Sebuah surat elektronik masuk dari kolega saya menanyakan tentang draf kontrak bisnis yang akan segera ditandatanganinya. Katanya, “Kalau sudah oke, mohon segera dikirimkan”.

Dalam menjalankan usahanya, teman saya ini sangat bergantung dengan dokumen di atas kertas yang bernama perjanjian itu. Fungsinya adalah untuk mengatur hak dan kewajiban para pihak yang terlibat dalam usaha yang mereka jalankan.

Perjanjian sebetulnya bisa saja kalau hanya dilakukan secara lisan atau juga dituangkan di dalam dokumen elektronik. Namun, agar lebih mempunyai kekuatan hukum mengikat baiknya memang harus dituangkan di atas kertas lalu kemudian ditandatangani oleh para pihak sebagai bukti pengesahan atas kesepakatan yang dicapai. Manfaatnya adalah memberikan informasi yang jelas tentang hak dan kewajiban para pihak dan juga tentunya menjamin kepastian di antara mereka.

Begitu juga dalam hubungan percintaan antara dua insan, kertas sangat berperan dalam menjamin sebuah kepastian. Sebaiknya, tidak usah mau menjalin hubungan serius dengan seseorang kalau belum ada hitam di atas putih yang tertuang di atas kertas bernama buku nikah. Bukan kenapa-kenapa, ini semua demi kepastian.

Dengan buku nikah, status hukum seorang lelaki dan perempuan barulah sah dikatakan sebagai suami ataupun istri di mata hukum. Anda bisa saja berpacaran atau bahkan menikah secara siri, tapi untuk kata yang bernama kepastian, baiknya tidak usahlah terlalu berharap banyak.

Sang kertas mempunyai banyak andil untuk mewujudkan sebuah kata bernama kepastian di setiap lini kehidupan dan peradaban umat manusia. Setelah melakukan pengamatan yang sedikit mendalam, akhirnya saya mencoba mengidentifikasi apa saja andil sang kertas dalam mewujudkan kepastian itu. Berikut selusin andilnya:

1. Mendirikan Negara

Pertama saja sudah besar sekali andilnya. Tidak main-main, mendirikan sebuah negara. Negara berdiri tak cukup hanya dengan diproklamirkan kepada penduduknya dan seluruh penjuru dunia. Toh, naskah proklamaisinya Bung Karno dan Hatta kita bisa baca sampai sekarang berkat tulisan yang tertera di atas kertas.

Selain itu, negara juga butuh yang namanya konstitusi. UUD 1945 kita pun kemudian mengalami beberapa kali amandemen, bahkan sejauh ini sudah sampai empat kali. Gunanya apa? Lagi-lagi demi kepastian. Kepastian bentuk dan jenis negara, tugas dan fungsi Pemerintah beserta hak dan kewenangannya, dan yang tidak kalah pentingnya konstitusi juga menjamin hak-hak warga negaranya. Itu semua tertuang di atas kertas.

2. Mengakhiri Perang

Setelah bom atom meletus di Hiroshima dan Nagasaki, akhirnya Kaisar Jepang bernama Hirohito menyatakan menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945. Kemudian pada tanggal 2 September 1945 barulah Mamoru Shigemitsu sang menterinya menandatangani dokumen penyerahan dirinya Jepang secara resmi. Dokumen penyerahan diri ini sekaligus penanda berakhirnya perang Dunia ke-2.

Jauh sebelum itu pada tahun 1648 hal serupa juga pernah terjadi. Mari kita lihat andilnya dalam mengakhiri perang keagamaan menahun yang terjadi di Kekaisaran Suci Roma beserta aliansinya dengan kerajaan-kerajaan jirannya seperti Wangsa Habsburg, Kerajaan Spanyol, Kerajaan Perancis, Kekaisaran Swedia, Republik Belanda, dan kerajaan kecil lainnya yang dikenal dengan Perjanjian Westphalia (Peace of Westphalia).

Entah apa jadinya kalau kemudian perjanjian itu tidak dituliskan di atas kertas. Mungkin bisa saja salah satu pihak mengkhianati dan kemudian perang pun kembali terjadi.

