Dalam beberapa surat kabar, baik cetak maupun online yang terbit belakangan ini, saya membaca berita terkait adanya penyelenggaraan “Sekolah Ibu". Sebagai sebuah program yang digagas oleh beberapa Pemerintah Daerah atau yang setingkat itu, tentu perlu saya apresiasi karena menjadi upaya pemberdayaan perempuan khususnya mereka yang telah berumah tangga dan menyandang kemuliaan sosial sebagai seorang Ibu.

Namun ketika membaca paragraf demi paragraf, ternyata yang menjadi tujuan diselenggarakannya Sekolah Ibu ini ditekankan pada peningkatan kapasitas ibu rumah tangga dalam rangka mengurus rumah tangga, mendidik anak, dan bahkan menghindari maraknya “perebut laki orang” atau yang populer disingkat pelakor.

Informasi tersebut cukup untuk secara sadar mengernyitkan dahi mengetahui beberapa tujuan diadakannya Sekolah Ibu. Lebih jauh, keberhasilan Sekolah Ibu ini pun diukur dengan indikasi yang tidak begitu substantif. 

Misalnya ada Ibu yang kemudian hamil setelah mengikuti program Sekolah Ibu, padahal kehamilan adalah hasil hubungan biologis yang tidak melulu harus melibatkan romantika para pelakunya. Suami dan istri yang sedang dalam kondisi marah pun bisa tetap melakukan hubungan seks yang menimbulkan kehamilan ketika seluruh aspek biologisnya mendukung.

Aspek lain yang menjadi tujuan diadakannya Sekolah Ibu ini adalah dalam rangka menekan angka perceraian. Padahal kasus perceraian tidak pernah sesederhana itu. Artinya, bukan karena seorang Ibu yang tidak mampu mengurus rumah tangga dan melayani suaminya kemudian pasangan suami istri otomatis bercerai.

Keharmonisan rumah tangga dan cara mengurus suami serta anak dengan baik itu sendiri ukurannya adalah relatif dan tidak bisa digeneralisasi dengan satu atau dua sebab saja yang kasuistis, terutama ketika muara masalah rumah tangga pada akhirnya lebih banyak dialamatkan kepada sang istri.

Sampai sini akhirnya timbul kekhawatiran atas potensi menguatnya ideologi patriarki dalam corak sosial masyarakat kita. Sebuah ideologi sosial yang mengutamakan dominasi laki-laki di atas perempuan. Sebuah pandangan di mana laki-laki lebih berhak dan lebih superior dalam dominasi peran sosialnya dengan tanpa segan mengesampingkan perempuan ke dalam ruang sosial yang sangat sempit sebagai kelompok inferior yang harus diatur dan dibatasi sedemikian rupa.

Sekolah Ibu, bila dilihat dari tujuannya di atas tadi, bisa saya sebut sebagai gejala menguatnya orientasi patriarki yang sudah hadir sejak dikenalnya kepemilikan individu dalam peradaban manusia. Praktik patriarki sendiri yang secara alami akan semakin membuka lebar potensi kerusakan tatanan sosial masyarakat termasuk misalnya perselingkuhan sampai pada perceraian itu sendiri.

Perempuan yang dibatasi untuk tidak berpendidikan tinggi tidak akan memiliki peluang karier yang kompetitif bersaing dengan laki-laki, sehingga perempuan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih rendah dengan hasil finansial yang juga lebih rendah dibanding laki-laki sehingga membuat mereka semakin lemah secara sosial dan dalam rumah tangga.

Laki-laki akan terus merasa superior karena kekuatan kapital mereka dalam rumah tangga. Dosa apa pun yang dilakukan laki-laki, kesalahan mesti milik perempuan. Misalnya laki-laki hidung belang yang berselingkuh, kesalahan itu hanya akan dominan diarahkan kepada perempuan “pelakor” yang saya singgung di awal tadi, tidak pada si laki-laki yang boleh jadi menawarkan ruang perselingkuhan itu sendiri.

Dari kondisi ini, perempuan akan secara perlahan digiring kembali pada peran domestik mereka yaitu dapur dan kasur saja. Bahkan dalam banyak kasus, perceraian disebabkan karena perempuan atau gadis yang putus sekolah kemudian dinikahi dalam usia dini dan secara mental belum siap untuk berumah tangga, sehingga menciptakan tren perceraian yang lebih tinggi.

Wacana untuk memuliakan perempuan dengan menjadikannya sebagai seorang ibu rumah tangga yang fokus mengurusi anak dan suami sudah tidak lagi relevan hari ini. Konstruksi sosial masyarakat yang penuh tekanan, depresi, huru-hara, adalah disebabkan dominasi laki-laki dan minimnya keterlibatan perempuan dalam ruang publik yang setara sehingga tidak terjadi keseimbangan kosmis sosial.

Meskipun dalam beberapa hal terjadi signifikansi pergeseran peran perempuan ke dalam ruang publik. Bahkan dalam prosentase yang kecil, perempuan hadir secara lebih superior dibanding laki-laki. Namun perkembangan tersebut belum menjadi mainstream. Sebaliknya, satu pemberdayaan perempuan dihadapkan pada puluhan upaya mengembalikannya menjadi kelompok inferior.

Bahkan secara tidak sadar, superioritas laki-laki telah tertanam dalam alam bawah sadar baik laki-laki maupun perempuan. Contoh sederhana dan mudah kita temui adalah ungkapan lambat banget kamu nyetirnya kayak cewek. Tanpa sadar, mereka sama-sama sedang mengamini bahwa perempuan tidak bisa menyetir mobil lebih cepat dibanding laki-laki. Padahal dalam realitas hari ini, pernyataan semacam itu tidak memiliki relevansi sama sekali.

Bila Sekolah Ibu ini hanya mengurusi tentang bagaimana seharusnya menjadi perempuan atau ibu yang baik, lalu bagaimana kita menghadapi realitas laki-laki yang rusak mental dan moralnya? Sebaik apa pun seorang istri, tidak menjamin akan mampu menghentikan suaminya dari perselingkuhan yang bermuara pada perceraian.

Saran saya adalah Sekolah Ibu ini memiliki orientasi pemberdayaan perempuan agar mampu menjadi kelompok perempuan berpendidikan dan mandiri. Sehingga mengantarkan perempuan keluar dari dogma inferioritas yang telah terbangun sejak dia lahir di lingkungannya. Perempuan dan laki-laki hari ini memiliki hak yang sama sebagai seorang warga negara.

Perempuan sudah bukan menjadi kelompok kelas dua yang dijadikan bahan eksploitasi laki-laki dan diberi peran domestik yang sebetulnya bisa dilakukan oleh keduanya (suami dan istri) dalam menjalani dan mengurus rumah tangga. Pemberdayaan perempuan adalah dengan cara kesamaan peluang dalam penguatan pendidikan dan juga peluang untuk tampil berperan di ruang publik.