Belakangan ini beredar secara intens klip video almarhum Nicolaas Jouwe (NJ). Tokoh pro-kemerdekaan Papua yang meninggal tahun 2017 ini, di tahun-tahun terakhir hidupnya, bergabung dengan pemerintah RI setelah selama hampir 50 tahun hidup di pengasingan di Belanda.

Intensnya peredaran video yang diunggah ke YouTube tahun 2014 itu (terutama di media sosial) tidak dapat dipisahkan dari kian gencarnya aksi-aksi menyuarakan aspirasi peninjauan ulang sejarah integrasi Papua ke dalam NKRI. Video NJ tampaknya dipakai sebagai argumentasi untuk menunjukkan bahwa aspirasi merdeka itu sudah tak lagi relevan. Sebab salah seorang pencetusnya, yakni NJ, telah 'kembali' ke pangkuan RI.

Tulisan ini tidak membahas argumentasi yang dikemukakan NJ, tetapi lebih kepada meninjau kembali apa yang membuat tokoh yang pernah menjadi Wakil Presiden New Guinea Raad (semacam parlemen dan badan persiapan kemerdekaan Papua di zaman Belanda) dapat berubah haluan. 

Mengapa tokoh yang dikenal pencipta desain bendera Bintang Kejora ini dapat berbalik sedemikian rupa dari perjuangannya yang telah menginspirasi banyak generasi muda Papua. Bagaimana momen-momen ketika ia memutuskannya dan bagaimana upaya diplomasi Indonesia membujuknya.

Catatan saya berikut ini didasarkan terutama pada dua tulisan. Pertama, karya Carl Mureau yang terbit pada 2 Oktober 2017 di deVerdieping Trouw, sebuah media berbahasa Belanda. Carl Mureau memberi judul tulisannya, Nicolas Jouwe (1923-2017) streed voor een vrij Papoea. Ini merupakan obituari untuk NJ.

Kedua, tulisan karya peneliti LIPI, Muridan Widjojo, di blog pribadinya berjudul Dua Jam Bersama Nicolaas Jouwe. Tulisan tersebut diterbitkan pada 5 Desember 2009. Muridan menulis pandangan personalnya tentang NJ yang ia kenal secara dekat.

Makan Malam di Den Haag

Pada akhir tahun 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengirim delegasi khusus yang terdiri dari empat orang Papua untuk 'mendekati' NJ, yang kala itu bermukim di Delft, Belanda. Pendekatan personal kepada pentolan-pentolan pro-kemerdekaan Papua tampaknya dipandang sebagai cara yang efektif untuk meredam aspirasi memisahkan diri dari Indonesia.

Carl Mureau tidak menyebut nama empat orang delegasi khusus itu. Tetapi misi diplomatik ini tampaknya dijalankan secara serius. Tim ini kemudian tinggal di sebuah hotel di Delft. Dari sana mereka melakukan kunjungan-kunjungan silaturahim secara intensif ke rumah NJ di kawasan Poptahof.

Selama tiga bulan mereka begitu: datang menemui NJ di rumahnya dan mengajaknya bercakap-cakap. Setiap kunjungan mereka menghabiskan berjam-jam. 

Nyatanya, pendirian NJ masih teguh. Tim itu belum berhasil menaklukkan hati NJ.

Menurut Carl Mureau, baru setelah sebuah jamuan makan malam yang diadakan Dubes RI untuk Belanda saat itu, Junus Habibie, hati NJ luluh. Malam itu di Hotel des Indes, Den Haag, keduanya menemukan banyak kesamaan. Mereka berbagi kegemaran akan lagu-lagu Maluku.

"Di penghujung malam mereka bernyanyi bersama," tulis Mureau.

Lalu kepada NJ ditawarkan undangan Presiden SBY untuk mengunjung Papua. Ini tentu sebuah rayuan yang berat. Sebab, setahun sebelumnya, sebuah film dokumenter tentang NJ ditayangkan di televisi. Dan di film tersebut NJ mengatakan ia tidak akan kembali ke Papua selama Indonesia masih mendudukinya.

Di sisi lain, secara manusiawi, ini adalah tawaran yang menarik bagi sosok NJ, yang kala itu, menurut Muridan Widjojo, tinggal di sebuah pemukiman tua dan sederhana yang sebentar lagi akan diruntuhkan. Usia NJ sudah 84 tahun dan tak lama lagi harus masuk rumah jompo. Istri (kedua)-nya yang juga seusia dengannya, tengah sakit dan mereka telah bercerai.

NJ mempertimbangkan tawaran SBY. Dia juga merundingkannya dengan keluarganya. 

Muridan Widjojo mengatakan, pada awal 2009, ia ditelepon oleh Nancy, anak perempuan Jouwe, meminta pendapat tentang undangan Presiden SBY. Muridan menyarankan agar tawaran itu direspons secara positif. Sebab itu berarti adanya perubahan pada kebijakan politik SBY atas Papua, yang lebih responsif.

