Suatu hari di tahun 2018, saya diminta oleh salah satu dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk mengisi pengajian majelis taklim ibu-ibu di musala perumahan Timoho.

Undangan itu bukan pertama kalinya untuk saya, karena sebelumnya saya juga pernah mengisi acara yang sama di tempat yang sama. Kala itu tema pengajian adalah tentang “Islam ramah terhadap perempuan korban kekerasan seksual”.

Dengan menggunakan dasar cerita pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan, kemudian dihubungkan dengan perlakuan Nabi Muhammad terhadap perempuan, ditambah kemudian teks ayat dan hadis yang ramah terhadap perempuan, saya menyampaikan “ceramah” pengajian selama kurang lebih 60 menit.

Setelah menutup ceramah dengan salam dan doa, dan mengakhiri pengajian dengan membaca selawat dan saling berjabat tangan. Tiba-tiba ada seorang ibu yang meminta saya untuk datang ke rumahnya. Katanya ia ingin bercerita sesuatu.

Saya menerima permintaan itu dan berkunjung ke rumahnya yang tak jauh dari lokasi pengajian. Ibu tersebut bercerita tentang keponakan perempuannya yang dulu diperkosa oleh seorang laki-laki anak tetangga. Hingga kini, di usia keponakan ke-34 tahun, ia tak mau bahkan memilih untuk tak menikah.

Maksud ibu tersebut menceritakan keponakan perempuannya adalah meminta tolong untuk diajak ke psikolog atau konselor agar traumanya sembuh sehingga keponakannya bisa sama dengan perempuan-perempuan yang lain, yaitu menikah dan punya anak.

Cerita ini penting untuk saya dokumentasikan, karena saya menemukan bahwa ternyata ada sebab kenapa perempuan memilih untuk tak menikah.

Ayu, Korban Pemerkosaan 

Ayu adalah anak pertama dari dua bersaudara, Ayu adalah perempuan suku Jawa, penganut Kristen protestan yang taat dan lahir dari keluarga kelas ekonomi ke bawah.

Orang tua Ayu bekerja sebagai penjual sayur di pasar pagi di ujung timur Daerah Istimewa Yogyakarta. Ayu lahir dan besar di kampung dan menempuh pendidikan sekolah di kampung tak jauh dengan rumahnya.

Ketika Ayu menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ayu diantar ke sekolah oleh bapaknya menggunakan sepeda ontel karena jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh. Kala itu, di awal tahun 2000, orang tua Ayu belum memiliki kendaraan motor.

Biasanya Ayu diantar dan dijemput oleh bapaknya. Aktivitas antar-jemput tersebut dilakukan oleh bapaknya setiap hari.

Ketika Ayu duduk di kelas 3 SMP, yaitu bertepatan dengan usia Ayu ke-15 tahun, Ayu mulai berkenalan dengan seorang laki-laki. Kala itu ia dekat dengan laki-laki anak tetangga yang usianya 5 tahun di atas Ayu, Firman namanya.

Firman adalah anak tetangga Ayu yang beragama muslim. Firman berusia 20 tahun dan pengangguran. Setiap malam Firman hanya duduk di gardu depan pinggir jalan sambil merokok dan minum-minuman keras bersama dengan teman-temannya yang lain. 

Suatu hari ketika musim hujan, bapak Ayu sedang sakit sehingga tidak bisa antar-jemput Ayu. Ayu kemudian diantar-jemput oleh Firman. Entah di hari ke berapa Ayu diantar-jemput oleh Firman, di pertengahan jalan, sesuatu yang tidak Ayu inginkan terjadi.

Firman mengajak Ayu ke hutan belantara, dan untuk pertama kalinya melakukan hubungan seksual. Firman mengancam Ayu untuk tidak bercerita kepada siapa pun karena jika Ayu buka mulut, maka nanti Firman akan melaporkan ke orang tua dan pihak sekolah bahwa Ayu “tidak” perawan.

