Gulwarien (Toranj Kayvon) terancam dipenggal kepalanya oleh Saidullah (Rakesh Chaturvedi Om), pemuka suku Pashtun. Hal itu terjadi akibat perempuan tersebut lari dari suaminya. Ia menolak kawin paksa. 

Halvadar/Havildar (Sersan) Israr Singh (Akshay Kumar) membela perempuan tersebut. Walaupun komandannya, Letnan Lawrence (Edward Sonnenblick), menolak mencampuri urusan suku Pashtun.

Adegan tersebut membuka Kesari. Sejak babak-babak awal, penonton sudah disuguhi pemandangan indah perbatasan Pakistan-Afghanistan. Keberanian dan kemampuan bertarung Ishar Singh dengan mulus mengenalkan penonton pada sang pahlawan utama film ini.

Akibat menolong Gulwarien, Ishar Sing dimutasi ke Benteng Saraghari. Ia dijatuhi hukuman indisipliner. 

Sebagai prajurit, Havildar Ishar Singh sudah tentu merasa dibuang saat dipindahkan. Benteng tersebut lebih berfungsi sebagai pos komunikasi dibanding pertahanan militer. Saraghari tidak dilengkapi meriam dan senapan mesin.

Saraghari hanya berperan sebagai penghubung dua banteng, Lockhart dan Gulistan. Komunikasi antara Lockhart dan Gulistan dilakukan oleh Saraghari melalui heliograf. Heliograf adalah alat pembuat isyarat dengan bantuan sinar matahari dan cermin yang dapat diputar-putar.

Walaupun kecewa, pada akhirnya Ishar Singh beserta 20 tentara Sikh lain berhasil membuktikan keberanian dan ketangguhannya sebagai prajurit di “kantor pos” tersebut. Ishar berhasil membalas ejekan Letnan Lawrence. Perwira Inggris itu menyebut orang India sebagai budak yang tidak punya keberanian.

Ide cerita Kesari terinspirasi dari kisah nyata kepahlawanan 21 prajurit Sikh dalam pertempuran Saraghari pada 12 September 1897. Mereka menahan serangan sekitar 10.000-14.000 suku Pashtun sejak jam 09.00 hingga hampir sore hari.

Alotnya pertahanan Saraghari membuat rencana serbuan suku Pashtun ke banteng Lockhart dan Gulistan tertunda lalu akhirnya gagal total. Detail kronologi dan akhir nasib 21 prajurit Sikh tersebut terekam cukup akurat dalam sejarah, mengingat prajurit Gurmukh Singh (Sumeet Singh Basra) rajin mengirimkan laporan ke Benteng Lockhart.

Sinematografi Kesari sangat menarik. Film ini mampu memikat penonton lewat pengambilan gambar pegunungan indah di daerah perbatasan Pakistan-Afghanistan sekarang. Sudut-sudut alam indah memanjakan mata penonton di tengah tema film perang dan keras.

Atmosfer keberanian dan kepahlawanan sangat kuat terasa dalam film ini. Begitu pula solidaritas sesama orang Sikh, solidaritas yang diikat oleh ikatan tradisi dan keyakinan. Sutradara Anurag Singh sangat berhasil menyatukan atmosfer tersebut ke dalam jalinan cerita.

Isu kolonialisme, rasialisme, dan toleransi antarkeyakinan juga disajikan. Termasuk juga masalah patriarki. Walaupun tema-tema tersebut masih kalah kuat dibanding suasana keberanian dan kepahlawanan.

Masalah kolonialisme, rasialisme, toleransi, dan patriarki masih terkesan hanya sebagai tempelan untuk meredakan ketegangan. Alur kisah Kesari masih kurang kompleks dibanding Manikarnika: The Queen Of Jhansi (2019). Isu gender, intrik politik, dan nasionalisme lebih padat dan kuat tersaji dalam Manikarnika. Tema-tema tersebut kuat mendukung genre utama, yaitu film epos kolosal.

Lompatan logika terlihat pada perubahan mental tentara. Saat Ishar Singh tiba, para prajurit di Saraghari digambarkan tidak disiplin. Proses perubahan tentara yang disiplinnya kendor menjadi tentara tangguh yang tidak takut mati, kurang terlihat.

Walaupun tahapan pembentukan ikatan emosional di antara para prajurit digambarkan secara meyakinkan. Motivasi mereka untuk ikhlas gugur bersama, dengan mudah bisa dipahami lewat adegan demi adegan yang runtut.

Kesari juga gagal menghadirkan wawasan dari sudut strategi dan taktik militer. Film ini tidak menggambarkan secara menarik taktik milter apa yang diterapkan para prajurit Sikh hingga mampu menahan serangan ribuan orang Pashtun. Apakah memang orang-orang Pashtun tersebut bodoh atau panglima mereka yang tidak becus?

Akshay Kumar meyakinkan sekali berperan sebagai Sersan Ishar Singh. Keberanian dan ketegasannya sebagai komandan pasukan sangat dominan. Para pemeran pendukung lain bermain cukup aman mendukung Akshay Kumar. Mimik wajah para pemeran antagonis juga sangat meyakinkan hingga membuat penonton sebal.  

Tema kisah prajurit Saraghari ini sangat identik dengan kepahlawanan 300 prajurit Sparta melawan ribuan tentara Persia dalam pertempuran Thermopylae. Namun bagian akhir Kesari juga mengingatkan kita pada babak penutup Braveheart (1995).

Secara umum, Kesari masih layak untuk ditonton. Bagi penonton yang tidak akrab dengan sejarah India, film ini memberi secuil wawasan tentang peristiwa herois prajurit Sikh. 

Atmosfer kepahlawanan dalam Kesari sangat kuat terasa. Namun bagi penonton yang mencari kerumitan cerita dan wawasan militer, Kesari akan mengecewakan. Sekalipun sinematografi film ini cukup indah. (B-)

Cuplikan resmi Kesari (2019)

https://www.youtube.com/watch?v=JFP24D15_XM