Merdeka bisa juga kita artikan bebas. Saya dari dulu selalu berpikiran, bahwa hidup akan lebih indah jika saya bebas melakukan apa pun.

Namun, kebebasan itu hanyalah sebuah angan-angan kosong yang muskil akan terwujud. Karena di rumah, saya memiliki seorang ibu yang tak diragukan lagi kedisiplinannya.

Ibu saya begitu disiplin dan keras. Dengan peraturan-peraturan begitu ketat. Setiap pagi, semua anak-anaknya wajib bersih-bersih rumah. Tanpa membedakan status gender anak-anaknya, ibu saya biasanya akan membagi jatah bersih-bersih setelah anaknya membaca Alquran setengah juz. Dan setengah juz itulah standar minimal bokong kami boleh bergeser dari musala depan rumah.

Belum lagi peraturan-peraturan yang ribetnya ngaudubillah. Seperti habis makan harus cuci piring, harus mencuci baju sendiri, tidak boleh bepergian di atas jam 10 malam, tidak boleh banyak bermain hape, tidak boleh menyetel musik dangdut, dan masih banyak peraturan ibu saya yang membuat saya geleng-geleng dan ngelu.

Tapi dari semua peraturan itu, yang paling berat bagi saya adalah tidak boleh tidur pagi. Bagi saya, tidur pagi merupakan hal wajib. Karena biasanya malam hari saya habiskan untuk bermain hape dan nonton film sepuasnya.

Namun kewajiban itu terpaksa tak bisa saya laksanakan. Ya, karena jika saya tidur di pagi hari, biasanya saya akan mendengar panggilan nyaring nan melengking yang membuat saya takut, seolah akan ada kiamat sugra.

Dengan panggilan yang khas sekali, keras nan nyaring sudah bisa membuat saya takut untuk memanjakan mata saya di pagi hari. Alhasil, dari pada saya kena omelan ibu saya yang aduhai, beserta pukulan plus jeweran kasih sayang, saya tahan kantuk itu hingga siang hari.

Saya sangat takut jika ibu saya marah. Bukan karena takut kualat, tapi saya takut ditendang dan dicoret dari Kartu Keluarga. Karena ibu saya adalah tipe orang yang menganut paham monarki absolut. Tak bisa diganggu gugat. 

Berbeda dengan bapak saya. Bapak saya lebih pendiam dan lebih demokratis. Bahkan, bapak membebaskan saya melakukan apa pun, asal tidak membuat kucing tetangga hamil.

Tapi semua berubah. Ibu saya tak pernah marah lagi pada anak-anaknya. Bukan karena negara api menyerang, tapi karena ibu saya sakit-sakitan.

Kurang lebih satu bulan ibu saya berbaring di rumah sakit karena mengidap penyakit TBC. Entahlah, padahal ibu saya termasuk orang yang rajin. 

Konon katanya, ibu saya tertular jemaah ngajinya sewaktu mengajar mengaji. Karena waktu ada salah satu jamaah yang memiliki penyakit TBC dan tak memakai masker. Tapi sudahlah, saya tak ingin membahas masalah penyakit itu.

Makin hari kesehatan ibu saya makin memburuk. Ditambah penyakit diabetesnya membuat makin parah. Waktu itu saya masih di pesantren.

Pagi-pagi sekali bapak menelepon saya. Tak biasanya bapak menelepon sepagi itu. Tanpa basa-basi, ujug-ujug bapak menyuruh saya pulang.

Sebagai anak yang terbilang agak saleh, tanpa banyak tanya saya langsung mengiyakan. Saya pun tak bertanya kabar ibu saya karena malam hari kakak laki-laki saya mengabari bahwa ibu makin sehat dan boleh dibawa pulang pagi harinya. Dan saya pikir mungkin kakak perempuan saya akan menikah. Karena sudah sebulan yang lalu saya mendengar rencana pernikahannya yang akan dilaksanakan waktu dekat.

Pagi itu juga saya hanya membawa tas kecil dan meminta tolong kawan saya untuk diantar ke bandara. Dengan motor CB-nya yang aduhai, saya dibonceng kawan saya bak adegan Milea yang di bonceng Dilan. Namun sayang, kami laki-laki. Jadi tak seromantis di film.

Sampai di bandara, kawan saya langsung putar balik. Saya turun di depan parkiran Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Kampretnya, helm yang saya pakai lupa tidak ia bawa. Sembari membawa helm karena buru-buru saya langsung membeli tiket di agen.

Saya amat kecewa. Di agen pembelian tiket, jadwal terbang pagi sudah tak ada. Akhirnya terpaksa saya ambil jadwal terbang malam. Setelah keluar dari agen, saya buka Hp lalu iseng-iseng membuka sebuah grup WA keluarga. Saya terpaku pada pengumuman di grup yang ditulis oleh paman saya dengan judul innalillahi wa innailaihirojiun. 

Siapa yang meninggal? Kenapa Bapak tak memberitahu?

Setelah saya cermati, ada sebuah nama yang tak asing bagi saya. Di situ tertulis, Ibu Hasanah binti Marzuki. Ada nama ibu saya di pengumuman itulah yang membuat saya begitu kaget. Saya yang begitu panik dan cemas langsung menelepon bapak.

Saat, diangkat yang terdengar hanya suara tangisan. Tangisan yang bahkan tak pernah saya dengar sebelumnya. Bapak menangis sambil berkali-kali minta maaf.

Saya tak bisa berkata lagi setelah mendengar permintaan maaf dari bapak. Air mata saya akhirnya jatuh. Saya harus menerima kenyataan bahwa malaikat tak bersayap yang bernama ibu harus benar-benar pergi. Tangis saya begitu kencang. Saya sudah tak peduli pada orang yang wira-wiri dan melihat saya menangis.

Kematian memang menakutkan. Tapi yang lebih menakutkan dari kematian itu adalah perpisahan. Ya, perpisahan yang tak akan pernah bertemu lagi.

Saya sampai di rumah pukul satu malam. Begitu sepi dan hening. Ibu saya sudah dimakamkan. Saya tak bisa menangis lagi karena mata saya bengkak.

Setelah ibu saya  pergi, saya pikir, hidup saya akan bebas merdeka karena tak ada peraturan lagi. Saya bebas melakukan apapun.Tapi ternyata tidak. 

Jika dulu saya sering dan hobi tidur pagi, mulai hari itu saya tak bisa tidur pagi. Karena terbiasa dimarahi ibu saya jika tidur pagi. Saya tak bisa lepas dari kegiatan-kegiatan seperti biasanya. Saya tetap tak bisa bebas sebagaimana saya inginkan. Entah, seolah ada yang aneh jika meninggalkan kebiasaan itu.

Saya baru sadar bahwa manusia tak akan bisa benar-benar merdeka. Ia akan selalu dikekang oleh kebiasaannya.

Kemudian saya ingat nasehat Pak Kyai saya di pesantren. Kata beliau begini. Sejatinya, manusia akan selalu diperbudak oleh kebiasaannya. Jika kebiasaannya baik, maka ia akan diperbudak kebaikan. Jika kebiasaannya buruk, maka ia akan diperbudak keburukan.

Dan benar, saya telah diperbudak. Diperbudak oleh kebiasaan baik yang dibuat oleh ibu saya.