Nurcholish Madjid atau lebih masyhur dipanggil Cak Nur, sampai saat ini masih dianggap simbol intelektual muslim modern. Perpaduan sosok seimbang yang tidak saja berlatar belakang sarungan dan bisa menghadiri forum orang-orang berjas, tetapi juga berpemikiran maju dan percaya diri. Itulah Cak Nur.

Pemikiran-pemikiran Cak Nur sampai saat ini dianggap masih relevan dan menarik didiskusikan untuk kemudian dikembangkan dan dikritisi. Selain itu, bagi mahasiswa, buku-buku karya Harun Nasution, Nurcholish Madjid, atau Mukti Ali, dirasa cukup sebagai bekal, terutama bagi yang berlatar belakang sarungan kental. Hal ini agar mampu menyeimbangkan potensi intelektual, tidak dari khazanah Islam klasik saja, namun juga terbuka terhadap khazanah-khazanah keilmuan lain yang terus mengalami perkembangan.

Jika dilihat pada karya-karya Cak Nur, kebanyakan pemikiran tertulisnya, kalau tidak dikatakan semua, terkait dengan integrasi Islam dengan nilai-nilai kemodernan dan keindonesiaan. Ini yang disebut oleh Emwe Nafis sebagai strategi pemikiran Cak Nur. 

Namun, sebelum jauh membahas pemikiran Cak Nur, perlu ditegaskan bahwa tulisan ini lebih bersifat informatif, meskipun tanpa melupakan sisi koherensinya.

Periodisasi Pemikiran 

Membicarakan Cak Nur memang tidak dapat dilepaskan dari membicarakan pemikirannya. Sebagian besar kehidupannya dihabiskan sebagai seorang intelektual dan pemikir yang konsisten. Ia tidak sama sekali tertarik dengan sifat dan sikap pragmatis, seperti ditunjukkan dalam penolakannya memimpin salah satu tim yang ingin dibentuk Soeharto pada masa-masa menjelang lengsernya.

Pro-kontra terhadap pemikiran Cak Nur, jika disederhanakan, dimulai sejak pidatonya pada 1970 dengan kertas kerja berjudul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Dari sini kemudian dapat dipolarisasikan tanggapan terhadap pemikiran Cak Nur, yaitu lovers dan haters

Sementara terkait tulisan tersebut, Cak Nur menyatakan pada awal tulisannya bahwa dorongan untuk menulis kertas kerja itu adalah konstalasi muslim Indonesia tengah mengalami kejumudan dalam pemikiran dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, dan kehilangan psychological Striking Force (daya tonjok psikologis) dalam perjuangannya.

Bagi Cak Nur, otokritik dalam tubuh umat muslim dibutuhkan supaya mampu mengejar ketertinggalan. Sebab, esensi Islam sebetulnya meraup harapan terus-menerus serta tak berhenti berusaha. Oleh sebab itu, tak heran jika Cak Nur tak pernah lelah mengaitkan jihad dan ijtihad sebagai kerja peradaban. Ia terus-menerus mengorbitkan pandangan-pandangan dan pemikiran-pemikirannya yang banyak dikatakan kontroversial.

Selain itu, bekal didikan Gontor ditambah dengan akses bacaan dari ayahnya, K.H. Abdul Madjid, Cak Nur mampu memadukan dua bahasa/tradisi yang amat jarang pada masanya, yakni Arab/kitab kuning dan Inggris/"kitab putih", serta mengartikulasikannya dalam bahasa Indonesia ala EYD saat itu, yang lentur dengan penerimaan kata-kata baru semacam ‘modernisasi’, ‘rasionalisasi’, dan sejenisnya. Secara singkat, tiga tradisi ini yang merangkum cakrawala pemikirannya mengenai keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan.

Aktivitas dan produktivitas Cak Nur dalam menuangkan gagasan-gagasan dapat dibuat menjadi semacam periodisasi pemikiran. Buddhy Munawar Rachman membagi periode tersebut pada dua, yaitu 1) periode pemikiran integrasi keislaman dan keindonesiaan (1965-1978) dan 2) periode pemikiran integrasi keislaman dan kemodernan (1984-2005).  Sementara itu, dalam kurun tahun 1978-1984 dianggap sebagai periode transisi karena Cak Nur sedang menempuh pendidikan di Universitas Chicago.

