Siapa yang tak mengenal negeri ini? negeri dengan sejuta pesona. Negeri yang dikenal sebagai zamrud-nya khatulistiwa. Indonesia, negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah, pemandangan yang indah, dan tempat penghasilnya rempah.

Bahkan di dalam sebuah syair dikatakan “Batang yang di lempar pun menjadi tanaman”. Hal ini nyata adanya, Indonesia yang terletak di lintang bujur  antara 6º LU – 11º LS dan 95º BT - 141º BT, antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindi, antara benua Asia dan benua Australia.

Indonesia memiliki banyak sekali hutan, menurut data IPB menyebutkkan bahwa deforestasi di Indonesia mencapai 30 juta hektar dari total 148 juta hektar se-dunia. Atau terbesar di dunia setelah Brasil dan Zaire.

Dikutip dari laman Inilahcom Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yakni Siti Nurbaya mengatakan bahwa luas hutan yang tersisa di Indonesia mencapai 134 juta hektar atau 70 persen dari daratan Indonesia, hutan ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang nyaman dan memiliki potensi wisata.

Dari tahun ke tahun, negeri ini bagai bermimpi buruk rasanya, Indonesia yang dulu hutannya sangatlah rindang dan luas sekarang mulai menghilang secara perlahan.

Menurut catatan setiap tahun hutan Indonesia terus berkurang akibat illegal logging, pembakaran besar-besaran untuk dibuka lahan, pengalihan fungsi lahan dari yang awalnya hutan menjadi pemukiman, penebangan kayu-kayu hutan untuk dijadikan bahan dasar pembuatan rumah dan furniture, ataupun penebangan yang bertujuan untuk membuat berbagi produk kebutuhan lainnya.

Sebenarnya tak ada salahnya kita menebang hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, karena sejatinya Tuhan menghamparkan bumi ini memang untuk memenuhi kebutuhan hamba-Nya.

Tapi pemikiran yang salah adalah kita sering kali merasa bumi ini berawal dan berakhir hanya di tangan kita, selalu menggunakan segalanya dengan penuh ketamakan tanpa menyisakan dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri, padahal hakikat sebenarnya kita meminjam bumi ini dari anak cucu kita.

Kitalah yang seharusnya mempersiapkan bumi untuk generasi gemilang selanjutnya setelah kita agar roda kehidupan ini terus berputar dengan baik, bukan malah mengekploitasikannya habis-habisan.

Dalam kasus lahan hutan yang semakin kritis dan krisis tersebut, maka langkah yang utama dan pertama kita ambil adalah dengan cara merawat hutan yang tersisa dan mengembalikan hutan yang telah ‘mati’ dengan berbagai cara seperti reboisasi atau penanaman sejuta pohon.

Tentu mustahil rasanya untuk merawat hutan yang tersisa seutuhnya, karena kebutuhan kita akan kertas tak dapat dihentikan. Dengan demikian satu-satunya cara yang dapat kita ambil adalah merawat hutan, menggunakan kertas. Tentu kita akan bertanya-tanya “Bagaimana mungkin bisa merawat hutan dengan cara menggunakan kertas?”. Jawabannya tentu bisa, asal ada kemauan di hati kita untuk menyelamatkan negeri ini dan bumi pada umumnya.

Ingatlah pepatah lama yang mengatakan “Tak hanya satu jalan menuju Roma”. Saya akan menjelaskan beberapa pemikiran simple mengenai caranya dalam bentuk uraian  point demi point.

Pertama, menghemat penggunaan kertas. Bukan suatu hal yang asing bahkan jarang bagi kita melihat di setiap sudut sekolah, perkantoran, bahkan berbagai pusat keramaian dan kesibukan lainnya banyak kita ditemui tumpukan kertas yang sudah menjadi sampah baik berupa kertas tulis, tissue, dan beberapa bungkusan makanan lain yang dikemas dalam kemasan yang terbuat dari kertas.

Tentunya selain merusak pemandangan karena membuat alam sekitar menjadi tidak sedap dipandang, tumpukan kertas itu juga tentunya akan membawa permasalahan tersendiri.

Bagaimana tidak, semakin meningkat kebutuhan kertas di pasaran maka secara otomatis akan semakin meningkat pula populasi penebangan hutan guna memenuhi kebutuhan pasaran. Apalagi jika hal ini terjadi di suatu daerah yang tingkat kreatifitas masyarakatnya masih kurang dalam mengelolah sampah kertas serta melakukan daur ulang.

