Sekolah unggul menjadi harapan semua orang tua, bahkan semua pihak. Namun demikian sekolah jenis ini sulit ditemui ketika pendidikan sudah menjadi industri. Sekolah unggul identik dengan barang kualitas eksport yang harganya tidak bisa dijangkau oleh semua orang, terutama kalangan bawah.

Perdebatan mengenai sekolah unggul selalu sengit ketika pemerintah disatu sisi ingin meningkatkan keunggulan dan kualitas pendididikan, dan disisi lain pengguna pendidikan merasa belum mendapatkan hak atas pendidikan bermutu. Maka keunggulan sekolah menjadi pertanyaan.  Benarkah sekolah unggul itu ada?

Sekolah unggul sebenarnya dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama sekolah anak anak pintar, kedua sekolah mahal untuk anak-anak orang kaya, dan ketiga sekolah cerdas untuk semua anak. Berikut ulasan mengenai ketiganya.

Pertama, di Malang, kota tempat saya tinggal ada sekolah-sekolah yang hanya menerima siswa dengan nilai tinggi, bahkan sangat tinggi. Setiap pendaftaran siswa baru, siswa yang diterima berdasarkan seleksi nilai.

Semakin terkenal sebuah sekolah, peminatnya semakin banyak dan seleksinya semakin ketat. Ahirnya hanya anak-anak yang memiliki nilai sangat tinggi saja yang bisa diterima. Saya menyebut ini bukan sekolah unggul, tetapi sekolah anak pintar.

Kedua, sekolah yang menyediakan fasilitas lengkap. Mulai dari ruang kelas mewah, fasilitas belajar lengkap dan berbagai layanan tambahan seperti layanan antar jemput, cek kesehatan setiap pagi, sampai layanan makan siang model restoran. Dengan fasilitas, perhatian dan gizi yang cukup, para pengelola sekolah beranggapan prestasi unggu dapat dicapai.

Ketiga, sekolah yang menerima semua siswa dengan kemampuan yang heterogen, tingkat ekonomi heterogen dan fasilitas yang sederhana, bahkan ada yang kurang. Tetapi sekolah jenis ini memiliki visi mengembangkan potensi siswa berdasarkan keberagaman yang dimiliki.

Sekolah ini mengembangkan potensi siswa dalam bentuk kegiatan intra dan ekstra kurikuler. Sehingga prestasinya beragam dan tidak tentu. Siswa yang memiliki bakat akademis dikembangkan secara akademis, siswa yang berbakat olah raga dikembangkan keolahragaanya, dan siswa berbakat seni budaya dikembangkan bakat seni budaya bahkan bahasanya.

Sekolah tipe ketiga inilah yang saya sebut sebagai sekolah unggul yang sebenarnya. Sekolah yang bisa diakses oleh semua kalangan dan ramah terhadap kemampuan dan keragaman potensi anak. Saya menyebutnya sebagai sekolah cerdas. Masalah yang kemudian muncul, bagaimanakah menyiapkan sekolah jenis ini?

Melalui anggaran yang cukup baik di APBN dan APBD, sebenarnya pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat melakukan pengembangan sekolah jenis ketiga ini. Tunjangan profesi misalnya, dapat  diarahkan pada pengembangan potensi, kemampuan dan motivasi guru.

Karena sekolah unggul, tentunya perlu memiliki guru-guru yang unggul pula. Jika ini dilakukan, maka masyarakat akan dapat dengan mudah mengakses sekolah unggul. Semoga bermanfaat :)