Musik merupakan salah satu dari sekian banyak budaya yang pernah diciptakan manusia.[1] Salah satu jenis musik yang menarik untuk diteliti berkaitan dengan pengungkapan ekspresi yang terdapat dalam lirik dan video yang dibawakan adalah musik dangdut. 

Musik dangdut tak jarang lekat dengan pengungkapan ekspresi yang mengarah kepada seksualitas. Seksualitas pada musik dangdut tersebut memiliki pangsa pasar yang besar sehingga seakan menjadi jualan wajib supaya menjadikan musik tersebut menjadi lebih populer. 

Konsep tentang jualan seksualitas tersebut menjadi strategi dagang yang menguntungkan, terutama bagi produser, penulis lagu, maupun penyanyi yang membawakan lagu tersebut. Makin banyak unsur seksualitasnya, maka lagu tersebut akan makin terkenal.

Dari sekian banyak musik dangdut yang terdapat unsur seksualitas di dalamnya, kebanyakan dinyanyikan oleh penyanyi perempuan. Mereka mendominasi unsur-unsur seksualitas tersebut dengan gaya mereka masing-masing. 

Setelah Inul menjadi fenomena dengan goyang ngebor-nya, sejumlah penyanyi dengan predikat goyangan tertentu bermunculan, seperti goyang ngecor dari Uut Permatasari, goyang gergaji dari Dewi Perssik, dan goyang itik dari si cantik Zaskia Gotik.

Salah satu penyanyi yang identik dengan kuasa atas seksualitas pada musik dangdut yang dinyanyikannya adalah Julia Perez. 

Perempuan yang juga biasa dipanggil Jupe ini merupakan seorang model dan bintang film. Ia mulanya iseng saja mengikuti salah satu ajang mendadak dangdut, tapi akhirnya berani mencoba peruntungan pada bidang tarik suara musik dangdut karena banyak yang mau mendengarkannya. 

Seperti halnya saat menjadi model dan bintang film, unsur-unsur seksualitas juga ia perankan pada lagu dangdut yang ia bawakan, seperti Belah Duren, Jupe Paling Suka, dan Please Call Me.

Ketiga lagu tersebut diambil dari album dangdut perdana Julia Perez Goyang Kamasutra yang dirilis tahun 2008. Ketiga lagu tersebut dipilih karena terdapat video musiknya dan mewakili representasi patriarki atas seksualitas seperti yang akan menjadi inti dari penelitian. 

Lagu-lagu tersebut menjadi awal mula Julia Perez meramaikan industri musik dangdut dengan caranya yang penuh kontroversi seperti yang sudah menjadi imejnya pada dunia hiburan yang sudah tersemat kepadanya sebelum masuk ke industri musik dangdut.

Penelitian kualitatif jenis deskriptif ini bertujuan untuk memahami lagu Julia Perez melalui lirik dan video musik. Pembahasan mencakup tiga lagu berupa Belah Duren, Jupe Paling Suka, dan Please Call Me yang dibatasi pada representasi kuasa patriarki atas seksualitas. 

Berdasarkan tuturan tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini ialah “Bagaimana representasi kuasa patriarki atas seksualitas pada musik dangdut Belah Duren, Jupe Paling Suka, dan Please Call Me dari Julia Perez?” Data dikumpulkan dengan cara memberi ketiga lagu tersebut dari iTunes dan mengamati video klip melalui YouTube

Analisis data dilakukan menggunakan Teori Semiotika Roland Barthes dengan mengkategorikan kuasa patriarki yang terdapat pada musik dangdut Julia Perez menjadi empat bagian, yakni berupa tubuh ideal perempuan, perempuan sebagai penggoda lelaki, relasi antara lelaki dan perempuan, serta perempuan sebagai objek pandang lelaki.

Tubuh perempuan selalu menjadi topik pembicaraan lingkungan setiap saat dan tempat. Pembicaraan tersebut biasanya terkait dengan bentuk ideal tubuh perempuan. 

Pada penelitian ini, tubuh ideal perempuan lebih mengacu pada tubuh ideal perempuan dengan kulit putih, bibir lembab, perut langsing, dada dan pantat menonjol, serta rambut panjang yang dibalut dengan busana ketat. Tubuh ideal perempuan pada penelitian ini dibagi menjadi empat bagian, yakni wajah, rambut, tubuh, dan busana. Representasi mengacu pada tubuh plastik Barbie. 

Boneka barbie merupakan boneka yang sangat perempuan. Barbie adalah ikon konsumerisme somatis yang baru lahir yakni sebuah teknologi pembentukan tubuh yang digerakkan oleh keyakinan bahwa tubuh bisa menjadi apa pun yang kita inginkan hanya dengan memberi cukup uang dan perhatian terhadapnya.[2]

Perempuan, dengan keidealan tubuhnya, mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap cara lelaki memandangnya. Terlebih jika keidealan tubuh tersebut disertai dengan aura penggoda. Tak ayal banyak pekerja seni yang memanfaatkan tubuh ideal perempuan tersebut dalam karyanya agar mendapat banyak penonton, terutama yang ditujukan khusus pada lelaki. 

Perempuan sebagai penggoda lelaki mengisyaratkan akan fenomena girl power. Girl power mengisyaratkan bahwa perempuan tidak melulu dilihat sebagai yang tidak berdaya namun yang mempunyai kekuasaan sekalipun menggunakan sensualitas dan seksualitasnya akan tetapi dengan kesadaran penuh dan kritis.[3] 

Fenomena girl power tersebut seperti yang terdapat pada adegan-adegan pada video musik lagu dangdut Julia Perez. Dia berperan sebagai perempuan yang berkuasa sepenuhnya atas sensualitas dan seksualitas yang dia bawa dengan menggoda lelaki yang ada pada video musik tersebut. Julia Perez memerankan perempuan yang melawan dominasi.

