Rasanya hidup akan terasa sempit dan sumpek kalau standar kalah-menang diterapkan secara wadag. Demikian pula menyikapi hasil sementara Pilkada DKI, kalah-menang adalah fakta sesaat saja. Selebihnya, Anies-Sandi tidak menang. Keduanya justru sedang memasuki ujian maha berat. Berada di posisi mas’ul, ditanya tanggung jawabnya, di hadapan umat Islam, rakyat Jakarta, dan Tuhan.

Sedemikian berat tanggung jawab menerima amanah kepemimpinan itu, di tengah karut marut pola tingkah pejabat yang dibayar rakyat untuk menyelesaikan masalah, tapi justru rajin menciptakan masalah.

Departemen Kok Agama

Division of labour tidak salah seratus persen. Namun, tata kelola departemen tidak selalu berbanding lurus dengan langkah solutif. Belum lagi ruang departemen itu seakan menjadi dunia kecil yang tidak perlu merasa berkewajiban untuk saling terhubung dengan ruang departemen lain.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan adalah sebiji urusan yang akan selalu terkait dan mengaitkan dirinya hanya dengan urusan pendidikan dan kebudayaan. Tidak heran, agama menjadi ruang departemen sendiri. Kementerian Agama adalah penampakan absurditas nilai yang tidak gampang untuk dinalar. Seorang teman berseloroh: “Departemen kok agama!”

Agama telah menjadi perangkat keras (hardware), sementara perangkat lunak (software)-nya direduksi oleh sejumlah kepentingan yang kadang teramat praktis. Padahal Islam adalah hardware sekaligus software. Namun, fakta yang berlangsung adalah Islam menjadi baju, bungkus, kapak, pedang, serta sejumlah alat keras lainnya untuk memukul lawan.

Islam adalah masjid, sajadah, jubah, jenggot, jidat hitam—semua itu adalah simbolisme yang kadang tidak selalu dimuati oleh nilai atau kesadaran yang dikandung Islam.

Labelisasi penggunaan kata Islam kian marak. Ibarat sebuah sistem bangunan yang kokoh, Islam tak lebih dijadikan salah satu cat warna untuk melangsungkan talbis (pengecohan). Misalnya, sekolah yang menggunakan label Islam, aksesoris Islam, bungkus Islam pada kasus dan konteks tertentu kadang belum dimuati oleh kandungan nilai Islam itu sendiri.

Perilaku seperti kebersihan lingkungan, sikap saling menghargai, peduli kepada yang lemah, kerap menjadi persoalan krusial bagi sekolah mewah berlabel Islam. Pada kadar yang paling memprihatinkan, sekolah mewah berlabel Islam justru menjadi parameter pembenaran bagi berlangsungnya eksklusivisme strata sosial.

Itu salah satu kasus praktik materialisme pendidikan yang menggandeng label agama. Islam diperkosa, disempitkan, dikebiri untuk memenuhi nafsu branding lembaga pendidikan. Tidak semua memang, namun praktik simbolisme Islam yang tak terbendung akan menjadi tabungan prahara bagi masa depan.

Shalat ya Shalat, Korupsi ya Korupsi

Kita tidak luput dari serangan materialisme itu. Sel-sel saraf berpikir didikte oleh, misalnya, kerancuan antara tujuan (ghoyah) dan sarana (wasilah). Bagi alam berpikir materialisme, shalat adalah tujuan dan dijadikan ukuran keshalihan. Semakin rajin shalat, ia akan semakin dianggap shalih. Soal bagaimana ia berperilaku, melangsungkan bebrayan dengan orang lain, memelihara tepa slira adalah gelembung tersendiri yang tidak usah terkait langsung dengan shalat.

Seorang kawan dekat pernah bercerita, di sekolah (Islam) tempat ia mengajar, salah satu kewajiban yang harus dikerjakan oleh setiap guru dan karyawan adalah mengisi checklist: shalat sunnah rawatib, shalat lima waktu, shalat dluha, shalat tahajud, tadarus Al-Quran. Lembar checklist itu digunakan untuk memantau apakah guru dan karyawan rajin mengerjakan poin-poin ibadah itu ataukah tidak.

Gusti Allah! Saya geleng-geleng kepala. Saya paham, bahkan sangat memahami niat baik pimpinan mereka. Tapi, tidakkah kewajiban checklist itu menghina kandungan Al-Silmu: kelembutan, kedalaman, keluasan makna-hakiki ibadah, yang hanya Allah sendiri yang berhak menilainya!

Seperti fenomena seruan: “Awali harimu dengan shalat Dluha!”—kewajiban checklist itu sedang terjebak oleh alam berpikir materialisme agama. Kita tidak lagi memiliki akurasi untuk membedakan mana gula mana rasa manis. Islam adalah gula, garam, cabe—dan rasa manis, asin, pedas adalah Al-Silmu. Islam ditutupi oleh pemeluknya sendiri.

Gula dan rasa manis adalah satu paket kenyataan. Islam dan silmu adalah satu kesadaran dan perilaku. Shalat dan berperilaku jujur itu satu kesatuan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi materialisme agama. Shalat ya shalat. Korupsi ya korupsi. Umroh adalah metodologi pencitraan untuk mengelabuhi (men-talbis) perilaku yang koruptif.

Lalu terjadilah benturan-benturan antara kerikil agamis melawan nasionalis, toleran melawan intoleran, garis kanan melawan garis kiri, liberalis melawan fundamentalis. Seakan-akan Tuhan sengaja menciptakan manusia yang secara tegas berbeda dalam garis linear pemisah yang dibingkai oleh pro-kontra.

Menang hingga Akar Paling Mendasar

Ah, mosok hidup sehitam-putih itu, sepadat itu, sepicik itu, sesempit itu. Apa hukum mengerjakan shalat shubuh? Jawabnya, ndak tentu. Lho kok ndak tentu? Kalau masih waktu Isya, mengerjakan shalat shubuh hukumnya haram. Kalau sudah masuk waktu shubuh, mengerjakan shalat shubuh hukumnya wajib.

Hidup memiliki sisi bulatan yang sangat tidak terbatas, bergantung pada konteks ruang dan waktu. Demikian pula kalah-menang. Bersama datangnya kemenangan, datang pula kekalahan. Anies-Sandi pada momentum tertentu menang. Tapi, mereka sedang dihadang ujian yang tak kalah berat—ujian yang dimuati oleh kekalahan dan kemenangan sekaligus.

“Setelah dipaksa menang melawan sesama manusia,” ungkap Cak Nun, “kini memastikan wajib menang melawan diri sendiri. Kemudian berjuang menuju menang berbarengan. Menang seluruh bangsa, menang semua manusia. Hingga mencapai puncak kemenangan, ialah Tuhan tidak murka.”

Saya sendiri tidak tahu persis, apakah kita memerlukan kemenangan hingga akar yang paling mendasar itu?

Jagalan 24.04,17