Ternyata Firman memanfaatkan kesempatan dengan Ayu dan melakukan hubungan seksual yang kedua dan kesekian kalinya dengan terus berulang dan terulang. Firman melakukan hubungan seksual dengan Ayu di gubuk-gubuk di tengah hutan.

Cerita tentang perilaku Firman terhadap Ayu berhenti di sini. Karena bibinya Ayu meneteskan air mata dan tak mampu lagi untuk bersuara.

Pasca-Pemerkosaan 

Saya hanya menyimak cerita bibinya Ayu dengan mata berkaca-kaca. Lama sekali bibinya Ayu melanjutkan cerita hingga saya tak tahu lagi apa yang akan saya tanyakan. 

Sepuluh menit kemudian, bibinya Ayu menyuguhkan wedang jahe panas dan melanjutkan cerita. Katanya, Ayu tak pernah menceritakan kejadian di hutan itu kepada siapa pun, baik kepada teman bermain atau ibunya sendiri. Ibunya Ayu mulai curiga dengan perubahan yang terjadi terhadap fisik Ayu.

Ayu yang badannya kurus tinggi menjadi perut dan payudara membesar, Ayu yang periang menjadi pendiam. Hingga di suatu hari, Ayu pingsan di sekolah. Ketika dibawa ke puskesman kecamatan, perawat mengatakan bahwa Ayu telah hamil 6 bulan.

Kedua orang tua Ayu sangat kaget karena tahu anaknya telah hamil, dan Ayu lebih terpukul karena dikeluarkan dari sekolah padahal Ujian Nasional tinggal menunggu minggu.

Kedua orang tua Ayu tak mau menikahkan anaknya dengan Firman karena alasan perbedaan agama dan citra Firman yang buruk di mata orang-orang sekitar kampung Ayu.

Singkat cerita, Ayu melahirkan di rumah dukun beranak dengan ditemani oleh kedua orang tua dan keluarga Ayu yang lain. Tetapi bukan kabar bahagia yang terdengar, melainkan kabar buruk bahwa bayi laki-laki yang dilahirkan oleh Ayu meninggal dunia.

Ayu Tak Mau Menikah 

Ketika kasus kehamilan Ayu terdengar dari sekolah hingga ke telinga masyarakat, sejak saat itulah Ayu mulai berubah total. Ayu memilih untuk diam setiap kali diajak bicara dengan orang lain. 

Pasca-melahirkan, Ayu menjadi pasif dan pendiam. Ayu lebih banyak di rumah, merenung dan duduk seorang diri di depan teras rumahnya. Sudah berapa kali keluarga Ayu mengajak untuk berbicara dan bercerita, tetapi Ayu lebih memilih untuk diam.

Hingga kini, di usia Ayu ke-34 tahun, Ayu lebih banyak di rumah dan tak mau bicara dengan orang lain. Bahkan dengan adik-adiknya, kedua orang tuanya, dan bibinya sendiri, Ayu lebih memilih diam.

Karena menurut keluarga, Ayu sudah cukup umur. Apalagi Ayu hidup di kampung yang mana teman-temannya sudah banyak yang punya anak, tetapi Ayu masih seorang diri.

Maka beberapa kali Ayu dikenalin oleh seorang laki-laki berstatus duda oleh pihak keluarga, tetapi Ayu menolaknya. Katanya, Ayu tak mau menikah.

Ayu Adalah Saya, Ayu Adalah Kita 

Satu minggu setelah bibinya Ayu bercerita, saya kemudian bertemu dengan Ayu dan orang tuanya di daerah ujung timur DIY. Ayu memiliki tubuh tinggi, badan berisi, rambut hitam panjang, kulit kuning langsat, hidung mancung, dan mata yang tajam.

Di mataku, Ayu adalah perempuan cantik yang lahir dan besar dari keluarga yang sangat sederhana. Sesederhana penampilannya dan tatapan matanya. Jadi wajar saja manakala banyak lelaki “duda” yang datang melamar.

