Pernahkah anda sebagai laki-laki merasa kecewa pada perempuan?

Jika jawabannya iya, berarti anda adalah laki-laki baik yang bisa membiarkan perempuan menjadi apa yang mereka mau sebagai dirinya.

Apabila anda selalu merasa bahwa perempuan wajib mengikuti hasrat anda sebagai laki-laki. Berarti anda telah memangsa manusia lain karena keserakahan jenis kelamin.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran kolonial, mungkin laki-laki bakal beranggapan bahwa perempuan harus lemah lembut atau penurut.

Tidak sedikit pemikiran keji yang mengkerdilkan keberadaan perempuan di muka bumi.

Bisa kita lihat dalam berbagai kasus rumah tangga, dimana laki-laki penurut yang bisa mengendalikan amarah untuk menunjukan kasih pada istri menjadi bahan gunjingan tetangga. Bahwa laki-laki seperti itu adalah perempuan tidak jadi atau seringkali di cap bodoh.

Sedangkan laki-laki yang banyak menghabiskan harta istri di cap sebagai laki-laki sejati (bagi kaum lelaki) mungkin.

Kata-kata ngapain sih lo masih bertahan sama perempuan yang gak bisa ngasih apa-apa, mending cari lagi sering dilontarkan kaum berpenis.

Kata-kata itu mungkin karena si lelaki mapan, dan yang bilang seperti itu otaknya masih sangat dangkal atau tidak tahu persoalan.

Persoalan tentang perasaan itu jauh sangat lepas dari 'apa-apa'. Apa-apa yang menghasilkan atau merugikan.

Mari kita bahas sedikit tentang cinta. Jika anda pernah nonton film India, anda tentu akan mendengar kalimat "cinta itu bukan perjanjian" tepatnya di film Mohabbatain.

Kondisi rumah tangga berikutnya, saat perempuan sudah mempunyai seorang anak akan sering mandapatkan caician dari suami saat anaknya nangis dan tidak segera digendong.

Suaminya asik-asikan duduk atau tiduran sambil membayangkan sesuatu yang lain. Namun saya juga tidak akan mengesampingkan laki-laki dari perannya.

Peran laki-laki sebagai pencari nafkah (bagi yang memang mencari nafkah) memang melelahkan. Tetapi lebih lelah mana dengan istrinya yang bertubi-tubi gendang telinganya diserang tangisan anak, mencuci baju, menyapu rumah dan mencuci piring bekas makanan anda.

Kalimat yang saya sampaikan diatas tentu sering anda dengar atau anda baca di media sosial, lewat cerita-cerita pendek tentang perempuan.

Saya hanya mencoba menjadi laki-laki dengan cinta lewat apa yang telah saya lihat dengan mata kepala.

Memang tidak semua laki-laki itu mempunyai sifat seperti penjajah, tidak sedikit pula perempuan menjadi serigala dalam kehidupan bermasyarakat.

Inti apa yang ingin saya sampaikan sebenarnya sepele. Hanya pesan untuk menjalin kehidupan tanpa melihat panjang rambut dan dalaman celana. Juga tidak jauh lebih penting, jika anda hidup bertetangga jangan terlalu sering menggunjing, sungguh itu tidak baik bagi anda dan orang lain.