NJ kemudian menerima undangan SBY. Pada 17 Maret 2009, NJ, dengan ditemani oleh dua anaknya, Nancy dan Nico, mendarat di Jayapura.

"Ini menandai kepulangan Jouwe setelah hampir 50 tahun meninggalkan kampung halamannya. Dia mencium tanah beraspal bandara udara Sentani sebagai tanda sujud syukur. Nicolaas tua terharu karena rindunya pada kampung halamannya terobati. Sementara itu, sejumlah pemuda dan mahasiswa berdemonstrasi menentang kepulangan Jouwe dan menganggap Jouwe sebagai pengkhianat," tulis Muridan Widjojo.

Sebetulnya NJ belum memutuskan untuk menghentikan perjuangannya bagi kemerdekaan Papua dengan kepulangannya pertama kali itu. Awalnya ia hanya berniat untuk membuka dialog dengan SBY.

Menurut Mureau, dalam sebuah film dokumenter yang mengabadikan kepulangan NJ, Land zonder Koning (Tanah Air tanpa Raja) yang dibuat oleh Babette Niemel, tampak bagaimana tokoh tua itu masih memainkan peran diplomasi yang baik di tengah banyaknya permainan politik yang kacau dalam kepulangannya. 

Perempuan-perempuan di tanah kelahirannya menyambutnya, memeluknya sambil menangis. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Papua, 'Hai Tanahku Papua'. Belum ada sinyal bahwa ia akan berubah haluan.

Baru setelah dua kunjungan berikutnya NJ benar-benar memutuskan untuk kembali ke Indonesia secara definitif dan menghentikan perjuangannya untuk kemerdekaan Papua. "Banyak orang Papua, juga di sini di Belanda, tidak menerimanya. Mereka melihat itu sebagai pengkhianatan," tulis Mureau.

Dalam kunjungan pertamanya, ia bertemu dengan Presiden SBY. Selama di Jakarta, ia dan keluarga menginap di Hotel Nikko (kini Hotel Pullman), sebuah hotel berbintang lima di kawasan Thamrin yang mentereng. 

Setelah itu, dalam kunjungan-kunjungan berikutnya, NJ tampaknya semakin luluh. Dia dikatakan mengagumi Presiden SBY. NJ juga hadir pada pelantikan SBY sebagai presiden untuk kedua kalinya pada bulan Oktober 2009.

Pemerintah RI tampaknya telah menawarkan masa tua yang lebih menjanjikan bagi NJ ketimbang rumah jompo di Belanda. Satu unit rumah disediakan untuknya di Dok V Angkasa Jayapura (Meskipun di akhir hayatnya ia lebih banyak tinggal di Jakarta, di sebuah rumah yang juga disediakan oleh pemerintah). Posisi penasihat menteri untuk urusan Papua juga menantinya.

Pada 28 November 2009, NJ memastikan diri kembali ke pangkuan NKRI. Sebuah pesta perpisahan diadakan di Wisma Duta Wassenar, sekaligus merayakan hari ulang tahunnya yang ke 86. Menurut laporan Antara, acara itu dihadiri oleh "sekurangnya 100 tamu undangan termasuk pejabat Kementerian Luar Negeri Belanda."

"Pemerintah RI dalam hal ini sepenuhnya membantu kelancaran kepulangan Bapak Nicolaas Jouwe termasuk para keluarganya," kata Dubes Habibie.

NJ meninggalkan Belanda untuk selamanya pada pekan pertama Desember 2009.

Lelah di Usia Senja

NJ lahir pada 23 November 1924 di Pulau Kayu, sebuah pulau kecil di lepas pantai Jayapura. Ayahnya adalah seorang tokoh di masa kejayaan Belanda di Papua.

Ia tumbuh sebagai anak pintar dan menikmati pendidikan yang baik. Ia melesat menjadi salah satu tokoh elite pemerintahan Papua. Ketika diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 1949, yaitu perundingan antara pemerintah Indonesia dan Belanda, NJ termasuk salah seorang delegasi dari pihak Belanda.

Pada 1961, Belanda membentuk New Guinea Raad, semacam parlemen Papua. Ia terpilih sebagai wakil presidennya. Jabatan itu menempatkannya sebagai orang Papua nomor satu di koloni Belanda itu. Belanda menjanjikan kemerdekaan Papua dan New Guinea Raad dibentuk untuk mempersiapkannya.

Namun, keadaan berubah setelah Perjanjian New York mengharuskan Belanda menyerahkan pemerintahan Papua kepada UNTEA pada bulan Oktober 1962. NJ melihat tidak ada lagi masa depan untuk tetap tinggal di Papua.

Enam bulan kemudian, NJ menuju Delft, Belanda. Selain karena merasa keamanannya terancam, ia menilai perjuangan untuk kemerdekaan Papua lebih bebas ia jalankan di luar negeri.

