Membaca semua berita tentang rencana dan manuver politik Pak Anies Baswedan, membuat saya membayangkan, apa jadinya Jakarta seandainya dipimpin oleh beliau.

Satu hari di Bulan September 2018, di salah satu Halte Busway Jakarta.

Di tengah antrean panjang Busway, perhatian saya tertuju pada layar TV yang disediakan, akhir-akhir ini berita ASEAN Games terus membombardir media massa, tapi saat itu di layar kaca, saya melihat sosok Pak Anies Baswedan dengan seragam PNS sedang diwawancara, tidak soal ASEAN Games, namun soal Pilpres 2019.

Bulan Oktober 2017, Anies Baswedan dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta 2017-2023, memang setahun berselang setelah pilkada kontroversial tersebut orang sudah tidak lagi membahas. Kubu Pak Ahok-Djarot sudah move on, para relawan dan simpatisan juga sudah tidak lagi memusingkan, mereka menyayangkan tapi “ya sudahlah”.

Kolom media politik, sudah berganti dengan prediksi pemilihan presiden, tidak lagi membahas penistaan agama, karena Pak Ahok sudah dinyatakan bebas dan tidak bersalah. Seperti yang diramalkan, banyak pihak mulai mewacanakan Pak Anies untuk maju mencalonkan diri menjadi Presiden Republik Indonesia, menantang sang petahana Pak Jokowi.

Ditanya oleh wartawan, Pak Anies menjawab, “Seandainya rakyat Indonesia memanggil, saya siap kembali merajut tenun kebangsaan tapi saya tidak mau memikirkan itu, saya fokus mempersatukan rakyat Jakarta.” Tapi, survei menunjukkan bahwa Pak Anies adalah calon terkuat untuk bersaing dengan Pak Jokowi. Pak Anies dengan cepat menampik, “Pemilihan itu bukan cuma soal data, tapi juga soal rasa.”

Melihat jawaban Pak Anies, orang dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa beliau “malu-malu mau”, mungkin sekarang sedang menunggu pinangan dari partai. Walau tidak lagi memerlukan presidential threshold, dukungan partai tetap sangatlah vital untuk bisa lancar bertarung di Pilpres 2019.Pertanyaannya, partai manakah yang berminat? PDIP sudah dengan Jokowi, Perindo dengan Harry Tanoe, Partai Idaman sudah mantap dengan Bang Roma.

Tersisa Demokrat, apakah mereka akan mencalonkan AHY? Bagaimana dengan duo mesra Gerindra-PKS? Apakah Prabowo masih berminat terjun atau takut kalah dua kali oleh Jokowi? Atau Prabowo meminang Anies untuk jadi calon wakilnya? Semua belum pasti, tahun 2019 akan terlihat dengan jelas peta politiknya. Sebagai masyarakat biasa, saya cuma berharap drama politik ini tidak membuat bikin susah rakyat.

Dari sejarah Pak Anies yang pernah ikut konvensi pemilihan calon presiden di Partai Demokrat, jelas Pak Anies memiliki hasrat untuk menjadi Presiden. Menjadi Gubernur DKI Jakarta, sepertinya cuma menjadi batu loncatan, sebelumnya beliau tidak pernah menunjukkan minat mengurus orang, atau membahas sesuatu di luar dari expertise-nya, dunia pendidikan.Keahlian beliau adalah membuat wacana, tapi eksekusi sering tidak berjalan.

Banyak program-program terdahulu  menjaditersendat, Pak Anies seperti tidak tahu apa yang sedang dia hadapi. Ibukota yang dulu sempat mengeliat bangun dari tidur panjangnya, sekarang sepertinya dipaksa untuk kembali terlelap.

“Jangan dorong-dorong, Pak!” teriak seorang Ibu yang ikut mengantri dengan tidak nyaman, sambil membekap tas-nya di dada.Entah siapa yang dia teriaki, karena halte ini penuh sesak. Makinsore kondisi halte busway ini semakin tidak nyaman, bau keringat orang pulang kerja bercampur dengan bau asap kendaraan yang masuk di halte. Antrean memang tidak sepanjang biasanya, karena banyak yang ‘menyerah’ dengan transjakarta dan kembali memilih angkutan kota.

Pak Anies menepati janjinya, dia mengalihkan subsidi Transjakarta ke angkot, akhirnya Jakarta semakin penuh dengan angkot yang ugal-ugalan. Jakarta menjadi mirip dengan kota Bogor, kota yang menurut Waze dua tahun lalu adalah kota nomor dua dengan lalu lintas terkacau di seluruh dunia.

