Beberapa tahun ke belakang orang-orang yang masuk pesantren terkadang selalu dicap “kurang baik” oleh orang-orang. Maksudnya, dahulu orang yang masuk pesantren dianggap nakal di sekolahnya yang dulu, lalu dimasukan oleh orang tuanya ke pesantren agar jadi lebih baik. Padahal tidak sepenuhnya begitu.

Streotip seperti itu saat ini sudah tidak relevan lagi. Banyak sekarang anak-anak dari jenjang SD sampai SMA masuk ke pesantren dengan kemauan pribadi. Baik itu karena ingin menjadi penghafal Alquran atau menjadi penceramah seperti para dai favoritnya.

Ini tak luput dari branding dakwah para anak muda dan para dai yang ciamik sekali. Jika dahulu kita hanya melihat ceramah dari Televisi dari para dai-dai kondang, saat ini akses melihat ceramah sudah mudah didapatkan dari internet. Selain itu, jika dulu hanya para para dai yang dapat berceramah, saat ini hampir semua orang dapat berceramah, dari yang lulusan sekolah umum hingga orang yang lulusan pesantren.

Tentu ini merupakan kabar baik bahwa makin tahun semangat orang yang ingin berdakwah makin meningkat. Karena branding dakwah yang ciamik sekali dari semua kalangan, baik dari para dai atau anak muda. Ini membuat makin banyaknya anak-anak muda yang ingin masuk pesantren dan belajar agama secara mendalam.

Namun ada hal yang perlu diketahui bagi anak-anak muda yang semangat dalam berdakwah terutama dalam berceramah. Jangan sampai semangat dalam berceramah tidak diimbangi dengan ilmu agama yang mumpuni. Ini juga berlaku bagi para dai, tidak hanya bagi anak muda.

Terkadang kita sebagai anak muda semangat sekali dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sangat menggebu-gebu sekali. sampai-sampai ada hal nahi munkar di depan kita, ingin kita basmi.

Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian bagi kita. Karena jika kita berdakwah tanpa ilmu agama yang mumpuni bukankah ini akan berpotensi menyesatkan umat nantinya?

Banyak dari kita kalangan muda semangat sekali dalam berdakwah dengan berpegang kepada satu dalil “sebarkanlah dariku walau satu ayat.” Padahal jika kita melihat kehidupan para Sahabat Nabi saat masa lampau, para Sahabat Nabi tidak berani berpindah kepada ayat selanjutnya sebelum memahami betul ayat yang dihafal itu.

Berbeda sekali dengan kita, kita berlomba-lomba menghafalkan banyak ayat dari al-Qur’an namun belum tentu memahami semua ayat itu. Padahal level kita sangat jauh sekali dengan para Sahabat Nabi.

Dan terkadang ada fenomena lainnya seperti banyak para dai berani menjawab pertanyaan jama’ahnya yang sebetulnya ia tak tahu jawabannya. Jawabannya terkadang tidak nyambung dengan konteks pertanyaannya. Dan jika jama’ahnya masih bertanya lagi bakalan dicap seperti bani israil yang selalu banyak bertanya.

Padahal jika seorang dai tidak bisa menjawab pertanyaan dari jama’ahnya bukan merupakan suatu aib. Itu hal yang manusiawi.

Dikisahkan dulu imam Malik didatangi seseorang yang bertanya mengenai 48 masalah, lalu imam Malik mengaku tidak mengetahui dari 48 ia tidak mengetahui 32 masalah tersebut.

Si penanya pun protes, apa yang akan ia sampaikan nanti kepada jama’ahnya saat kembali jika imam Malik saja tidak tahu. Lalu imam Malik pun menjawab “katakana saja , Malik bin Anas berkata ‘aku tidak tahu’.

Sekelas imam Malik saja sang pengarang kitab muwatha’ dan pendiri mazhab Maliki saja tidak gengsi berkata tidak tahu, lalu apalagi dengan kita yang sudah jelas levelnya sangat berbeda jauh sekali dengan imam Malik.

Sangat berbeda jauh seperti sekarang, semua pertanyaan dapat terjawab. Terlepas itu benar apa salah belakangan, begitu mudahnya hanya tinggal klarifikasi.

Para ustad di pesantren saya dari saya masih SMA hingga menjadi mahasiswa pun mengajarkan hal demikian, jika tidak tahu jawabannya tak perlu malu untuk mengatakan tidak tahu. Bahkan ustad-ustad saya di sini pun jika saya menanyakan hal yang tak saya ketahui terlebih seputar persoalan agama, mereka tidak malu mengatakan tidak tahu jika memang hal itu benar-benar tidak diketahuinya.

olusinya para ustad di sini akan menanyakan jawabannya kepada gurunya lagi sehingga pertanyaan itu dapat terjawab di pertemuan selanjutnya. Dan biasanya menjadi bahan diskusi kami saat di kelas.

Maka dari itu saat mendengar bahwa fenomena orang yang ingin masuk pesantren semakin banyak itu merupakan sebuah kabar baik sekali. di saat banyak orang semangat dalam berceramah ternyata masih banyak juga orang-orang yang ingin masuk pesantren untuk belajar agama.

Bahkan di pesantren mahasiswa yang saya tinggali saat ini banyak dari teman-teman saya yang sudah kuliah dari S1 sampai S2 bahkan ada pula yang sudah berkeluarga masuk ke pesantren ini. Karena salah satu motivasi mereka semua termasuk saya masuk pesantren yakni ingin belajar agama, seminimalnya belajar hal-hal dasar dalam beragama.