Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman besar terhadap kehidupan manusia terutama di Indonesia yang memiliki hutan tropis yang saat ini keadaannya sangat mengkhawatirkan. Tiap tahunnya kehidupan manusia terancam perubahan iklim, seperti meningkatnya banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Hal ini diakibatkan oleh penebangan pohon yang tidak terkendali yang menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran.

Menurut Badan Planologi Dephut pada tahun 2003, laju kerusakan hutan periode 1997-2000 tercatat 3,8 juta hektar per tahun yang menjadikan Indonesia salah satu Negara yang memiliki tingkat kerusakan tertinggi di dunia. Menurut Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003, sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah di mana 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan keruskan hutan.

Penggunaan kertas secara boros merupakan faktor utama terjadinya penebangan hutan di Indonesia. Bahan baku kertas itu sendiri adalah dari sebatang pohon. Satu rim kertas memerlukan kurang lebih satu batang pohon yang harus ditebang. Kertas digunakan untuk pembutan kardus, buku tulis, majalah, koran dan lain sebagainya sehingga banyak kertas yang digunakan secara berlebih setiap hari. Total produksi kertas dunia di dominasi oleh kawasan Asia (40%, atau sekitar 156 juta ton), yang artinya Negara Indonesia berpotensi sangat besar dalam penebangan pohon yang berlebih.

Sumber : PPI dalam Skogsindustrierna, The Swedish Forest Industry Facts & Figures 2009, April 2010.

Berdasarkan grafik tersebut jelas bahwa kawasan Asia, termasuk Indonesia telah memproduksi banyak kertas dan melakukan penebangan pohon yang tidak terkendali terutama pada hutan lindung dan hutan lain yang tidak dilarang penebangan secara liar. Hal ini dapat berdampak negatif untuk kehidupan manusia karena hutan merupakan salah satu tempat manusia mencari sumber rezeki, makanan dan obat-obatan.

Apabila hutan rusak dan gundul, maka akan banyak masyarakat Indonesia yang akan kehilangan pekerjaan, kelaparan dan timbulnya berbagai macam penyakit. Selain itu, hutan tropis merupakan tempat tinggalnya flora dan fauna yang berlimpah yang menjadi sumber penghidupan manusia, apabila dilakukan penebangan hutan terus menerus, maka flora dan fauna akan terancam punah yang artinya manusia akan terancam kekurangan sumber kehidupan. Oleh karena itu, harus ada solusi untuk mengurangi penggunakan kertas, sehingga akan berkurang pula penebangan pohon secara berlebih.

Sekolah alam yaitu sekolah yang berbasis pada alam lingkungan sekitar sebagai obyek belajar. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi efektif dalam mengurangi penebangan pohon secara terus-menerus karena anak-anak belajar langsung dengan alam dan sangat minim dalam penggunakan kertas. Menurut Poedjiati (2005), salah satu cara yang memudahkan anak dalam belajar adalah mengaitkan mata pelajaran dengan berbagai masalah aktual yang ada di lingkungan sekitar anak. Pendapat ini sangat sejalan dengan keadaan hutan di Indonesia yang kritis ini.

Terdapat dua alasan yang menjelaskan sekolah alam merupakan wadah yang sesuai untuk anak-anak Indonesia agar mencintai hutan dan menggunakan kertas dengan bijak. Pertama, sekolah alam merupakan sekolah yang berbasis alam sebagai objek utama dalam pembelajaran.

Di sekolah alam setiap anak akan dibebaskan bersosialisasi dengan alam secara langsung. Anak-anak akan diajarkan tentang masalah-masalah lingkungan yang akan menyebabkan kerusakan apabila tidak merawat hutan dengan baik sehingga mereka akan paham karena telah melihat dan merasakan hal itu secara nyata. Anak-anak akan bereksperimen sendiri tentang masalah-masalah yang dijelaskan oleh guru di sekolah alam.

Dalam hal ini, sekolah alam akan membangun karakter anak lebih baik. Mereka akan mencintai alam dengan sendirnya tanpa ada paksaan dari siapa pun. Anak-anak akan lebih peduli terhadap masalah-masalah lingkungan sekitar dan merasa harus mencegah terjadinya kerusakan karena apabila terdapat masalah maka mereka akan sadar bahwa mereka tidak dapat bermain dengan bebas lagi. Dengan demikian mereka akan merasa bahwa alam dan diri mereka adalah satu, dan hutan sebagai rumah mereka, sehingga apabila hutan rusak maka mereka tidak akan memiliki rumah lagi.

