Dari sekian sosok publik di Indonesia, nama Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta itu patut mendapat perhatian. Polemik pemberitaan memang yang mendorong penulis kemudian mencoba mengamati sosoknya, terutama pemikiran-pemikirannya. Ada banyak kesan. Selama ini fenomena Dedi Mulyadi penuh kontroversi. Sebagian menarik untuk didalami, sebagian memang hanya sensasi belaka.

Yang menarik didalami dari konten pemikirannya adalah terkait terobosan-terobosan budaya, khususnya soal etik dan etos. Adapun yang tidak perlu didalami adalah sekadar pemberitaan gosip seperti halnya musyrik, kafir, kawin dengan Nyi Roro Kidul, memindahkan ka’bah ke Purwakarta dan sejenisnya.

Semua hal yang polemis tersebut nyata-nyata hanyalah bagian dari sensasi media massa yang gemar menampilkan sisi kontroversi, kemudian disambut oleh pelaku media sosial yang memang gemar bergosip-ria.

Sejauh penulis memperhatikan beberapa literatur dari pemikiran Dedi Mulyadi melalui buku-bukunya dan sejumlah pemaparan-pemaparan pemikirannya, sejauh itu pula ada satu pesona yang penting diperhatikan. Ia bukan bupati biasa yang hanya bisa melahirkan prestasi-prestasi berbasis anggaran, melainkan bisa menunjukkan bahwa anggaran hanyalah perantara untuk mencapai prestasi.

Dedi Mulyadi punya visi yang jelas di berbagai bidang kehidupan. Visinya itu digerakkan oleh semangat berkeadaban, berkemajuan, dan kemanusiaan. Itulah mengapa ia berani menyatakan bahwa tujuannya berkuasa adalah untuk mengubah mentalitas dan pemikiran manusia.

Jauh sebelumnya ia sudah berpikir bahwa untuk memajukan kabupatennya, ia harus mengubah dan memajukan kualitas sumber daya manusianya, tinimbang memprioritaskan kemajuan infrastruktur. Tetapi pada masa periode pertama menjadi bupati, ia seakan-akan dituntut untuk menuruti kehendak rakyatnya terlebih dahulu. Kehendak yang sebenarnya cenderung pragmatis, karena banyak mengutamakan pada pembangunan fisik.

Pada Pilkada 2013, ia mendapatkan amanat menjabat Bupati yang kedua kali dengan kemenangan telak, 65,64% dari total suara. Sejak itu, ia nyaris bekerja total untuk kemajuan sumber daya manusia.

Dua tahun (2013-2015) memprioritaskan kerja budaya dengan banyak menanamkan semangat etos dan etik hidup warganya, ia genjot semua aspek pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan formal. Ia juga bertarung dengan kekurangan anggaran untuk menerobos jalan pembangunan kebudayaan manusia.

Ia menggelar berbagai kegiatan publik yang bersifat mendidik. Kesenian dijadikan alat kerja budaya dengan semangat penyebaran nilai-nilai keutamaan moral dan etos hidup. Kadang ia siarkan nilai-nilai kesundaan, terkadang pesan keislaman, juga nilai-nilai kepancasilaan.

Ia memakai ikon Sunda tetapi bukan Sunda pakem, melainkan kesundaan yang ia reka-reka sendiri, atau lebih tepat sebagai kreativitas personalnya. Misalnya ikat kepala dan bunga di kepalanya yang sering ia pakai, bukanlah ciri khas Sunda, melainkan busana khas yang ia rancang sendiri.

Dedi Mulyadi memang terkesan Sunda. Itu tak bisa ditampik karena memang ia sering menonjolkannya di hadapan publik. Tetapi Sunda Dedi Mulyadi bukan berarti sundaisme. Ia hanya ingin mendekatkan masyarakat Purwakarta dan Jawa Barat terhadap nilai-nilai kesundaan.

Ia ingin menanamkan kesadaran bahwa nilai kesundaan yang bijak bestari itu tidak patut ditanggalkan hanya karena gempuran modernitas. Memang, dalam pandangan dirinya, orang Sunda ini sangat rapuh dalam menghadapi modernisasi.

Dalam hal ini Dedi Mulyadi bisa menunjukkan fakta kemerosotan manusia Indonesia yang terjadi di Purwakarta (juga di daerah lainnya). Banyak orangtua yang telah mengabaikan ketahanan pangan/ekonomi khas Sunda yang dikenal bijaksana dengan lumbung (leuit). Kini banyak orang Sunda yang mengalami kesulitan ekonomi karena bersikap pragmatis dengan menjual tanah dan membeli motor.

Dedi prihatin dengan keadaan ini. Ia melihat masyarakat yang terjebak dalam siklus ekonomi yang kian menyusut, tidak produktif. Menurut Dedi, tanah tak seharusnya dijual. Sebab, tanah akan terus memiliki nilai lebih. Sedangkan kendaraan-kendaraan, hanya berguna secara fungsional sebagai alat sekunder, yang nilainya mudah sekali menyusut.

Dedi prihatin melihat fenomena modernisasi yang bukan menolong, melainkan menggiring mentalitas manusia menjadi bulan-bulanan globalisasi. Maka dengan niatan tulus membangun pola pikir dan etos hidup yang baik, ia gali nilai-nilai kesundaan yang bisa digunakan untuk membangun tradisi hidup yang lebih beradab.

Dedi Mulyadi punya jiwa dan empati, bagaimana agar rakyatnya tidak jatuh miskin dan menjadi bulan-bulanan pasar. Bagaimana agar modernisasi tidak semata menularkan sikap konsumerisme yang karenanya menyulitkan masyarakat ketika mereka tergiur untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup era modern, bahkan sampai rela jatuh miskin dan kehilangan tanah atau aset berharga lainnya.

