Revolusi menjadi tanda dari lahirnya sebuah sistem politik baru dalam kehidupan bernegara. Sistem ini lahir dari adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh seorang rezim yang otoriter. Bentuk ketidakadilan itulah yang membuat para oposisi ingin menjatuhkan rezim tersebut, bahkan mengganti sistem pemerintahannya. Hal itulah yang menjadi pemicu terjadinya Revolusi Islam Iran 1979.

Sebagai pemimpin Iran pra Revolusi, Shah Reza Pahlevi memiliki kedekatan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Hal ini tentu membuat kebijakan luar negeri Iran banyak berpihak kepada negara adikuasa tersebut. Seperti kebijakan impor dari negara-negara Barat, aset-aset negara yang dikuasai AS, kebebasan pers yang dikekang, tindakan koersif dari polisi rahasia SAVAK kepada para pengkritik, dan tidak dirangkulnya ulama syi’ah. Padahal merekalah yang mempunyai pengaruh besar di tingkat akar rumput (grass root).

Aristoteles dalam bukunya The Politics menjelaskan bahwa monarki merupakan sistem terbaik dalam kehidupan bernegara. Sebab ia menempatkan seorang cerdas untuk mempimpin sebuah negara. Namun sistem ini bisa berubah menjadi tirani, yaitu sistem di mana seorang pemimpin bertindak otoriter. Itulah gambaran rezim Shah Reza Pahlevi yang seharusnya monarki menjadi tirani.

Gaya kepemimpinan otoriter Shah Reza Pahlevi tampak ketika terjadi konflik dengan Dr. Moshadeq. Kala itu, Dr. Moshadeq menjabat sebagai perdana menteri, sedangkan Reza Pahlevi sebagai shah. Moshadeq yang berusaha menasionalisasi perusahaan minyak Iran, yaitu National Iran Oil Company (NIOC) dari kepemilikian Inggris. Kebijakan ini berujung pada penyelesaian sengketa di level Dewan Keamanan PBB dan Pengadilan Internasional di Den Haag.

Hasil sengketa memenangkan Iran atas kepemilikan NIOC. Sengketa ini membuat hubungan diplomatik Iran dengan Inggris memburuk. Sengketa ini tentu berdampak pada perubahan kebijakan negara-negara lain terhadap Iran. Inggris memengaruhi negara lain untuk memusuhi Iran. Tentu dari kebijakan tersebut membuat Iran tidak bisa melakukan hubungan dagang dengan negara manapun. Bahkan dengan Jepang dan Italia yang terkesan pragmatis.

Gaya kepemimpinan otoriter Shah Reza Pahlevi tampak dari keberadaan polisi rahasia SAVAK. Merupakan kepanjangan dari bahasa Persia, Sazman-e Etelaat Va Amniat Keshvar yang artinya Organisasi Intelijen dan Keamanan Negara. Polisi rahasia SAVAK mempunyai peran untuk membendung setiap usaha dari oposisi untuk menjatuhkan shah. Dalam tindakannya, SAVAK tidak segan untuk melakukan tindakan kekerasan kepada para pengkritik shah.

Gerakan Perlawanan Khomeini

Pasca kejatuhan Dr. Moshadeq dan menguatnya kembali Shah Reza Pahlevi, Iran dalam hal kebijakan luar negerinya lebih pro-Amerika. Shah Reza Pahlevi menjadikan standar hidup yang modern dan konsumtif AS, Jepang dan Eropa sebagai pedoman bagi rakyat Iran. 

Oleh karena itu, ia melakukan impor secara besar-besaran kebudayaan modern melalui program pembangunan dan industrialisasi. Ternyata kebijakan semacam ini tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat Iran.

Adapun beberapa bentuk kebijakan kontroversi Shah Reza Pahlevi, seperti industrialisasi dan perusahaan minyak yang diambil alih oleh AS, pengiriman tenaga kerja asing dari AS ke Iran yang masif, dan penerapan reformasi lahan pertanian yang merugikan rakyat. Kebijakan tersebut menghasilkan kritik dari rakyat. Pengangguran menjadi banyak, kepemilikan tanah masih didominasi oleh kaum feudal dan pemerintah, dan rendahnya pendapatan tenaga kerja lokal dibanding asing.

Berkaca pada kondisi tersebut, Ayatollah Khomeini muncul sebagai pengkritik shah yang paling berani. Dari tempat pengasingannya di Neauphleu-le-Chateau, Perancis, ia membuat rekaman berisi orasi menentang rezim Pahlevi dengan media kaset. Kaset ini disebarkan ke seluruh Iran dengan tujuan agar rakyat sadar akan keadaan di Iran.

Mendapati hal ini, pers Iran pun menyebarkan secara luas semangat revolusi menentang rezim Pahlevi. Tentu tindakan ini menyebabkan beberapa kaum terpelajar, seperti mahasiswa, dosen, ulama-ulama syi’ah Iran bahkan dokter yang pro pemerintah pun mendukung dilakukannya revolusi. Golongan-golongan tersebut bersatu melakukan perlawanan ke jalan-jalan guna menjatuhkan rezim Pahlevi.

Perlawanan ini ditanggapi oleh polisi rahasia SAVAK dengan jalan kekerasan. Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai provokator demonstrasi pun ditangkap. Tak hanya menangkap, tapi juga membunuh para demonstran. Lebih parah lagi, polisi rahasia SAVAK juga membunuh pasien yang sakit karena perang. Akibat perang sipil ini banyak masyarakat Iran menjadi korban.

Tindakan yang dilakukan oleh polisi rahasia SAVAK memancing tindakan revolusioner dari berbagai pihak yang menuntut dijatuhkannya Shah Reza Pahlevi. Awalnya Shah Reza Pahlevi enggan meninggalkan jabatannya, namun desakan rakyat membuat ia berhenti dari jabatan shah dan pergi ke AS. Kesempatan ini langsung diambil oleh Ayatollah Khomeini dengan mendeklarasikan berdirinya Republik Islam Iran.

Dalam buku ini, Nasir Tamara mengajak pembaca seolah berada pada masa Revolusi Iran. Tipe penulisan jurnalisme sastrawi yang ditulisnya merangsang emosi pembaca sehingga melahirkan kebencian pada Shah Reza Pahlevi sebagai penjahat, sedangkan Ayatollah Khomeini sebagai pejuang. Perjuangan rakyat Iran yang tak mengenal kompromi perlu ditiru dalam melawan penguasa otoriter di masa mendatang.

Resensi Buku: Revolusi Iran

Pengarang: Nasir Tamara

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 399 halaman