Kedua, sekolah alam sangat minim dalam penggunaan kertas. Di sekolah alam Mahira provinsi Bengkulu contohnya, menurut salah satu volunteer, Septian Dwi Putri, 2017, saat ia berkunjung ke sekolah alam Mahira ia sangat mendukung sekolah tersebut. Anak-anak hanya membawa pakaian ganti dan bekal makan siang saja karena buku-buku sudah di sediakan di sekolah. Hal ini membuat anak-anak tidak tertekan dengan peraturan-peraturan yang mengikat seperti seragam sekolah atau sepatu yang harus hitam, serta mengajarkan pada anak-anak untuk tidak menggunakan kertas apabila tidak diperlukan.

Sekolah alam memberikan pengetahuan bahwa kertas terbuat dari sebatang pohon, apabila menggunakan kertas dengan boros berarti telah membiarkan banyak pohon ditebang dengan sengaja dan merelakan hutan menjadi rusak. Anak-anak akan belajar lebih banyak menggunakan objek-objek nyata di sekolah alam, seperti burung yang bisa digunakan untuk mengajarkan mata pelajaran matematika dan IPA, sehingga anak-anak tidak perlu mencatat di kertas berlembar-lembar karena mereka telah praktik langsung mengenai pelajaran tersebut.

Selain itu, anak-anak akan diberikan tugas yang tidak mengharuskan mereka menggunakan kertas secara boros. Hal ini dapat menanamkan dalam diri mereka bahwa lebih baik memperhatikan dan praktik secara langsung daripada mencatat semua pelajaran tetapi tidak memahaminya, sehingga anak-anak akan merasa bahwa mereka tidak perlu menggunkan kertas apabila tidak membutuhkannya. Oleh karena mereka telah ditanamkan dalam diri untuk mencintai alam dan merawat hutan, tentu saja dengan tanpa sengaja mereka akan melakukan segala cara agar hutan yang mereka miliki tetap terjaga dengan baik, sehingga mereka akan sadar sendiri bahwa menggunakan kertas secara boros akan megakibatkan pohon ditebang dan hutan akan gundul.

Sekolah alam merupakan sekolah yang mengajak anak-anak untuk kembali mencintai alam merupakan solusi yang tepat dalam menangani masalah penebangan pohon yang tidak terkendali dan penggunaan kertas yang berlebih. Sekolah alam menjadi wadah untuk anak-anak memahami bagaimana cara merawat hutan dengan baik dan menggunakan kertas dengan bijak. Mereka diajarkan dan diarahkan tanpa paksaan sehingga apa yang mereka alami itulah yang mereka pelajari.

Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, maka mereka harus diajarkan sedini mungkin tentang kehidupan, lingkungan, dan cara mencintainya. Dengan demikian, mereka akan bijak dalam melakukan, menggunakan, atau pun mengkonsumsi segala hal yang dapat merusak alam sekitar. Berdasarkan fakta dan anlisis yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa sekolah alam merupakan salah satu wadah belajar terbaik untuk anak-anak generasi penerus bangsa agar dapat mencintai hutan dan menggunakan kertas dengan bijak. Adapun saran yang dapat diberikan yakni pemerintah dan segenap elemen masyarakat harus mendukung pergerakan serta perkembangan sekolah alam ini demi masa depan Indonesia dan seluruh kekayaan alamnya yang lebih baik.


Daftar Pustaka

Laporan Greenpeace. 2009. Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklim. www.greenpeace.org. Diakses pada 4 Januari 2017.

Yulianti dan Prihatin Sulistyowati. Artikel. Kajian Kurikulum Sekolah Alam Dalam Rangka Mewujudkan Pendidikan Karakter Siswa Tingkat Sekolah Dasar.

Maryati. 2007. Artikel. Sekolah Alam, Alternatif Pendidikan Sains yang Membebaskan dan Menyenangkan. Yogyakarta.

FWI/GFW. 2001. Potret Keadaan Hutan Indonesia. fwi.or.id. Diakses pada 9 Januari 2017.