3. Kitab suci agama-agama

Beragam kitab suci yang bisa kita nikmati sekarang ini, seperti Al-quran, Al-Kitab (Perjanjian baru dan lama), Weda, Tipitaka dan kitab suci agama lainnya, semuanya dituliskan di atas kertas. Walaupun dulu manuskripnya tersebar di berbagai media seperti kulit hewan, kulit kayu, pelepah pohon, dan media lainnya, tapi sekarang semua dituliskan di atas kertas.

Berkat para pemuka agama terdahulu yang telah mencurahkan seluruh waktu dan kemampuannya mengumpulkan semua manuskrip itu, kita sekarang bisa menikmatinya di atas kertas dan merasakan kepastian bahwa yang kita baca sama dengan manuskrip aslinya. Lagi-lagi, mereka berjuang dengan kertas untuk sebuah kata bernama kepastian untuk para pengikutnya di masa depan.

4. Dokumen kekeluargaan

Seperti yang dituliskan di atas, untuk memberikan kepastian hubungan dua insan, sang kertas mempunyai andil yang cukup besar dalam mewujudkan kepastian. Begitu juga pada berbagai peristiwa di dalam hubungan kekeluargaan, ia juga punya andil yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebut saja kartu keluarga untuk daftar seluruh anggota keluarga mulai dari kakek sampai anak yang paling bungsu, buku nikah untuk pasangan baru menikah, akta kelahiran untuk anak yang baru lahir, akta cerai untuk pasangan yang memutuskan berpisah, akta pengangkatan anak untuk anak yang baru diadopsi, bahkan kematian anggota keluarga pun dibekali dengan dokumen di atas kertas bernama akta kematian.

5. Bukti Kompetensi

Seseorang dapat diakui sebagai seorang sarjana dibuktikan dengan dokumen yang bernama ijasah. Berbagai profesi juga menetapkan berbagai ujian kompetensi untuk para anggotanya. Setelah lulus, barulah mereka berhak dianggap berkompeten di bidangnya.

Bukti kompetensi yang paling sederhana adalah surat izin mengemudi (SIM) yang baru bisa diperoleh setelah lulus tes mengemudi. Sekarang  SIM memang berupa kartu plastik tapi dulu berbahan dasar kertas.

Tak ketinggalan juga dalam dunia industri, sebuah perusahaan kalau mau memasukkan barangnya ke dalam dunia ritel, mereka haruslah memiliki kompetensi dan standar-standar tertentu. Seperti ISO, SNI, atau pun yang lainnya. Sehingga kemudian para konsumen dapat merasa aman dan mendapatkan kepastian dalam menggunakan produknya.

Begitu juga bagi perusahaan yang mau masuk lantai bursa (IPO) mereka haruslah memenuhi berbagai kriterian dan penilaian-penilaian dari tim khusus guna menjamin kepastian dan kelayakannya melantai di bursa, agar masyarakat terjamin dan mendapatkan kepastian.

6. Nilai tukar

Saat ini berbagai transaksi bisa dilakukan dengan tanpa kertas. Bentuk aslinya nominal itu tetaplah kertas (katanya sih standarnya emas, tapi kok ragu ya). Sekarang ia dengan mudah dipindah tangankan kepada yang lain hanya dengan sentuhan jari pada layar atau key board gawai. Kertas sebagai nilai tukar ini juga berlaku untuk surat-surat berharga.

Surat berharga seperti surat pengakuan utang, wesel, saham, obligasi, sekuritas kredit atau setiap derivatifnya, kepentingan lain, atau suatu kewajiban dari penerbit dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang juga merupakan kertas yang mempunyai nilai tukar. Mereka semua punya nilai yang bisa ditukarkan dan menjamin kepastian.

7. Bukti kepemilikan

Agar suatu benda bergerak ataupun tidak bergerak dapat dipastikan siapa pemiliknya, kita bisa melihatnya pada dokumen kepemilikannya. Hal ini lazim kita jumpai pada kendaraan bermotor, kapal ataupun pesawat, tanah ataupun bangunan, kepemilikan saham, atau pun izin usaha.

