454 tahun yang lalu, Galileo Galilei dilahirkan. Meskipun kita harus skeptis dengan amat sangat bahwa tanggal lahir Galileo berpeluang besar salah.

Generasi kakek saya yang lahir awal 1900an saja banyak yang tidak hapal dengan tepat tanggal lahirnya. Saat pencatatan sipil, orang-orang tua itu hanya menebak saja kira-kira lahir tanggal berapa. Wajar, saat itu belum ada akta lahir.

Penetapan tanggal lahir seseorang dengan tepat adalah wujud dari keegoisan manusia modern. Kita memandang masa lalu dengan kacamata sekarang. Kita yakin bahwa orang-orang di masa lalu merayakan ulang tahun tepat di hari kelahirannya.

Kita memaksa memberikan catatan historis tentang tanggal lahir pada orang-orang masa lalu. Padahal, saya sangat ragu mereka punya akta lahir yang benar-benar mencatat hari kelahirannya.

Sudahlah, tidak perlu repot-repot berdebat tentang pentingnya tanggal lahir dengan membawa argumen rumit. Penetapan tanggal lahir hanya untuk dijadikan tambahan identitas yang mengubah seseorang menjadi angka-angka di catatan negara. Lihat saja NIK pada KTP, pasti ada tanggal lahir kita di tengah-tengah 16 digit. Agar kita mudah didata dan dilacak tentunya.

Anggap saja Galileo Galilei benar-benar dilahirkan pada 15 Februari 1564. Kalau sains modern punya kalender sendiri, maka 15 Februari dapat dijadikan hari tahun baru sains modern. 

Galileo dianggap sebagai Bapak Sains Modern karena penemuannya membuat dunia gempar. Di masa itu, kebenaran adalah pernyataan yang keluar dari mulut gereja. Kalau gereja menyatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya, maka pendapat yang berbeda salah total.

Galileo menemukan teori heliosentris. Bumi bukan pusat tata surya! Ia seperti planet lainnya yang berputar mengelilingi matahari. 

Pihak gereja kalang kabut mendengarnya. Mereka yakin sekali bahwa bumi adalah pusat tata surya, sesuai dengan teks kitab suci nan sakral mereka. 

“Kalau salah satu teks kitab suci kita salah, bisa jadi orang-orang tidak lagi percaya pada kitab suci kita,” kurang lebih begitu bisik-bisik di dalam tembok gereja kala itu.

“Galileo kafir! Hukum mati orang kafir!” teriak orang-orang di akar rumput. 

“Dia tidak percaya dengan kata-kata Tuhan!” susul celetukan yang tak jelas siapa.

Bagi gereja, hal ini jelas. Galileo adalah virus yang menyebarkan ajaran sesat. Membuat orang-orang berpaling dari agama. Tangkap! Penjarakan! Bakar!

Galileo beruntung, nasibnya tidak se-naas Giordano Bruno yang dibakar hidup-hidup 16 tahun sebelumnya. Ia hanya diasingkan, disiksa, dan dipenjara seumur hidup sejak 1633 hingga 1642. Ia juga dipaksa untuk menarik kembali temuannya selama mendekam di penjara. 

Kalau mau dipikir, sebenarnya nasibnya pun tidak beruntung. Tapi, namanya juga orang Indonesia, semua serba untung. “Untung cuma kaki yang lecet, bukan kepala,” ucap seorang pengendara motor di Indonesia yang baru saja mengalami kecelakaan.

Konon, Galileo menentang dogma gereja. Ia menolak untuk tunduk. Temuan Galileo berdasarkan akal sehat dan pengamatannya yang bertahun-tahun. 

“Ini adalah temuan objektif!” begitu kata Galileo pada Paus kala itu. Kisah ini dianggap sebagai titik awal kemenangan objektivitas, paling tidak kata filsuf Perancis, Voltaire. 

Sebenarnya, temuan Galileo ini biasa saja. Copernicus dan Bruno beberapa tahun sebelumnya menemukan duluan. Ilmuwan Islam, Al Biruni tahun 973 juga mengatakan bahwa bumi bukan pusat tata surya. Bahkan 300 tahun SM, Aristarchus sudah menemukan teori heliosentris. 

Yang membuat Galileo istimewa adalah: Ia bisa membuktikannya! Tidak hanya dengan argumentasi filosofis seperti sebelumnya, melainkan dengan mata kepala sendiri! Dengan bantuan teleskop buatannya, tentu.

Metode ilmiah menemukan titik cerahnya setelah kematian Galileo. Ia mulai dipercaya dan dijadikan patokan dari berkembangnya sains modern. 

Satu lagi yang membuat Galileo menjadi orang besar: ia membuka ruang untuk pertanyaan, meskipun kala itu ruang pertanyaan ditutup rapat oleh otoritas agama. Galileo mengeksplorasi untuk menemukan kebenaran, bukan sekadar pembenaran dengan metode ilmiah yang bisa diuji oleh orang banyak.

Sejak temuan Galileo ini menyebar, makin banyak orang-orang yang percaya dengan metode ilmiah dan melahirkan banyak temuan baru.

Temuan-temuan baru sains yang membuat gereja makin kebakaran jenggot mulai bermunculan. 111 tahun kemudian. Gereja menghapus buku Galileo yang berjudul Dialogue Concerning the Two Chief World Systems” dari daftar buku terlarang. 

Baru pada tahun 1992 (359 tahun setelah kejadian), gereja mengaku salah dan membenarkan apa yang ditemukan Galileo. Pihak gereja memulihkan kembali nama Galileo yang dulu dicap kafir. Entah bagaimana nasib Galileo di alam kubur, apakah ia disiksa dulu atau tidak. Wallahu A’lam.

Anehnya, saat ini masih banyak orang yang percaya bahwa bumi adalah pusat tata surya dengan bentuknya yang datar. Matahari dan Bulan mengelilingi bumi.

Maafkan mereka, Galileo! Selamat Hari Galileo! Walaupun sudah lewat satu hari sejak hari kelahirannya yang meragukan itu.