Saya melirik jam tangan, sudah 45 menit menunggu, jumlah bis yang mencapai ribuan yang pernah dibeli Pak Ahok seperti tidak memberi pengaruh sekarang. Bis tidak bisa lewat dengan jalur yang dipenuhi oleh angkutan kota. Jakarta semakin macet,walau orang kaya sudah susah membeli mobil mahal, karena kebijakan Pak Sandi, tapi tetap saja orang akan membeli ‘mobil tidak mewah’, sama sekali bukan solusi yang jitu, dan harusnya ditelaah terlebih dahulu.

Di lain sisi, MRT, LRT dan ERP tidak kunjung rampung, menurut berita, anggaran sedang disesuaikan di meja DPRD, sehingga waktu penyelesaian pun menjadi molor. Di periode ini, sudah tidak lagi berita ribut-ribut antara DPRD dan Pemprov DKI, mereka terlihat sangat mesra.Saya merindukan gubernur yang ‘tidak santun’ itu.

Bosan menunggu, dua orang pemuda yang memakai seragam SMA mencoba menyalakan rokok di tengah kesumpekan. Seperti paduan suara, semua orang kompak memaki, termasuk saya, suasana panas sepertinya memang membuat jadi lebih mudah emosi.

Mendengar penolakan orang-orang, kedua pemuda tersebut langsung membuang rokok mereka yang baru terbakar di ujungnya. “Tenang, nanti beli lagi.” Kata salah satu dari mereka sambil tersenyum mencoba menghibur temannya. “Kan ada KJP plus. Bisa ambil tunai.”

Mendengarnya sudah bikin mual, uang jerih payah kita yang diambil pemerintah, malah diberikan ke mereka dengan percuma untuk merokok. Saya hanya bisa mengumpat dalam hati. Memang tidak diawasi? Tapi bagaimana juga pengawasannya? Mustahil.

Pak Sandi sendiri tidak tahu caranya, hanya bilang akan memantau, tapi memantau seperti apa? Membuat mini-drone yang menguntili setiap penerima KJP? Kebijakan yang aneh.

Namun setidaknya, sekarang saya punya rumah sendiri, kebijakkan Pak Anies DP 0%, atau DP 0 Rupiah, saya lupa namanya karena dulu berubah melulu, pokoknya program yang menjadi andalan Pak Anies,sangat membantu saya untuk mewujudkan mimpi saya untuk punya rumah.

Selama bertahun-tahun hanya sanggup ngekost, setidaknya sekarang saya sudah bangga memiliki rumah pribadi, rumah rusun pribadi lebih tepatnya, hmmm, rumah rusun sederhana pribadi yang paling tepat.Walau lokasinya lumayan jauh tapi setidaknya itu sudah menjadi milik saya.

Handphone saya bergetar, pesan masuk, dari Dinas Perumahan DKI Jakarta.Membaca isi pesannya seperti memutar isi perut saya, mendadak kebanggaan memiliki rumah menjadi sirna. “Tagihan pertama cicilan Rumah Susun Sederhana Pribadi sebesar Rp 2,350,000, sudah bisa dibayarkan melalui ATM Bank DKI.”

Saya mengkakulasi dengan cepat di otak saya, apakah gaji saya sanggup membuat saya bertahan hidup? Apakah setiap bulan harus seperti ini sampai dua puluh tahun? Sepertinya saya tidak akansanggup untuk bulan ini, terpaksa pinjam duit Bapak dulu.

Saya mengetik pesan untuk pinjam duit ke Bapak, semoga dikasih.Kenapa jadi memberatkan begini? Pak Anies dulu dengan heroik berkata program ini adalah wujud keberpihakan kepada rakyat, sekarang yang saya rasakan masalah seperti jebakan-betmen.

Si Bapak menjawab pesan, “Bapak ga ada duit, dipakai jalan-jalan ke Eropa. Bapak nggak mau kalah sama Pak RW yang sudah tiga kali jalan-jalan Jepang, soalnya dia kemarin dapat 3 miliar dari Pak Anies.” 

“Bapak dapat duit darimana kok bisa jalan-jalan keluar negeri?” balas saya penasaran, si Bapak punya kelontong, memang sudah lama dan omsetnya lumayan, tapi untuk ke Eropa mana cukup.Lagian ke Eropa kok nggak pernah ngajak-ngajak anaknya sendiri.

“Dari program OKE OCE! Bapak dapat modal usaha 300 juta buat buka cabang toko kelontong.”

“Jadi bapak sudah buka toko baru?”

“Ya belumlah, kan 300 juta-nya belum cair, masih harus urus surat-surat di kelurahan. Katanya sih cuma bisa dapat 50 juta, karena dipotong ini-itu, Bapak tidak ngerti.”

“Loh! Terus bapak ke luar negeri pakai duit apa?”

“Pinjam tetangga dulu.”

Kepala jadi pening rasanya. Saya mengurut kening yang sudah semakin hangat. Handphone saya masukan ke saku, tidak tahu harus membalas apa ke Bapak. Tidak hanya berurusan dengan cicilan rumah, tapi juga harus memikirkan utang si Bapak.