Di Delft, NJ kemudian menjalankan perannya sebagai diplomat bagi kemerdekaan Papua. Ia masih mendapat gaji dari pemerintah Belanda, kendati ia tidak perlu bekerja. Kegiatannya fokus pada upaya mempromosikan aspirasi merdeka Papua lewat lobi di dalam maupun di luar Belanda.

Di Delft, ia tinggal di sebuah rumah bertingkat, tempat ia menerima tamu-tamunya dan menulis surat-surat yang ia kirimkan ke seluruh dunia. Di sana pula ia tinggal bersama istri kedua dan tiga dari lima anaknya.

Mureau menggambarkan NJ sebagai seseorang yang memiliki humor, dan dengan pesonanya, memenangkan orang untuk dirinya sendiri. Dia adalah seorang optimis, yang selalu terus melihat titik terang.

“Ia tidak pernah menjadi pahit sesulit apa pun keadaan....Apa yang sesungguhnya membuat NJ tetap tegak adalah kepercayaan yang teguh pada Tuhan, karena ‘Yang Abadi tidak akan meninggalkan pekerjaan yang dimulai oleh tanganNya.’ Dia percaya pada keadilan,” tulis Mureau.

Belanda menjanjikan kemerdekaan. Tetapi janji itu tak pernah ditepati. Banyak orang Papua merasa dikhianati. Demikian pula NJ. Ditambah pula dengan perpecahannya dengan Markus Kaisiepo, tokoh OPM lainnya yang juga tinggal di Delft, menyebabkan mereka, dalam kata-kata Mureau, “tidak pernah berhasil membangun organisasi yang kuat.”

Kekecewaan terhadap Belanda tampaknya menyelimuti pikirannya di masa tuanya. Hal itu tampak dalam buku karyanya, sebuah semi otobiografi berjudul Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran dan Keinginan yang ditulis setelah ia berubah haluan.

Dalam buku ini, dia mengatakan bahwa keputusannya untuk pergi ke Belanda sangat disesalinya. Ia juga menuduh banyak kepentingan asing bermain dalam isu Papua, termasuk kepentingan Belanda sendiri. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah Belanda pernah mengatakan kepadanya bahwa Hindia Timur (Indonesia) adalah satu-satunya sumber bahan mentah bagi negara mereka dan inilah alasan mengapa mereka tidak ingin melepas Papua kepada Indonesia.

Setelah hampir setengah abad berjuang, NJ tampaknya mulai lelah. Dalam wawancara dengan Muridan menjelang kepulangannya ke Papua, NJ mengatakan sejak 1960-an ia berjuang agar hak-hak orang Papua untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa yang merdeka dihormati.

Namun, setelah 2/3 negara anggota dalam Sidang Umum PBB menerima hasil Pepera 1969, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Suka atau tidak suka, NJ menilai bangsa Papua telah menjadi bagian resmi dari negara-bangsa Indonesia.

Mureau melihat ada satu alasan lagi yang mendorong langkah NJ berubah haluan. Alasan ini sifatnya lebih personal, tetapi tampaknya hal ini yang menjadi pertimbangan yang dominan. 

NJ tidak melihat ada alasan lagi untuk tetap bertahan di Belanda apalagi ia juga bercerai dengan sang istri. Ia tidak ingin menghabiskan hidup di rumah jompo dan meninggal dengan dikremasi. Akibatnya, kerinduannya untuk kelak menghembuskan nafas terakhir di tanah kelahirannya, di Pulau Kayu, semakin mengalahkan pertimbangan lain.

Tetap Dihormati

Kendati awalnya ada yang menyayangkan perubahan sikap NJ, bahkan di kalangan orang Papua ada yang mencapnya sebagai pengkhianat, penilaian semacam itu hanya sesaat dan bukan merupakan pandangan utama. Banyak orang yang tetap menghormatinya bukan karena bersetuju pada perubahan sikapnya, melainkan karena memandang NJ sebagai tokoh Papua yang telah pernah mendedikasikan hidupnya bagi rakyat Papua.

Sikap penghormatan semacam ini juga muncul dari kalangan aktivis pro-kemerdekaan Papua. NJ tetap dipandang sebagai orang tua yang telah membuka jalan dan memberi inspirasi. 

Pandangan-pandangan kritis terhadap integrasi Papua yang terus berkembang di kalangan generasi muda Papua tak dapat dilepaskan dari perjuangan NJ hampir 50 tahun, kendati di ujung hayatnya ia berbalik. Nico, putra NJ, mengharapkan perjuangan ayahnya tetap menjadi pendorong bagi generasi muda Papua untuk mendedikasikan hidup bagi rakyat Papua.

NJ meninggal di Jakarta pada 16 September 2017. Pemerintah menawarkan tempat peristirahatan terakhir baginya di Makam Pahlawan. Tetapi keluarganya bersikeras agar NJ dimakamkan di tanah kelahirannya, Pulau Kayu. Keinginan itu terlaksana.

Keluarga juga sempat berharap bendera Bintang Kejora menjadi penutup peti jenazahnya. Tetapi pemerintah tak mengizinkan demi mencegah provokasi.