Saya mencoba mengajak Ayu untuk berbicara, tetapi Ayu hanya tersenyum dan diam. Berulang kali saya mencoba memancing obrolan, tetapi respons Ayu tetap sama. Ayu hanya diam.

Ibunya Ayu bercerita kepada saya di depan Ayu, bibinya Ayu, dan saudara-saudara Ayu yang lain bagaimana kejadian itu terjadi di usia Ayu ke-15 tahun.

Dengan jelas saya melihat bagaimana ibunya Ayu meneteskan air mata atas kejadian itu yang membuat kehidupan Ayu berubah total. Katanya, Ayu tak seperti dulu.

Saya mencoba memahami atas apa yang terjadi pada Ayu. Saya tak bisa menyalahkan pengalaman itu, karena itu telah terjadi dan telah menjadi bagian kisah perjalanan hidup Ayu.

Yang bisa dilakukan adalah menjadikan pengalaman Ayu sebagai pembelajaran bahwa ajakan Firman melakukan hubungan seksual dengan Ayu di hutan dengan berulang adalah pemerkosaan di bawah umur.

Ayu tak berani menolak dengan ajakan itu karena adanya relasi gender yang timpang. yaitu Ayu inferior sedangkan Firman superior. Relasi gender yang timpang inilah yang menjadikan perempuan pasif/kalah/diam/tak bisa menolak ketika laki-laki beraksi melakukan “kejahatan” seksual kepadanya.

Bahkan ancaman Firman membuat Ayu makin ketakutan dan hanya bisa “pasrah” atas apa yang dilakukan oleh Firman.

Kasus Ayu menjadi bukti bahwa pada kasus pemerkosaan, siapa pun dan di mana pun itu, yang “dirugikan” dalam banyak hal adalah perempuan.

Bercermin pada kasus Ayu, Ayu menjadi bahan obrolan dan gunjingan dari masyarakat sekitar, Ayu merasa diri tak berharga. Ayu dikeluarkan dari sekolah, Ayu putus sekolah, tak punya ijazah, tak punya pekerjaan, dan Ayu termiskinkan secara struktural.

Ketika banyak perempuan korban seperti Ayu, maka tidak salah jika angka kemiskinan yang tertinggi selalu berada di posisi perempuan.

Saya mencoba memaklumi alasan Ayu kenapa tidak mau menikah, karena telah tertanam rasa “takut” pada pengalaman pertamanya bersama laki-laki bernama Firman. Ketakutan itu makin bergumul manakala Ayu kehilangan anak kandungnya sendiri karena kematian.

Tak ada yang salah atas penolakan Ayu atas semua lamaran laki-laki yang datang melamar. Yang “keliru” adalah keluarga dan masyarakat tidak paham bahwa Ayu memiliki luka di masa lalu, dan luka itu belum sembuh meskipun hampir 20 tahun lamanya. 

Keluarga dan masyarakat “hanya” melihat bahwa Ayu memiliki persoalan besar, yaitu tidak mau menikah, dan berusaha mencari jalan alternatif untuk Ayu mau menikah. Padahal inti persoalan bukan mau menikah atau tidak, melainkan persoalan besar yang dialami Ayu ada pada dirinya sendiri (the origin of self).

Tidak mau menikah adalah akibat, karena disebabkan oleh luka di masa lalu, dan luka di masa lalu itu masih menganga. Kondisi demikian inilah yang “luput” dari pengetahuan sosial.

Perempuan seperti Ayu inilah yang membutuhkan pendampingan khusus oleh konselor feminis agar luka itu sembuh. Sehingga Ayu menemukan “potensi” yang dimiliki dan jati diri yang sesungguhnya.

Bahwa perempuan diperkosa hanya terluka sedikit, bahwa perempuan tetap berharga meski tak perawan, bahwa perempuan memiliki kedaulatan dan otoritas atas tubuhnya sendiri untuk menikah atau tidak menikah.