8. Pendirian badan usaha maupun organisasi

Dalam mendirikan badan usaha ataupun berbagai organisasi lainnya semuanya dipastikan dengan dokumen tertulis di atas kertas. Agar resmi, dokumen-dokumen tersebut kemudian disahkan oleh notaris lalu kemudian didaftarkan kepada negara.

Biasanya badan usaha ataupun organisasi itu pastilah juga membutuhkan dokumen bernama anggaran dasar. Hampir mirip dengan pendirian negara, dokumen anggaran dasar itu juga mengatur maksud dan tujuan pendirian hingga hak-hak dan kewajiban para anggotanya guna kelancaran jalannya organisasi.

9. Perjanjian-perjanjian

Hampir semua aturan hukum di suatu negara bentuknya adalah perjanjian. Perjanjian antara anggota perlemen sebagai perwakilan rakyat dengan pemerintah.

Tidak hanya itu, hukum internasional pun dibuat dengan bentuk perjanjian. Dalam melakukan transaksi atau apa pun yang berkaitan dengan hak dan kewajiban, juga biasanya dituangkan di atas perjanjian. Hal ini juga berlaku dalam melakukan kerjasama dengan partner atau pun perorangan. Tidak ketinggalan juga, sang pemberi kerja maupun yang diberi kerja memerlukan yang namanya perjanjian hak mereka masing-masing.

10. Ilmu pengetahuan

Entah apa jadinya kalau ilmu pengetahuan tanpa andil sang kertas. Mungkin sekarang kita bisa menikmati membaca bahan ajar dengan gawai dengan mudah, tapi dulunya semua informasi itu dituliskan di atas kertas. Sekarang kita berdiskusi dengan mengutip pendapat-pendapatnya Plato dari bukunya berjudul Republik (Politeia) yang ditulis pada tahun 360 SM. Kita bisa menikmatinya karena andilnya sang kertas.

Sekarang juga banyak lembaga pendidikan yang sudah menerapkan paper less untuk tugas-tugas peserta didiknya dan berbagai aktifitas akademik lainnya. Berbagai tugas kuliah bisa ditunaikan hanya dengan mengirimkan surat elektronik atau dikirimkan melalui media pengiriman lainnya.

Di kampus tempat saya belajar dulu juga sering dijumpai tagline bertuliskan “Save paper, save trees, save the world”, tapi sayangnya tagline tersebut juga dijumpai tertempel di atas kertas. Walaupun sudah serba digital, tapi percayalah untuk skripsi kamu masih tetap butuh kertas.

11. Administrasi dan surat-menyurat

Administrasi di negara atau organisasi apapun memerlukan yang namanya kertas. Hampir surat-menyurat yang berhubungan dengan negara juga perlu ditulis dengan surat di atas kertas. Salah satu gunanya adalah demi kepastian.

Dulu juga orang bisa dikatakan berpacaran dengan seseorang kalau sudah saling berbalas surat cinta. Itu menandakan kepastian hati yang berbalas. Tapi sekarang untuk urusan surat cinta sudah tergantikan dengan berbagai produk digital. Lebih mudah dan murah.

12. Penegakan Hukum

Dalam dunia penegakan hukum, surat sudah pasti sangat berperan penting. Berbagai dokumen seperti surat penangkapan atau penahanan, surat dakwaan, surat gugatan, putusan pengadilan, dan dokumen lainnya. Bahkan undang-undang pun dibuat diatas kertas. Salah satu alat bukti yang dipakai dalam persidangan di Indonesia adalah bukti yang berbentuk surat. Begitulah Undang-undang mengaturnya.

Berbagai produk hukum mulai dari peraturan perundang-undangan sampai putusan pengadilan, semuanya dituangkan di atas kertas. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah demi kepastian hukum.

Tampaknya andil sang kertas dalam mewujudkan kepastian masihlah belum akan segera berakhir. Walaupun berbagai produk teknologi perlahan menggantikannya, tapi sistem pendidikan dan hukum kita maupun dunia masih menjadikannya sebagai alat untuk menjaga kepastian.