28 oktober kemarin kita memperingati, menghayati dan mengambil ibroh dari apa yang sudah terjadi pada tanggal 28 oktober 1928 atau tepatnya 89 tahun yang lalu. Semangat anak-anak muda jadi cikal bakal lahirnya sebuah bangsa yang awalnya tertindas. Indonesia namanya. Tidak kalah juga perihal cerita-cerita perjuangan pemuda lainnya. Saya coba urutkan dari perjuangan pemuda yang bukan dari Indonesia. Hal ini dirasa penting, karena bukan dimana dan apa negaranya. Tapi bagaimana semangatnya. Saya masih ingat pembebas konstantinopel, Alfatih namanya. 

Pada usia yang masih dikatakan muda sekira 21 tahun. Ia telah memimpin kerajaannya untuk membebaskan konstantinopel dari kejahiliyahan. Revolusi iran yang digelorakan para pemuda, terutama Ali Syariati yang menggulingkan rezim Pahlevi. Dan tak kalah semangatnya. Di Indonesia, kita kenal Soetan Syahrir, Bung Karno, Hatta sampai Lafran Pane.  Mereka semua adalah kaum pemuda yang mempunyai pandangan masa depan yang cerah. Secara jasmani mereka telah tiada. tapi secara spirit tetap ada dan menjadi inspirasi perjuangan pemuda saat ini dalam membangun bangsa. " pemuda tak boleh mewarisi arangnya, tapi harus apinya" begitulah pesan penutup di kajian limited Group kemarin.

Dalam rangka tetap menyalakan api semangat itu. Indonesia memperingati momen-momen sejarah itu. Pak Joko widodo memperingatinya dengan konsep yang berbeda. Konsep yang sebenarnya diajukan  pemuda zaman now  ( 28/ 10/ 17). Konsep yang tidak terlalu formal. Mungkin di desa-desa lain memperingati dengan konsep yang lain. Seperti halnya WAg Lingkar Penulis HMI mengumpulkan esai teman-teman HMI untuk dipublikasikan dengan bentuk buletin. Setiap daerah punya caranya tersendiri dalam memperingati hari yang penting tersebut. Cara yang beda dengan tujuan yang sama saya kira bukan masalah sepanjang pesan-pesan momen sejarah itu tersampaikan.

Seperti yang telah dibahas teman-teman limited Group. Pemuda saat ini seolah-olah mengalami keterputusan benang sejarah perjuangan. Bahkan Dikhawatirkan, mereka tidak tahu benang merah perjuangan pemuda dulu. Jika demikian maka tinggallah bangsa ini, bangsa yang tidak tahu dimana pijakannya. Terbang tak bisa, menyelam takut. Apakah hal ini sudah terjadi? Secara nasional mungkin belum tapi secara individu pemudanya, ada semacam was-was. Keraguan ini bukan tidak berdasar. 

Kenyataan-meski perlunya interpretasi secara psikologi- bahwa pemuda saat ini mengalami keterputusan sejarah itu. Tidak hanya keterputusan sejarah. Mereka juga mengalami keterputusan budaya. Realitanya, banyak yang kurang bangga terhadap budayanya sendiri. Bangsa ini mengalami kepunahan budaya. Akibat pemudanya yang tidak mempunyai jiwa-meminjam istilah Daoed Jooesof- tanah air mental. Secara fisik pemuda saat ini ada di tanah airnya ini.  Tapi secara mental bukan bertanah air disini. 

Budaya luar diadopsi-ini seolah keharusan- tanpa memfilter mana yang baik dan tidak. Akibat ini, kebebasan mengumbar syahwat, konsumsi obat-obatan terlarang, dan minuman alkohol sudah seperti biasa dan menjadi wajah bangsa yang dulu dicita-citakan sebagai bangsa yang maju dan berbudaya. Dirasa miris ketika cita-cita itu sebatas cita-cita akibat pemudanya yang sudah mengalami keterputusan sejarah dan budaya bangsanya sendiri.