Hubungan antara lelaki dan perempuan dalam hampir semua bidang kehidupan selalu mengarah pada superioritas kaum lelaki terhadap perempuan. Lelaki mempunyai derajat yang lebih tinggi. Hal tersebut sudah terjadi sejak lama dan ada pada hampir setiap sistem masyarakat di seluruh dunia. 

Mitchell berspekulasi bahwa ideologi patriarkal, yang memandang perempuan sebagai kekasih, istri, dan ibu, lebih daripada sebagai pekerja, bertanggung jawab paling tidak atas posisi perempuan di dalam masyarakat, sebagaimana juga ekonomi kapitalis. 

Bahkan jika revolusi Marxis berhasil menghancurkan keluarga sebagai unit ekonomi, tetap tidak akan membuat perempuan menjadi setara dengan lelaki. Hal itu terjadi disebabkan oleh cara patriarki mengkontruksi psike lelaki dan perempuan, perempuan akan terus menjadi subordinat lelaki, hingga pemikiran perempuan dan pemikiran lelaki terbebaskan dari pemikiran perempuan kurang dari setara dengan lelaki. [4]

Perempuan dengan tubuh indahnya tak ayal menjadi suatu objek yang enak dilihat terutama oleh lelaki. Tatapan lelaki terhadap perempuan tersebut dalam dunia feminisme dikenal dengan istilah Male Gaze

Menurut John Berger, perempuan terbiasa untuk menjadi objek tatapan lelaki, namun perempuan tidak mengembalikan tatapan tersebut dengan tujuan menjadikan lelaki sebagai objek hasrat mereka. Sebaliknya, mereka justru menginternalisasi sudut pandang lelaki sebagai pengawas diri. Dalam kata-kata Berger, lelaki menatap perempuan.[5] 

Dalam lirik dan video musik lagu dangdut yang dijadikan objek penelitian, terdapat banyak tanda yang merepresentasikan perempuan sebagai objek pandang lelaki seperti menari dihadapan lelaki yang menggenggam uang maupun menari dengan pole dance yang yang merepresentasikan tarian telanjang pada tempat hiburan malam. Perempuan seakan menjadi daya jual bagi penonton lelaki.

Dari uraian tersebut, tampak bahwa kuasa patriarki atas seksualitas yang terdapat dalam lagu dangdut Julia Perez menghadirkan representasi yang beragam, baik dari lirik maupun video musiknya. Tanda-tanda dari kuasa patriarki atas seksualitas tersebut banyak ditampilkan seperti penggambaran perempuan ideal yang terdapat pada wajah, rambut, tubuh, serta cara berbusana. 

Begitu pula dengan peranan perempuan dan lelaki yang terdapat dalam objek penelitian. Tanda kuasa patriarki ditunjukkan dengan perempuan yang selalu mendapat peran sebagai penggoda lelaki seperti tatapan menggoda, mencengkeram kerah baju, gestur mengajak mendekat, menempelkan bagian tubuh, serta menari di depan tatapan lelaki. 

Sementara itu, lelaki mendapat peran sebagai makhluk yang mempuanyai kuasa seperti mengibas-ibaskan uang, datang dengan mobil mewah, maupun berdandan rapi agar terkesan elegan. 

Untuk tanda verbal, kuasa patriarki atas seksualitas lebih banyak menunjukkan kekuatan perempuan sebagai makhluk penggoda seperti mengajak untuk Belah Duren, menawarkan diri dalam Please Call Me, hingga kenikmatan 69 dalam gaya kamasutra dari Jupe Paling Suka, serta istilah-istilah verbal lain seperti La Femme Fatale yang berarti perempuan penggoda.

Dapat disimpulkan bahwa musik dangdut Julia Perez digunakan sebagai sarana komoditi industri musik dengan memanfaatkan citra bahwa tubuh perempuan adalah sesuatu yang memang nikmat dipandang dan digerayang. Tampak bahwa terdapat unsur seksualitas yang kuat dari musik yang Julia Perez. 

Seksualitas merupakan isu yang sensitif di kehidupan masyarakat mana pun, apalagi isu tentang seksualitas tersebut sudah masuk pada ranah media. Makin luas jangkauannya, makin banyak orang yang menyaksikan, makin besar pula kontroversi yang ditimbulkan. 

Penulis lagu dan sutradara video musik hendaknya menyadari hal tersebut agar karya yang mereka ciptakan bisa diterima dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Penelitian bisa dilakukan dengan tema yang sama, dengan objek yang sama pula, tapi dikupas secara lebih mendalam tentang kuasa patriarki maupun seksualitas yang ada pada objek penelitian dengan metode lainnya seperti Analisis Wacana Kritis, Studi Kasus maupun Etnomusikologi. 

Bisa juga dengan tema yang sama, metode penelitian yang sama pula, tapi dengan objek penelitian yang berbeda mengingat simbol kuasa patriarki atas seksualitas tidak hanya terdapat pada musik dangdut Julia Perez saja.

Bibliografi

[1] Adib Rifqi Setiawan. (2018). Ki Oza Kioza. Alobatnic, 4 Maret. Diakses melalui http://bit.ly/ozakioza pada 4 Februari 2019.

[2] Mary F. Rogers. (2003). Barbie Culture: Ikon Budaya Konsumerisme. Yogyakarta: Bentang Budaya.

[3] Gadis Arivia. (2004). Jurnal Perempuan 41: Seksualitas. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

[4] Rosemary Putnam Tong. (2010). Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.

[5] Sarah Gamble. (2004). Pengantar Memahami Feminisme dan Postfeminisme. Yogyakarta: Jalasutra.