Pendidikan ialah usaha sadar dan terstruktur dalam upaya mengembangkan potensi setiap individu yang meliputi aspek spiritual, afektif dan kognitif. Kurikulum sebagai bagian dari sistem pendidikan memiliki peran yang cukup sentral dalam mengembangkan berbagai aspek tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan program Sekolah Penggerak sebagai episode ketujuh dari kurikulum Merdeka Belajar.

Program Sekolah Penggerak berusaha membentuk pelajar Pancasila yang meliputi beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, berkebinekaan global, gotong royong, dan kreatif. Hal itu sebagai upaya untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia.

Visi pendidikan tersebut akan melahirkan generasi emas yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara maju, berdaulat, mandiri, dan memiliki kepribadian sehingga tidak terombang-ambing pada arus globalisasi.

Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar peserta didik secara holistik yang mencakup pengembangan kemampuan literasi, numerisasi, dan karakter. 

Program sekolah penggerak menargetkan adanya akselerasi kemajuan sekolah melalui dua tahapan lebih maju dalam kurun waktu tiga tahun ajaran. Untuk mencapai hal itu, diperlukan sumber daya sekolah (kepala sekolah dan guru) yang unggul. 

Selain itu, pemerintah juga harus melakukan kolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) melalui jenjang sekolah PAUD, SD, SMP, SMALB Negeri maupun swasta karena program ini mengarah pada desentralisasi pendidikan.

Program Sekolah Penggerak memberikan kesempatan untuk semua sekolah di daerah agar dapat menjadi mentor perubahan di daerahnya. Lokasi Sekolah Penggerak tersebar di 34 provinsi dan 250 kabupaten atau kota.

Desentralisasi pendidikan melalui program ini diharapkan dapat mempercepat transformasi pendidikan di setiap daerah dengan cara mengakselerasi sekolah negeri atau swasta untuk bergerak 1-2 langkah lebih maju.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Kemendikbudristek harus memberikan 5 (lima) intervensi sebagai berikut : 

Pertama, pendampingan konsultatif dan asimetris. Intervensi ini memantau hubungan kemitraan antara Kemendikbudristek dan Pemerintah daerah melalui setiap UPT. 

UPT  yang tersebar di setiap provinsi memberikan pendampingan implementasi, perencanaan, penyediaan fasilitas serta membantu menjawab permasalahan apa yang ada di lapangan saat implementasi program. Dengan demikian, program ini akan terpantau perkembangannya secara berkesinambungan.

Kedua, penguatan komponen SDM Sekolah yang meliputi kepala sekolah, pengawas sekolah, penilik dan guru melalui program pelatihan serta pendampingan yang intensif (coaching) one to one. Pelatihan dapat dilakukan dengan mendatangkan tim ahli dari Kemendikbudristek. 

Peran sumber daya sekolah menjadi sangat sentral dalam program ini. Untuk itu, pelatihan perlu dilakukan karena program Sekolah Penggerak menghadirkan paradigma baru sehingga butuh penyesuaian agar pelaksanaannya tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan

Kegiatan berupa pendampingan untuk komponen tersebut dapat dilakukan dalam bentuk In-house training, lokakarya, komunitas belajar (kelompok mata pelajaran), dan program coaching

Adanya kegiatan pendampingan tersebut menunjukan upaya agar guru dapat memahami dan mendapatkan ilmu sebagai bekal yang cukup untuk melakukan implementasi nantinya. 

Setelah adanya pelatihan dan kegiatan pendampingan, diharapkan sumber daya sekolah menjadi lebih siap dan matang dalam mengimplementasikan program ini.

Ketiga, pembelajaran dengan paradigma baru. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memenuhi kebutuhan setiap peserta didik dalam proses pembelajaran yang berlandaskan pada prinsip pembelajaran terdiferensiasi sesuai passion.

Paradigma pembelajaran pada program ini dapat dilakukan melalui kegiatan intrakulikuler, kookulikuler, dan ekstrakulikuler yang disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan bakat siswa. 

Tujuan utamanya untuk membentuk pelajar memiliki kapabilitas dibidangnya masing-masing serta berlandaskan pada nilai-nilai dasar negara.