Akibat dari ketidak normalan pemuda saat ini. Maka perlu diadakan agenda secara mendesak. Ketika kemarin kita mendengar " darurat narkoba" sebenarnya tidak hanya darurat narkoba. Malah, bangsa ini darurat karakter. Kehilangan ciri khasnya yang beradab. Dan inilah, lagi-lagi akibat salah tanggap terhadap budaya luar yang masuk ke bangsa kita. Sekali lagi, perlu agenda mendesak. Apa itu? Menanamkan semangat pada pemuda.

Menanamkan semangat pada pemuda saat ini ibarat mengobati orang sakit yang hampir parah. Sebab budaya-budaya luar yang sudah terlanjur masuk ke bangsa ini sudah sedemikian mendalamnya dalam kehidupan pemuda. Bukti ciuman-maaf- sepasang kekasih bahkan anak bau kencur yang dengan entengnya melakukan itu adalah tanda sudah mendalamnya penghayatan budaya luar itu. Karena itu, semangat pemuda yang perlu ditanam harus intensif. Semangat itu dalam artian menyambung sejarah dan budaya bangsa kita dengan mental pemuda saat ini. Penanaman semangat itu tidak lain kecuali dengan berbagai hal berikut: pertama, menanamkan semangat juang para pahlawan.  Kedua, menyaring budaya-budaya luar demi pemuda sebagai generasi bangsa.

Yang pertama adalah bentuk upaya untuk menghidupkan api semangat para pahlawan dalam diri pemuda saat ini. Jika sudah berkobar maka bukan tidak mungkin bangsa menuju ke arah kemajuan dan beradab. Steedly pernah gusar jika yang ditanamkan itu imajinasi peperangan para pahlawan dulu. Khawatirnya yang akan dipahami sebatas bagaimana meniadakan kelompok lain. Secara tak berlebihan, Bung Karno pernah mengatakan: " ambil apinya, jangan abunya ". Barangkali, peperangan secara fisik dan senjata atas nama Indonesia untuk sekarang tidak relevan. Tapi, semangat itu masih relevan bahkan sampai kiamat tiba.

Yang kedua, menyaring budaya luar itu harus. jika masih berdaulat secara budaya dan bertanah air mental maka budaya bangsa ini harus dipertahankan. Yang lebih penting memilah mana yang baik dan tidak terkait budaya luar. Menolaknya tidak mungkin. Sebab, hal itu membuat kita tertutup. Hal inilah dulu yang pernah dialami cina dan jepang ketika menolak secara eksklusif terhadap budaya luar. Meskipun pada akhirnya, dua negara ini menerima dan mengambil budaya yang sesuai dengan bangsanya.

Dua hal tersebut kiranya dianggap menjadi hal yang penting untuk dikemukakan dalam tulisan ini. Dua-duanya butuh dukungan pemerintah. Menurut Nurcholis Madjid bagaimanapun rusak tidaknya generasi bangsa khususnya pemuda adalah tanggung jawab kaum-kaum tua. Pemimpin yang buruk pernah mengatakan, urusan bangsa untuk saat ini, urusan rusak-tidaknya bangsa di masa selanjutnya adalah urusan generasi selanjutnya tersebut.

Semangat itu adalah spirit untuk menumbuhkan pemuda berkarkter. Pemuda yang tidak hanya easy going atau santai. Semangat itu tidak lain hanya untuk membangun bangsa. Kemanah arah bangsa ini? Ada di tangan pemuda. Siapa pemuda? Mereka yang secara usia dan semangat masih muda atau usia sudah tua tapi spirit masih muda. 

Pemuda itu seperti yang telah disebutkan dalam syair arab: Laisal fataa man yaqulu hadza abi, lakinnal fata man yaqulu haa ana dza. Ia adalah yang tidak mengagungkan dan berujar tentang kejayaan seniornya. Tapi ia adalah yang mengatakan inilah saya dengan segala konsep sendiri. Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Jika sekarang tidak punya ide maka bagaimana mau memimpin hari esok?. Kiranya pantang mengatakan, urusan negara sudah ada yang mengatur, pajak, listrik, ekonomi, pendidikan dll. Kita tinggal santai-santai. Semangat yes, santai no!