Ia terlahir berbeda dengan sebagian besar orang-orang yang tinggal di lingkungannya. Namanya Ai Kurniasih, namun kami lebih mengenalnya dengan sebutan Bi Enyi. Usianya tak lagi muda, hal itu terlihat dari beberapa uban yang telah nampak di beberapa bagian rambutnya yang hitam dan ikal terurai.

Namun ia terlihat masih segar dengan semangat yang menggebu-gebu. Mungkin itulah yang membuatnya masih terlihat muda di usianya yang semakin dekat dengan senja.

Cantik. Kesan pertama ketika melihat sosok ini. Namun betapa kagetnya ketika komunikasi verbal pertama yang coba saya awali tak selancar komunikasi-komunikasi yang pernah saya lakukan sebelumnya, dengan orang-orang yang berbeda. Terasa sulit memahami apa yang ia ucap.

Itulah yang menjadi batu sandungannya. Bukan karena bahasa daerah yang ia gunakan. Tapi dari pelafalan dan ejaan yang sungguh berbeda dengan orang-orang pada umumnya.

Tunawicara. Ternyata ia seorang penyandang tunawicara. Menurut Heri Purwanto dalam buku Ortopedagogik Umum (1998) tunawicara adalah apabila seseorang mengalami kelainan baik dalam pengucapan (artikulasi) bahasa maupun suaranya dari bicara normal, sehingga menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi lisan dalam lingkungan.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa penyandang tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Salah satu kelainan berkomunikasi yang membedakan ia dengan sebagian besar orang lain. Yang untuk sebagian besar orang merupakan sebuah “kekurangan”.

Yang biasanya menjadikan sang penyandang tak memiliki kepercayaan diri untuk berkomunikasi atau bersosialisasi.

Namun itu tak berlaku bagi Bi Enyi. Tak terlihat “kekurangan” itu membatasinya. Tak terlihat sama sekali gurat malu, atau  minder di mimik bahkan gerak-gerik tubuhnya, ketika coba berkomunikasi, bersosialisasi dan berbaur dengan orang-orang yang tinggal di sekitar lingkungannya. Dengan para pelanggan kecil setianya di Sekolah Dasar, atau  orang-orang yang setia menanti lezatnya bakso buatannya.

Sosok yang amat menarik. Pribadi ramah, percaya diri, pandai bergaul namun tetap bersahaja. Kekurangan yang ia miliki kini bukanlah penghalang baginya untuk meraih mimpi. Setidaknya itu yang tergambar jelas dari kacamata kami orang-orang yang tinggal dan hidup di dekatnya.

Pribadinya yang ramah, percaya diri, dan pandai bergaul tetap tak menjadikan jaminan dirinya tak dipandang sebelah mata oleh sebagian orang picik, yang menanggap Ia minoritas (penyandang tunawicara)  yang tak sama dengan  kaum mayoritas (normal).

Pernah di satu hari saya mengantar Bi Enyi ke pasar untuk berbelanja berbagai kebutuhan yang akan ia jajakkan. Tak jarang  Saya dapati mata-mata penuh tanya, pandangan-pandangan sinis seakan merendahkan tertuju kepada Bi Enyi, ketika Bi Enyi berbicara dan coba mengawali komunikasi. Sekadar menanyakan harga misalnya. Banyak pula pedagang yang mengalami kesulitan untuk memahami berbagai kata yang diucap oleh Bi Enyi.

Miris saya melihatnya, seorang wanita pejuang tangguh, yang coba berusaha di balik kekurangan yang ia punya.

Pagi hari tepat sesaat setelah melaksanakan ibadah salat subuh ia bergegas pergi ke pasar untuk membeli berbagai kebutuhan barang yang akan ia jajakan. Mulai dari jajanan kering, mainan, bahkan alat tulis semisal buku, buku gambar, pencil, penghapus dan pulpen bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD) di pagi hari.

Hingga berbagai sayuran semisal tauge, daun sosin dan seledri, serta bakso pasar pun ia beli untuk memenuhi kebutuhan warung baksonya, yang akan ia jajakan siang hari, selepas pulang menjajakan dagangannya di Sekolah Dasar (SD).

Itulah rutinitas Bi Enyi setiap hari. Subuh pergi ke pasar, pagi berjualan aneka jajanan kering dan alat tulis di Sekolah Dasar (SD), dan siang hingga sore hari menjajakkan bakso di teras rumahnya, belum lagi terpaksa harus tidur lalut malam mempersiapkan dagangan untuk dijajakkan keesokan harinya.

Sempat saya bertanya tidakkah Ia lelah dengan rutinitas yang bahkan seakan tak  ada istirahat baginya. “Lelah memang, namun inilah hidup,” jawabnya.

Sesungguhnya Bi Enyi pernah menikah, namun tak memiliki buah hati. Enam belas tahun silam, sang suami  memilih pergi meninggalkannya, demi perempuan lain yang dianggapnya lebih sempurna fisik dan cara berkomunikasinya. Sejak itulah ia bertekad untuk berdiri di atas tangan dan kakinya sendiri, agar tak  ada orang yang merendahkannya hanya karena cara berkomunikasinya yang tak sempurna.

Saat ini ia hanya tinggal berdua bersama Ibunya, di sebuah rumah  yang cukup tua usianya. Sesungguhnya ia tak harus berjuang sekeras ini. Mengingat sebenarnyanya ia terlahir dari keluarga yang tidak kekurangan. Ibunya seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), sedang beberapa saudara lainnya bekerja sebagai guru.

Ia ingin terus bekerja, menghidupi dirinya sendiri dan berharap bisa “memberi” sedikit hasil kerja kerasnya kepada Sang Mama (Ibunya). Tak ingin jadi beban bagi orang lain terlebih orang tua, dan saudara-saudaranya, itulah tekad utamanya. Ia memilih bekerja keras, ketimbang duduk berleha di atas kursi sambil menengadahkan tangan. Ia memang memiliki kekurangan, tapi lihat betapa banyak kelebihan yang Tuhan berikan padanya.

Wanita yang hidup dalam keterbatasan, namun tak pernah merasa terbatasi.