Ganti nakhoda ganti pula tujuannya. Itulah yang terjadi di dunia pendidikan negeri ini. Pak Menteri Pendidikan yang baru punya gagasan agar siswa dari SD sampai SMP seharian bersekolah. Dari pagi sampai sore, sesuai jam kerja orangtuanya.

Menurut beliau, banyak orangtua yang tidak bisa mengawasi anaknya karena sibuk kerja. Dan banyaknya anak muda sekarang yang bermental lemah. Katanya, nantinya akan diisi oleh kajian agama dan kursus-kursus. Sepertinya terlihat baik dan bijaksana, demi kemajuan pendidikan negeri ini. Tapi, mboknyao mikir to, Pak.

Sekarang begini, anak SD umur masih 6 tahun sampai 12 tahun, dari pagi sampai sore. Di sekolah disuruh berpikir terus. Apa ya kuat, Pak? Bukannya pintar tapi malah stres. Kami saja yang sudah gede disuruh mikir seharian, 8 jam sehari, tiap bulan digaji, tidak sedikit yang stres.

Apalagi yang masih anak-anak. Mereka itu manusia, bukan robot. Yang butuh sosialisasi dan istirahat. Apakah Bapak akan menciptakan robot ataupun zombie ketika mereka sudah dewasa. Yang selalu patuh terhadap kemauan tuannya.

Menurut saya, anak-anak harusnya banyak bersosialisasi, biar tahu lingkungannya, mengeksplorasi diri sesuai dengan usianya. Tumbuh berkembang secara alami di lingkungan yang alami. Bukan lingkungan yang dikondisikan. Harusnya anak-anak dididik untuk tanggung jawabnya, kedisiplinannya, rasa nasionalisme, tenggang rasa, gotong royong. Dan bagaimana anak yang SMP? Tak jauh berbeda, mereka hanya perlu diarahkan agar tak tersesat ketika mencari jati diri.

Gagasan Pak menteri ini juga menimbulkan paradoks, di manakah peran orangtua? Di manakah tanggung jawab orang tua? Apakah orangtua hanya cuma kerja, kasih makan anaknya, kasih duit anaknya, cuma itu? Di mana tanggung jawab orangtua dalam mendidik anaknya?

Apakah dengan menyekolahkan anaknya itu sudah cukup? Banyak penelitian yang menyampaikan kesimpulan bahwa tingkat kenakalan remaja sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan keluarga. Banyak penelitian yang menunjukkan tumbuh kembang anak-anak yang terbaik adalah di lingkungan keluarga. Bukan di institusi yang namanya sekolahan.

Bapak Menteri juga mungkin lupa, bahwa mayoritas penduduk negara Indonesia ini hidup di desa-desa, di mana banyak yang berprofesi sebagai petani, ataupun ibu rumah tangga. Di mana sangat fleksibel jam kerja mereka, tak jarang juga anak-anak ini membantu ibunya mengantar makan siang untuk bapaknya di sawah, atau mereka yang sudah cukup kuat, dapat membantu orangtuanya hanya sekadar jadi gembala kambing, bebek, ataupun kerbau.

Mencari kayu bakar untuk masak sang ibu. Kegiatan inilah yang sebenarnya membuat mental mereka kuat, fisik mereka juga kuat.

Di negeri ini anak yang pintar sudah banyak, Pak. Contohnya kita sering juara olimpiade sains di luar negeri. Itu contoh kecil, Pak. Tapi apakah Bapak tak melihat kesenjangan pendidikan di pulau Jawa dan di luar Jawa. Dari fasilitas dan tenaga pengajar apakah sudah setara?

Di Jakarta banyak sekolah berfasilitas mewah, tapi di timur sana banyak anak yang untuk datang ke sekolahan harus jalan naik, turun gunung. Dan yang mereka temui bukanlah sekolah mewah seperti di Jakarta, tapi hanya sekolah sederhana, guru yang bersahaja entah digaji berapa, tetap mengajar dengan penuh sukacita demi kemajuan anak bangsa.

Berbanding terbalik dengan guru yang ada di Jawa, yang berhaha hihi keluar masuk mal, belanja barang bermerek, mondar-mandir ke sana kemari pakai Avanza.

Bapak Menteri yang terhormat, daripada Bapak membuat gagasan absurd semacam ini, lebih baik Bapak berkonsentrasi mengatasi kesenjangan pendidikan di negara kita tercinta ini, menyamaratakan fasilitas dan kemampuan guru di seluruh negeri agar semakin banyak generasi muda negeri ini yang seperti Pak Habibie, bukan hanya cerdas, tetapi juga bersahaja dan nasionalis.

Gagasan Pak Menteri ini sepertinya bukan memberikan solusi tapi kok malah menambah masalah. Selain menyiksa anak, juga menghilangkan peran orangtua, keluarga dan lingkungan alami anak untuk tumbuh berkembang, menganggap orangtua tidak mampu mendidik anaknya.

Pak Menteri yang terhormat, tolong dong pakai sedikit kejernihan logika Anda. Cukup sekian celotehan saya. Terima kasih.