Fokus yang dihasilkan dari Periode I pemikiran keislaman-keindonesiaan Cak Nur (1965-1978) adalah sekularisasi dan pembaruan Islam di Indonesia. Sementara fokus yang dihasilkan dari Periode II pemikiran keislaman-kemodernan Cak Nur (1984-2005) adalah paham humanisme Islam, yang di dalamnya termasuk pengolahan isu-isu Islam, demokrasi, hak asasi manusia, termasuk pluralisme. Bahkan, jika boleh ditambahkan, terdapat satu lagi periode yang dalam istilah saya disebut pra-periode, yaitu pemikiran keislaman-kerakyatan.

Istilah “kerakyatan” sering kali teridentifikasi sebagai sosialisme, dan sosialisme/sosialis begitu erat kaitannya dengan komunis/me, yang dalam sejarah Indonesia telah melakukan tindakan kontrarevolusi. Maka, ketika Soeharto dalam satu pidatonya mengatakan Indonesia adalah Negara Sosialis-Religius, Cak Nur tampak menyetujui. Menurut Cak Nur,  identitas sosialis dan religius terdapat dalam Pancasila. Lebih lengkap mengenai usaha intelektual Cak Nur dalam integrasi keislaman dan kerakyatan dapat dibaca di Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan.

Posisi Pemikiran

Sementara terkait posisi pemikiran Cak Nur, dapat diketengahkan beberapa pertimbangan dari berbagai hasil kajian yang terdahulu. Seperti M. Rusydi, yang menyatakan bahwa pemikiran Cak Nur termasuk pada kategori atau tipologi “Neo-Tradisionalisme”. Tipologisasi pemikiran Cak Nur dengan Neo-Tradisionalisme disebabkan adanya pergesaran pemikiran yang lebih apresiatif terhadap khazanah pemikiran Islam klasik. Sementara Muhammad Kemal Hassan, yang kemudian dikutip Cahaya Khaeroni, memosisikan Cak Nur sebagai “Modernis-Sekuler”, karena gagasannya mengenai urgensi sekularisasi.

Dalam pandangan saya, tipologisasi pemikiran Cak Nur sebagai neo-tradisionalisme maupun modernis-sekuler adalah sebuah ketidaktepatan. Pasalnya, dari alasan yang digunakan oleh pengusung opini tersebut, tampak mengabaikan sama sekali konsepsi dari kedua tipologi tersebut dan hanya melihat dari seusatu yang muncul di permukaan. 

Neo-Tradisionalisme menurut Akbar S. Ahmaed adalah gerakan sosial-politik-pemikiran yang cenderung bersikap apologetik, anti-intelektualisme, reserve dan reaktif terhadap modernisme dan anti-Barat. Sementara modernisme, sebagaimana dalam konsepsi Fazlur Rahman, adalah suatu gerakan pembaruan yang ingin merekonstruksi spiritualitas dan moralitas Islam dengan cara lebih membuka diri terhadap Barat.

Secara eksplisit, Cak Nur memang apresiatif terhadap khazanah Islam klasik dan di sisi lain juga telah banyak menuliskan perihal modernisme/sasi, dan sekulerisme/sasi. Namun, yang tak jadi perhatian adalah bahwa sebetulnya dua kegiatan intelektual Cak Nur tersebut melebur menjadi satu kesatuan usaha intelektualnya. Dengan demikian, penguasaan Cak Nur dalam memadukan dua tradisi keilmuan, yaitu khazanah Islam klasik (kitab kuning) dengan konsep-konsep modern, memberikannya posisi sebagai seorang Neo-Modernis. 

Neo-Modernisme merupakan gerakan pemikiran yang mengembangkan sikap kritis terhadap Barat maupun warisan-warisan sejarah sendiri (Islam), sehingga dapat dilihat pula sebagai sintesis progresif antara rasionalitas dengan tradisional. Dilihat dari berbagai tulisannya, tampak cukup tepat mengatakan Cak Nur sebagai seorang neo-modernis.