“Permisi. Permisi.” Saya memutuskan untuk keluar dari halte ini, mencari udara segar. Sepertinya tidak mungkin membelah orang-orang yang berdesakan di belakang, saya terpaksa nekat melompat keluar melalui akses penyambung bis dan halte.

Jalanan yang macet memudahkan saya ke sebrang, beberapa kali saya harus berhati-hati dengan banyak lubang di jalan.Banjir beberapa bulan lalu meninggalkan ‘bekas luka’ di jalanan Jakarta, sampai sekarang belum dibenahi. Meniru sang guru Pak Aher, Pak Anies ingin perbaikan jalan melalui sistem tender, jadi akan memakan waktu berbulan-bulan.

Pak Anies sepertinya menjadi murid yang baik dalam mengikuti langkah gurunya, kemarin ketika banjir, Pak Anies menyarankan untuk rakyat Jakarta berdoa supaya curah hujan tidak tinggi, mirip seperti Pak Aher.

Berbeda dengan dulu, kali ini Pak Anies mampu membawa pemprov DKI mendapat predikat WTP dari BPK dan sampai bulan September ini serapan APBD sudah mencapai 90 persen lebih. Tapi ironisnya, sungai dan kali di Jakarta kembali ditutupi oleh sampah, melihatnya Pak Anies hanya menggeleng kepala, “Warga Jakarta harus bertobat, jangan buang sampah ke sungai.” sekali lagi Pak Anies meneladani gurunya.

Pasukan orange, PPSU, sudah semakin berkurang, katanya anggaran sudah dialokasikan ke program Tiga Miliar tiap RW dan OKE OCE, jadi pemprov tidak sanggup lagi untuk membayar gaji PPSU.

Hari semakin gelap, macet pun tak kunjung selesai. Saya berjalan menyusuri trotoar, sesekali harus minggir ketika ada motor yang naik ke atas trotoar. Merasa “terusir” dari trotoar, saya mampir ke taman untuk istirahat sejenak. Tempat ini dulunya RPTRA tapi sekarang sepertinya tidak lagi ramah anak, lebih banyak pemuda berseragam ormas nongkrong di sini. Mereka sering sekali melakukan tindakan premanisme dan main hakim sendiri dengan alasan sweeping pasangan yang mesum di taman.

Pandji, jubir kampanye Anies-Sandi, dulu sesumbar bahwa Pak Anies adalah sosok yang sanggup menyatukan Jakarta.Nyatanya tingkat intoleransi di Jakarta meningkat, sekali lagi, Pak Anies meniru ‘prestasi’ Pak Aher. Karena ingin membahagiakan semua orang, Pak Anies seperti membiarkan yang mayoritas menekan yang minoritas. Tidak ada ketegasan dari Pak Anies, hanya niatan menyatukan Jakarta.

Aneh, pikir saya, tidak semua orang di Jakarta ini berniat baik dan memiliki motivasi yang baik. Menyenangkan mereka dan semua orang yang memiliki konflik kepentingan, adalah tindakan menjaring angin, alias sia-sia.

Pusing memikirkan Jakarta sekarang, saya mengambil botol air minum dari dalam tas lalu menegaknya. Saya mengistirahatkan punggung yang lelah dengan bersandar di tembok yang dulunya bersih sekarang penuh coretan “S.O.T.R”.

By the way, ke mana Pandji sekarang? Dia kembali sibuk tur dunia, dia mungkin tidak mau pusing urusan masyarakat kecil, apa yang dia lakukan dulu terlihat seakan mencari panggung untuk menunjukkan bahwa dia adalah orang hebat, dan ingin diakui sebagai orang hebat. Seperti dia bangga membawa Faisal Basri mendapat 5 persen, demikian dia bangga membawa Anies Baswedan mendapat 50 persen lebih. Bagaimana kondisi Jakarta setelahnya?

Dia tidak ambil pusing, yang penting dia sudah menepuk dada dan berkata “Nasioal-is-ME”, mungkin sekaligus kode setelah ini dia akan kembali menjadi jubir Pak Anies di Pilpres 2019, skala nasional!Who knows.

Handphone bergetar, Bapak menelepon.

“Ya Pak?”

“Besok temenin Bapak ke kantor gubernur yah. Bapak mau lapor ke Pak Anies masalah duit yang belum cair-cair dari kelurahan”

“Yakin? Bapak bukannya suka mabuk laut kalo naik kapal?”

“Loh kan ke Balai Kota bukan ke Lampung!  Masa naik kapal?”

“Pak Anies kan sekarang kantornya di Kepulauan Seribu, Pak.”

“EALAH! BIKIN SUSAH AJA!” teriak si Bapak.