Ini akan membuat semakin banyak pula pepohonon yang akan ditebang, artinya kemungkinan hilangnya hutan Indonesia yang dikenal sangat luas bukan menjadi hal yang mustahil untuk lenyap dari muka bumi.

Sehingga langkah pertama yang dapat kita lakukan dalam merawat hutan adalah dengan cara menghemat pemakaian kertas (maksud menghemat di sini bukan berarti mengurangi penggunaan kertas dalam tujuan untuk menulis, tapi mengurangi atau bahkan men-stop total penggunaan kertas dengan tujuan yang tidak  bermanfaat).

Kedua,  menjadikan kertas sebagai media untuk menghimbau masyarakat dalam melestarikan hutan. Terutamanya di buku-buku tulis yang banyak diperlukan bagi anak-anak sekolah.  

Hal ini bisa menjadi salah satu cara bagi kita untuk menanamkan rasa cinta akan lingkungan sejak usia dini. Karena menurut Smilansky pendidikan usia dini dilakukan dengan cara belajar melalui panca indranya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Piaget (dalam Sujiono, 2012: 120)  menurut pandangannya intelegensi anak berkembang melalui suatu proses active learning dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk terlihat secara aktif dalam kegiatan yang dapat mengoptimalkan penggunaan seluruh panca indera anak.

Seperti dengan cara menuliskan di setiap pojok lembaran kertas sebuah nasihat untuk menjaga lingkungan atau ajakan untuk melakukan go green atau tulisan-tulisan lainnya yang dapat menarik hati anak-anak untuk mencintai hutan.

Jika anak-anak tersebut sudah ditanamkan kecintaan sejak dini di dalam hatinya akan lingkungan maka ketika mereka udah beranjak dewasa, mereka akan mengaplikasikan nasihat-nasihat yang telah mereka dengar dan baca sejak kecil di dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga hutan-hutan yang ada di Indonesia dan dunia kedepannya akan semakin terjaga dari kerusakan atau bahkan kemusnahan.

Ketiga,  memanfaatkan kertas dengan sebaik–baiknya dalam proses pembelajaran. Pepatah Arab mengatakan bahwa “ilmu itu ibarat hewan buruan dan tulisan adalah pengikatnya” . Dari pepatah ini kita bisa mengidentifikasi bahwa ilmu akan semakin melekat kuat di dalam ingatan kita apabila kita juga menuliskannya, karena jika suatu saat kita lupa akan ilmu yang telah kita dapatkan, maka kita bisa membuka kembali catatan lama yang telah kita tulis.

Dengan cara menulis maka negeri ini akan mudah untuk mendapatkan generasi yang gemilang. Sejatinya semkain banyak yang kita tulis, maka semakin banyak pula yang kita dapatkan, dan semakin mudah pula bagi kita untuk meraih prestasi.

Dengan prestasi, generasi bangsa ini  bisa melindungi hutan Indonesia dari penebangan hutan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seperti kertas maupun penebangan yang dilakukan secara liar guna memenuhi kebutuhan secara personal atau suatu kelompok tertentu yang tidak bertanggungjawab dan tidak memikirkan generasi bangsa dan negara ini kedepannya.  

Dengan prestasi juga, ada  beberapa hal yang dapat generasi bangsa berikan pada hutan yang ada di negeri kita ini, antara lain:
a.  Dengan ilmu yang didapat dari penggunaan kertas sebagai medianya, maka generasi bangsa bisa merancang suatu sistem daur ulang kertas yang lebih modern serta inovatif yang dapat menjangkau hingga ke setiap penjuru daerah yang berada di negera ini. Sehingga hutan-hutan Indonesia lainnya yang tersisa saat ini akan terlindung dari penebangan.

b.  Dengan ilmu yang telah didapat juga maka generasi bangsa mampu merancang suatu program baik itu berupa aplikasi atau hal lainnya yang berbau teknologi. Karena dengan perkembangan teknologi zaman sekarang akan lebih memudahkan kita dalam merawat hutan.