Kegiatan intrakurikuler dapat berupa pembelajaran yang terdiferensiasi, capaian pembelajaran yang diselenggarakan, peserta didik mendalami konsep dan kompetensi, perangkat ajar sesuai kebutuhan. 

Lalu, kegiatan kokurikuler diwujudkan melalui lintas mata pelajaran, pengembangan karakter, pembelajaran interdisipliner luar kegiatan kelas, kolaborasi dengan masyarakat, serta muatan lokal disesuaikan dengan isu lokal dan nasional. 

Dapat dilihat dalam program sekolah bergerak tidak hanya berfokus pada tercapainya pengetahuan mata pelajaran kelas, tetapi juga di luar kelas. Hal ini selaras dengan tujuannya untuk meningkatkan kemampuan literasi, numerisasi, dan karakter.

Keempat, perencanaan berbasis data. Intervensi ini berkaitan dengan manajemen yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui laporan kondisi mutu pendidikannya sehingga dapat diketahui kendala dan hambatan yang ada dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut. 

Data dapat digunakan sebagai bahan refleksi diri untuk menjawab solusi dan meminimalisir permasalahan yang ada. 

Perencanaan program perbaikan sebagai satu langkah lebih maju yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga dibutuhkan pendampingan oleh UPT dan para ahli masing-masing untuk membantu proses perencanaan dan memberikan pengawasan agar program dapat berjalan dengan baik.

Kelima, digitalisasi sekolah. Melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat tentu diperlukannya sebuah sinkronisasi dalam setiap aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. 

Adanya platform digital guru pengembangan kompetensi, pembelajaran, sumber daya sekolah, serta raport pendidikan melalui platform online sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi. 

Penggunaan teknologi dalam bentuk platform digital ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.

Dalam mencapai visi pendidikan Indonesia melalui program sekolah penggerak ini membutuhkan kerjasama dan kolaborasi yang baik dari berbagai komponen. Meliputi pemerintah daerah, pelatih ahli/pengawas, kepala sekolah, guru dan murid. 

Dapat dilihat bahwasanya program ini memiliki kebermanfaatan yang baik apabila dapat direalisasikan dengan maksimal. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut :

Pertama, peningkatan mutu pendidikan secara merata. Adanya  kolaborasi dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) dan berbagai sekolah diharapkan dapat meminimalisir kesenjangan mutu pendidikan yang ada di setiap daerah. 

Melalui program ini pemberian materi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap sekolah. Hal tersebut akan mendorong terjadinya pemerataan pendidikan dan sumber daya manusia.

Kedua, meningkatnya kompetensi komponen sekolah. Melalui kegiatan pelatihan yang dicanangkan tersebut tentunya akan menghasilkan SDM yang kompeten. Hasil pelatihan diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada setiap komponen sekolah untuk dapat menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. 

Selain itu, adanya pelatihan tersebut diharapkan mampu membuka pikiran komponen sekolah menjadi lebih luas untuk melakukan inovasi dan meningkatkan kreativitasnya dalam menghadirkan pembelajaran bermakna bagi siswa.

Ketiga, percepatan digitalisasi daerah. Melihat perkembangan teknologi yang semakin pesat dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi guru dalam menghadirkan pembelajaran bermakna. 

Digitalisasi di setiap sekolah yang ada di seluruh penjuru tanah air juga membantu memangkas angka buta teknologi. Selain itu, dengan adanya pemerataan teknologi akan mendorong berbagai sektor untuk berkembang dan dikenal oleh banyak orang melalui platform digital.

Keempat, refleksi dan evaluasi berbasis data di satuan pendidikan. Pentingnya data di setiap sekolah untuk dijadikan pijakan dalam menentukan kebijakannya. Data yang relevan akan menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar untuk menyusun rencana yang lebih baik ke depan.

Berkaitan dengan apa saja kendala dan hambatan yang terjadi dalam proses belajar serta inovasi apa yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah tersebut untuk Indonesia maju. 

Program sekolah penggerak menjadi salah satu usaha untuk memajukan pendidikan nasional. Sebagai usaha meningkatkan kualitas pendidikan, perlu kerja sama dari berbagai pihak. Untuk itu, diperlukan kesadaran semua pihak untuk turut andil bagian dalam menyukseskan sistem pendidikan agar dapat menghasilkan generasi emas yang dapat membawa bangsa ini pada masa kejayaannya.