakukan pemberdayaan terhadap mahasiswa Bidikmisinya. Saya bercermin terhadap beasiswa dari swasta yang benar-benar penerima beasiswanya di difasilitasi selain beasiswa yang menjadi hak mereka. 

Mereka dihimpun dalam suatu ikatan forum sesama penerima beasiswa dan mendapatkan berhak mengikuti berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak yang memberikan beasiswa tersebut.

Mungkin memang berbeda dan tidak bisa membandingkan dengan satu sama lainnya. Tidak bisa memang membandingkan beasiswa milik pemerintah dan swasta karena memang pengelolaan yang berbeda. Namun bukankah alangkah baiknya apabila pemerintah bisa melakukan pembinaan terhadap mahasiswa Bidikmisi diseluruh Indonesia. 

Bagaikan menanam tanaman tentu tidak hanya ditanam di tanah saja. Namun tentu harus diberi pupuk serta diberikan kasih sayang. Beasiswa juga seperti itu bila hanya berharap dengan hanya digratiskan kuliahnya dan diberi uang per bulan tanpa ada pengarahan yang baik serta ada bimbingan yang terarah saya rasa itu tidak akan maksimal.

Organisasi Bidikmisi Yang Ilegal di Beberapa Kampus

Ikatan, forum, organisasi, Bidikmisi hampir ada diseluruh kampus, termasuk kampus sayapun ada. Namun statusnya masih tidak jelas. Sempat tidak diakui lantaran kami dianggap hanyalah kumpulan mahasiswa penerima beasiswa yang sudahlah fokus saja untuk belajar tidak usah neko-neko.

Menurut pihak kampus landasan berdirinya organisasi ini tidak ada. Beasiswa ya beasiswa tidak bisa dijadikan organisasi resmi dikampus dalam model apapun, UKM, organisasi intra, atau yang lainnya, itu dikampus saya. 

Jadi tidak heran bila kerap harus pontang-panting kalau masalah pinjam gedung, bikin kegiatan, atau pendanaan. Akhirnya kami berfikir kreatif mencari uang lewat sponsorship, galamg dana, kas, dan iuran. Tak ada masalah.

Rekan-rekan di kampus lain serupa mengalami kesulitan terhadap masalah legalitasnya. Namun syukur beberapa kampus ternama telah mengakomodasi beberapa organisasi Bidikmisinya dan mendapatkan akses seperti organisasi lain bahkan masalah dana.

Sementara yang lain masih berjuang mempertahankan serta memperjuangkan keberadaanya. Serta tetap terus mengabdi diberbagai kegiatan pengabdian yang dilakukan masing-masing organisasi Bidikmisi di Indonesia

Tentu tulisan ini adalah refleksi apa yang saya temui dan saya liat.  Sebagai catatan yang saya  alami pribadi dan mungkin bisa didengar oleh semua orang,  Bapak Menteri, atau  bahkan Bapak Presiden RI, terkait apa yang rasakan serta saya alami. Saya bersyukur terhadap beasiswa ini. Saya berjanji untuk menjadi mahasiswa Bidikmisi yang berprestasi dan kelak lulus dapat menjadi bagian penggerak perubahan bangsa. 

Sebagai mahasiswa Bidikmisi saya bangga atas identitas tersebut.