Malah hal ini akan terlihat lebih modern dan berpotensi besar untuk ditiru oleh negara lain karena memadukan antara globalisasi dengan suatu tujuan mulia yang dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi jauh untuk generasi selanjutnya, selama roda kehidupan ini masih berputar.

Keempat, merawat hutan melalui pembelian kertas. Memang tidak dapat dipungkiri perkembangan zaman yang terus melejit pesat mengakibatkan lebih banyak orang suka memanfaatkan alat-alat elektronik canggih dalam menuliskan hal-hal penting dibandingkan kertas, seperti menuliskannya di dalam aplikasi memo yang tersedia di setiap telepon genggam, tablet, ipad, android, dll.

Hal ini disebabkan karena alat elektronik dianggap lebih kekinian, lebih praktis dan murah, lebih tren mengikut zamannya, selain itu juga tidak menyulitkan jika hendak dibawa kemana-mana, karena semuanya sebanyak apapun bentuk-bentuk tulisan cukup disimpan dalam bentuk file.

Jika kita tidak terlalu memprioritaskan teknologi sebagai media utama dalam membuat tulisan dan lebih senang menuliskannya di dalam bentuk lembaran-lembaran kertas. Maka selain tulisan itu dapat disimpan sebagai sebuah kenangan, hasil yang didapat dari penjualan kertas itu sekian persennya dapat didonasikan untuk membiayai kegiatan reboisasi hutan.

Dengan demikian maka hutan-hutan yang awalnya gundul maka akan hijau kembali, ini dapat membuka peluang bagi negara Indonesia untuk menyediakan tempat-tempat destinasi yang sangat natural dengan penuh pesona. Jika destinasi tersebut indah dan membuat siapapun yang melihat ingin mengunjunginya maka tak menutup kemungkinan bagi para wisatawan asing untuk berkunjung ke tempat destinasi tersebut.

Hal ini tentunya akan menambah pendapatan indonesia dalam bidang pariwisata. Jika hal yang demikian terwujud, maka kita akan mendapatkan dua keuntungan yang besar sekaligus, yaitu:
a.  Indonesia akan diperhitungkan keindahan alamnya yang sangat natural di kancah dunia, jika  keindahan alam indonesia sudah dikenal dan dicari banyak wisatawan maka tak mustahil bagi kita untuk memperkenalkan berbagai ragam budaya yang ada di Indonesia.

Termasuk dalam bidang makanan daerah serta kerajinan-kerajinan tangan daerah, tentunya hal ini akan memberikan peluang bagi para pengerajin untuk memasarkan produknya lebih luas lagi  dalam skala internasional.
b.  Pendapatan dari bidang pariwisata tersebut dapat digunakan untuk perawatan destinasi itu sendiri, termasuk hutan yang berada di sekitarnya.

Dari berbagai penjelasan di atas,  maka jelaslah bahwa menggunakan kertas dalam keseharian kita tak selamanya harus selalu kita kaitkan dengan prilaku merusak lingkungan karena membuat hutan menjadi gundul. Malah sebaliknya jika kita memanfaatkan sumber daya hutan kita untuk diolah menjadi kertas lalu kita menggunakan kertas itu dengan sebaik-baiknya, maka kita bisa menghijaukan kembali hutan-hutan yang telah gundul dengan jalan yang kreatif sehingga membuat siapa saja ingin terlibat di dalamnya.

Selain itu cara yang dapat kita tempuh dalam merawat hutan dengan menggunakan kertas adalah dengan cara menggunakan kertas sebagai media untuk menghimbau masyarakat agar turut serta dalam menjaga hutan kita, tidak meninggalkan penggunaan kertas walaupun saat sekarang semuanya sudah serba canggih, serta dengan cara menghemat penggunaan kertas.

Kalaulah  kita semua berkomitmen untuk menjaga hutan kita untuk anak cucu kita kedepannya, maka yakinlah bahwa suatu saat kelak ketika mereka sudah menggantikan semua bagian kedudukan dari seluruh penjuru negara ini mereka akan berkata dengan penuh rasa bangga bahwa mereka pernah memiliki generasi sebelumnya seperti generasi saat ini.

Generasi yang mempersiapkan hutannya untuk para tunas bangsa yang akan melanjutkan perjuangan bangsa ini sebagaimana yang pernah dicita-citakan oleh para pahlawan kita yang telah gugur demi bangsa dan negara kita, Indonesia tercinta.