Sekolah yang didirikan dengan kekuatan modal (uang), tanpa pengertian terhadap praktik pendidikan, hanya akan menjadikan sekolah sebagai toko, guru-guru sebagai pegawainya, dan para murid menjadi komoditasnya.

Bila mau memperhatikan, di kota-kota besar sekarang banyak berdiri sekolah-sekolah swasta dengan nuansa plus-plusnya. Ada yang mengedepankan aspek keagamaan, lingkungan, fasilitas, metode belajar, atau aspek-aspek lainnya yang sering kali hanya menjadi sebuah tempelan. 

Pendiri sekolah biasanya menginginkan adanya perbedaan dalam tubuh sekolah yang didirikannya, sehingga ia bisa memiliki sebuah ciri khas tersendiri. Kalau bisa, tampak lebih keren dari sekolah-sekolah yang sudah ada.

Sayangnya, keinginan pendiri sekolah ini tidak dibarengi oleh kemampuan dan pengalaman mendidik dalam ranah praktis. Dalam arti lain, pendiri sekolah biasanya bukanlah seorang guru. Mereka biasanya adalah orang yang sama sekali tidak pernah merasakan mengajar di dalam kelas. 

Akibatnya, para guru yang harus mengejawantahkan keinginan pemilik sekolah, jika bisa dipraktikkan dengan baik, maka muka sekolah terselamatkan; jika tidak, ya wassalam.

Dalam sistem seperti ini, prestasi sebuah sekolah diukur dengan berapa banyak murid yang berhasil didapat ketika tahun ajaran baru dimulai. Karena seperti telah disebut di atas, murid menjadi komoditas: makin banyak murid, makin untung jadinya. 

Berbeda dengan sekolah negeri yang jumlah muridnya pasti dan sekolahnya gratis, sekolah swasta akan diuntungkan jika murid bertambah. Apalagi sekolah swasta yang sudah ada label plus-plusnya, peminatnya bukan warga proletar pada umumnya, melainkan orang tua dengan latar belakang ekonomi yang mentereng.

Bagi orang tua, ada prestise tersendiri ketika memasukkan anak mereka ke dalam sekolah swasta semacam ini, apalagi sekolah yang sudah punya nama. Selain untuk pergaulan yang lebih “terdidik”, mereka juga ingin agar anak-anaknya memiliki skill yang lebih dan berbeda dengan anak-anak pada umumnya. 

Tentu saja ini bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi terkadang hal itu diberikan kepada anak-anak, bukan karena anak tersebut membutuhkannya, melainkan lebih karena orang tua ingin menunjukkan skill anaknya itu kepada orang lain.

“Coba tunjukkan pada si om ini, kamu sudah hafal juz ini, coba nyanyiin lagu itu” atau “Coba tanya tante ini pakai bahasa Inggris, kayak kemarin itu” adalah beberapa contoh kalimat yang sering orang tua lemparkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat, semua itu tentu dimaksudkan untuk menyampaikan rasa bahagia orang tua terhadap pencapaian anaknya. Namun begitu, apakah betul si anak benar-benar membutuhkan semua skill tersebut? Itu belum tentu.

Akhirnya, sekolah-sekolah berlomba untuk memiliki predikat-predikat khusus yang tidak dimiliki sekolah umum. Akan tetapi, hal itu bukan dilandaskan kepada kesadaran hati nurani dan kesungguhan dalam mendidik, melainkan dilandaskan kepada kebutuhan pasar. 

Apa yang sedang populer saat ini? Siapa yang akan beli? Siapa yang rela bayar untuk mendapat hal itu? Lewat logika inilah narasi sekolah swasta masa kini dibangun. Mungkin tidak semua, namun langka yang tidak seperti itu.

Saya tidak ingin bersikap sok idealis dengan mengatakan bahwa semua sekolah telah kehilangan esensi pendidikan. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa manajemen dalam korporasi sangat berbeda dengan manajemen dalam dunia persekolahan. 

Bagi orang-orang korporat, produk yang terjual memenuhi target adalah sesuatu yang dengan mudah terukur. Tetapi dalam dunia persekolahan, memenuhi target bukanlah sesuatu yang bisa didefinisikan dengan mudah. 

Terlalu banyak variabel yang harus dihitung; terlalu banyak unsur-unsur yang tidak terukur. Semua itu dikarenakan satu hal yang absolut: subjek dalam dunia persekolahan adalah manusia, di mana manusia satu berbeda dengan manusia lainnya.

Pasi Sahlberg—tokoh pendidikan Finlandia—mengemukakan bahwa sekolah yang baik tidak pernah ada; yang ada adalah sekolah yang cocok bagi semua murid yang sekolah di dalamnya. 

Artinya, kehebatan sekolah tidak terletak pada program atau nilai plus-plusnya, tetapi dari kemampuan sekolah mengakomodasi semua kebutuhan siswanya. Selama masih berpikir bahwa sekolah adalah aset penghasil uang, sistem ini tidak akan pernah terlahir.

Dalam manajemen sekolah berbasis toko, para guru bekerja untuk memenuhi target yang berlaku umum seperti korporasi; mulai dari nilai anak-anak, prestasi non-akademik, sampai kegiatan-kegiatan yang hanya semacam gimmick

Sistem pembelajarannya, meskipun pakai metode macam-macam, tetap saja berusaha memperlakukan siswa sebagai barang yang sama, yang harus dibentuk serupa untuk mewakili citra sekolah. 

Dalam manajemen sekolah berbasis toko, guru dan siswa adalah roda gerigi yang membuat pendidikan bergulir ke arah yang asing, tepatnya ke arah para pemilik modal.