Socrates adalah satu dari sedikit pemikir yang dapat dikatakan telah mampu membentuk perkembangan budaya intelektual dunia dan tanpanya sejarah akan sangat berbeda. Dia terkenal melalui anggapan bahwa yang ia tahu adalah dia tidak tahu apa-apa, serta kehidupan yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani.

Socrates adalah inspirasi bagi tulisan-tulisan Plato, seorang pemikir yang juga berpengaruh dalam tradisi filsafat barat. Bersama dengan muridnya, Aristoteles, Socrates dan Plato disebut sebagai tiga filsuf besar Athena. 

Socrates tidak pernah menuliskan apa pun. Namun berdasarkan tulisan Plato, Socrates digambarkan sebagai seorang yang hidup secara sederhana dan berkeliling athena untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan  kepada orang-orang mengenai pendapatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pada usia 70 tahun tepatnya pada tahun 399 SM, dia dihukum mati atas tuduhan telah merusak kaum muda Athena. 

Socrates lahir di Athena pada tahun 469 SM. Dia merupakan anak seorang pematung Sophroniscus dan Phenarete yang seorang bidan. Keluarganya tidaklah miskin tapi juga tidak kaya. Socrates pernah menyatakan dirinya memiliki kelahiran yang sama mulianya dengan Plato.

Pada usia yang menginjak 18 tahun, Socrates mulai melakukan tugas politik sebagai kewajiban pemuda athena pada masa itu. Hal ini termasuk wajib militer dan status keanggotaan majelis, suatu badan yang bertanggung jawab untuk menentukan undang-undang. 

Dalam budaya yang mengagungkan ketampanan seorang pemuda, Socrates mengalami nasib sial karena terlahir dengan rupa yang sangat buruk. Banyak sumber yang menggambarkan penampilan dirinya. Socrates disebut sebagai exophthalmic, yang berarti memiliki mata menonjol, hidung yang menyerupai babi dan memiliki perawakan tidak terlalu tinggi dengan perut gendut. 

Penampilan buruk Socrates didukung dengan keburukan busana yang dia kenakan. Socrates sering mengenakan jubah dan sandal yang sama sepanjang hari baik dalam cuaca terik maupun dingin. Plato dalam symposium mengatakan bahwa Socrates tidak memiliki kepedulian terhadap penampilannya. 

Sebagai seorang pemuda, Socrates tumbuh dengan pendidikan yang layak. Pada abad ke-5 SM, semua pria Athena diajarkan untuk membaca dan menulis. Ayahnya, Shoproniscus, bagaimanapun juga bersusah payah dalam memberikan pendidikan budaya, puisi, musik dan atletik. Dalam tulisan Plato dan Xenophon, Socrates diceritakan memiliki pengalaman dalam puisi dan berbakat ddalam bidang musik.

Sesuai dengan adat istiadat Athena, Shoproniscus juga mengajarinya mengenai perdagangan meskipun terkadang Socrates tidak mempelajarinya setiap hari. Sebaliknya, dia menghabiskan hari-harinya di Agora (pasar Athena) untuk mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang mau berbicara dengannya. 

Meskipun Socrates hidup dalam kesederhanaan, namun dia cepat mendapatkan pengikut bangsawan muda yang kaya raya, salah satunya adalah Plato. Plato sangat senang mendengarkan Socrates mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang dianggap paling bijaksana dan paling berpengaruh di Athena. 

Socrates menikah dengan seorang perempuan bernama Xanthippe, dan menurut beberapa sumber, Socrates memiliki istri ke-dua. Melalui pernikahanya dengan Xanthippe, ia melahirkan seorang putra bernama Lamprocles dan melalui istri keduanya dia memiliki tiga anak bernama Myrto, Sophroniscus dan Menexenus. 

Alasan Socrates menikahi dua perempuan adalah karena pada masa itu di Athenake kekurangan laki-laki. Dan juga sesuai dengan tradisi Athena pada masa itu, Socrates juga memiliki ketertarikan terhadap pria muda. Akan tetapi, Socrates selalu menundukkan keinginanya tersebut karena menurutnya dengan melakukan hubungan dengan pria muda, Socrates khawatir jiwa mereka akan buruk jika berhubungan dengan exophthalmic.

Dalam bidang militer, Socrates mengikuti pertempuran dengan gagah berani selama berada dalam militer Athena. Tepat sebelum perang Peloponnesia dengan Sparta dimulai pada tahun 431 SM, dia membantu orang-orang Athena dalam memenangkan pertempuran Potidea tahun 432 SM. Pada perang tersebut Socrates menyelamatkan kehidupan Alcibiades, seorang jendral yang terkenal.

Peperangan lain yang diikuti oleh Socrates adalah pertempuran Delium tahun 424 SM dan pertempuran Amphipolis. Namun kedua peperangan tersebut berakhir dengan hasil kekalahan bagi pihak Athena.

Socrates hidup pada zaman dimana masyarakatnya menganut politeisme, yaitu keyakinan bahwa dunia diatur oleh banyak dewa. Demikian pula dengan Socrates juga dibesarkan dengan cerita para dewa yang dibawa oleh Homer dan Hesiod yang menggambarkan dewa tidak maha tahu, atau abadi, melainkan hanyalah makhluk yang haus kekuasaan dan turut campur dalam urusan manusia. 

Dalam cerita Homer, orang orang mengira bahwa Aphrodite menyelamatkan Paris dari kematian ditangan Menelaus atau zeus yang mengirim Apollo untuk menyelamatkan jenazah Sarpedon setelah kematianya dalam pertempuran. Akibat dari cerita keperkasaan tersebut, manusia takut pada para dewa, berkorban demi mereka dan menghormati mereka dengan doa-doa.

Akan tetapi Socrates berbeda. Dia malah memiliki konsepsi sendiri mengenai Tuhan dengan atribut baik hati, jujur, adil dan bijaksana. Bagi Socrates, keilahian selalu dapat dipahami dengan standar rasionalitas. 

Bagi socrates, ritual dan pengorbanan terhadap para dewa sama sekali tidak berguna. Hal ini dikarenakan bahwa jika Tuhan itu baik, maka dia akan bermanfaat bagi manusia terlepas apakah manusia memberikan persembahan baginya. Dengan demikian Socrates melepaskan agama dari akar praktisnya dan hubunganya dengan identitas warga Athena.

Meskipun telah melakukan banyak hal bagi Athena, namun akibat dari aktifitas filsafatnya masyarakat menganggap Socrates sebagai ancaman bagi kota mereka. Kecurigaan inilah yang menjadi alasan socrates dibawa kepengadilan Athena.