Itulah mengapa pada tahap tertentu, ia mengatakan bahwa konsumerisme itu juga berarti menghilangkan jiwa nasionalisme. Sebab, banyak para pecandu belanja yang tergila-gila dengan produk impor dan mengabaikan produk dalam negeri. Selain itu, dalam hal ini, masyarakat Indonesia pada akhirnya lebih banyak berperan sebagai konsumen, bukan produsen.

Mengayuh Spirit Pancasila. Dedi Mulyadi ingin melepaskan jebakan konsumerisme dan menggiring rakyatnya untuk survive melalui mentalitas produktif. Itu satu hal yang menarik dalam konteks membaca kepemimpinan. Devisit kepemimpinan nasional sejak era reformasi ini memang harus ditelaah secara makro, bahkan melalui optik kebangsaan di mana pancasila menjadi bagian paling mendasar dalam gugus kebangsaan yang meliputi kewarganegaraan dan kebhinekaan. 

Maka, di atas keprihatinan tentang etos hidup itu, Dedi Mulyadi kemudian sadar bahwa ada satu kemuskilan yang menimpa masyarakat akibat dari kekosongan pemikiran. Sebagai orang yang berdiri dalam ruang kepemimpinan negara, ia sadar harus memainkan semangat dasar kepancasilaan sebagai bagian mendasar yang sifatnya nasional.

Itulah mengapa setelah gerakan kebudayaan digerakkan, sekarang ia ingin muncul bangunan gerakan yang menyasar pada sisi mental, yang itu diharapkan bermanfaat secara luas, bukan hanya bermanfaat bagi rakyat di Purwakarta, melainkan juga bermanfaat meluas ke wilayah nasional.

Dengan semangat yang menyala, ia canangkan bahwa tahun 2016 ini sebagai tonggak gerakan kebangsaan. “Setelah kita bergerak membangun kebudayaan, kita akan segera memasuki gerakan kebangsaan. Dari Kabupaten Purwakarta yang kecil ini, kita akan menunjukkan bahwa kita bisa berbuat untuk bangsa.”

Untuk mengeksekusi gagasannya itu, Dedi Mulyadi melangkah secara konkret dengan menggagas gerakan “Sekolah Ideologi.” Ia punya niat membangkitkan nilai-nilai keutamaan baik dari sisi etis maupun etos agar rakyat Indonesia, khususnya di mulai dari Purwakarta, menuju satu muara menjadi manusia berbudi luhur, berkepribadian tangguh dengan ideologi kebangsaan pancasila.

Slogan “Sekolah Ideologi Kebangsaan Pancasila” ini bukan saja meruntuhkan asumsi-asumsi sebelumnya yang konon Dedi Mulyadi identik dengan Sundaisme. Ia bisa membuktikan bahwa misi dasar kerja budayanya adalah kerja pembangunan etik dan etos untuk kebangsaan yang sarat dengan nilai-nilai universal kemanusiaan. Sekolah ideologi bukan semata merespon munculnya radikalisme, melainkan juga diarahkan oleh Dedi Mulyadi sebagai tonggak lahirnya manusia-manusia unggul; yang produktif, inovatif dan berkeadaban.

Manusia unggul dalam pandangan Dedi Mulyadi adalah manusia yang memiliki sikap jelas terhadap apa yang ia yakini, memiliki arah tuju yang jelas dalam melakoni kehidupannya, dan bisa mengatasi problematika kehidupannya dengan caranya sendiri, dengan cara yang mandiri. Itu semua bisa terwujud jika ada semangat pemikiran yang tangguh.

Apa yang dimaksud dengan Sekolah Ideologi? Yaitu suatu kesadaran akan kebutuhan di mana masyarakat saat ini banyak yang terombang-ambing oleh ketidakpastian dalam menghadapi gelombang zaman. Dengan semangat bertahan melalui nilai-nilai yang dimiliki bangsa, termasuk yang dimiliki masyarakat lokal setempat, ia ingin membangkitkan jiwa kemanusiaan setiap individu.

Dengan semangat pembaharuan, ia ingin melihat hasil-hasil pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan informal bukan semata kegiatan rutin, melainkan sebagai “pabrik yang produktif” menghasilkan manusia-manusia unggul.

Harus diaukui, seorang bupati yang percaya diri bahwa jabatan bukanlah segala-galanya. Ia memainkan instrumen kekuasaannya sebagai alat perjuangan. Melalui anggaran yang ada dan melalui jiwa kepemimpinannya, ia sudah berhasil menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang kuat dari jiwanya pada akhirnya akan membawa kebaikan masyarakat luas. 

Pada konteks politik Jawa Barat, Dedi Mulyadi mampu menunjukkan bahwa tidak selamanya pejabat di Jawa Barat ini lembek atau bahkan memble. Keberaniannya mengambil peranan mengurus sisi-sisi kemanusiaan menjadikan gagasannya sangat inspiratif. Ia berhasil menunjukkan bahwa seorang bupati dengan prestasinya mengurus sumberdaya manusia patut diperhitungkan sebagai aset yang berharga untuk kepemimpinan nasional di masa mendatang.

Maka, dengan kegemilangan Dedi Mulyadi membangun infrastruktur dan sekaligus membangun keadaban manusia di Purwakarta itu, ia bahkan bisa dinilai sebagai pemilik prestasi yang lebih cemerlang di banding prestasi-prestasi walikota yang ditrenkan oleh media massa itu.

Sudah saatnya kita melirik prestasi-prestasi dari para bupati karena prestasi bupati dibangun dari sisi-sisi yang paling problematis di kehidupan masyarakat pedesaan yang terbelakang, sementara prestasi walikota kebanyakan lebih bersifat material dengan prestasi pada aspek-aspek material seperti penataan ruang kota semata.