Madilog adalah karya tulis pertama Tan Malaka, kepanjangan dari buku itu Materialisme, Dialektika dan Logika. Buku yang pernah dibaca oleh Soekarno ini, ia tulis di Rawajati dekat pabrik sepatu di daerah Kalibata, Cililitan Jakarta. Disana pula ia tinggal kurang lebih dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943.

Sebetulnya bukan hanya madilog yang ditulisnya, masih banyak lagi tulisan-tulisan lain yang sudah setengah jadi, tetapi terpaksa di tunda. Sebab yang pertama karena kehabisan uang dan yg kedua karena aparat kepolisian. 

Menurut Tan Malaka sendiri dalam tulisannya di madilog, Polisi itu bernama Yuansa, sudah dua kali datang memeriksa dan menggeledah rumah tempat tinggal Tan Malaka. Beruntung sekali Madilog tak di ambilnya, karena memang Tulisan Madilog ini sangat kecil dan tersimpan ditempat yang tidak bisa diambil oleh polisi itu, maka tulisan madilog akhirnya terhindar dari mata polisi.

Beberapa bulan menetap dijakarta, tempat tinggal Tan Malaka terasa panas dan bahaya, karena memang banyak sekali pada waktu itu yang ingin menangkapnya. Dengan terpaksa akhirnya ia berhenti sementara waktu untuk menulis buku madilog dan memilih untuk berpetualang di daerah Banten, tujuannya yang pertama untuk mencari nafkah sambil menyelesaikan tulisannya yang kedua sambil melindungi diri dari berbagai ancaman.

Setelah lama diperjalanan dari jakarta ke banten, telah sampai dia di stasiun rangkasbitung, untuk dapat sampai ke bayah Tan harus berjalan lagi ke Pandeglang melewati jalur saketi, disana ia melihat ribuan bahkan ratusan jiwa para rhomusa mati kelaparan dan disiksa oleh para majikan, singkat cerita sampailah dia di daerah bayah, Tan malaka datang ke bayah membawa tulisan madilog yang belum di selesaikannya, disana ia tinggal untuk sementara waktu.

Dengan berbekal pengalaman di luar negeri serta pernah mengajar walau tidak mempunyai legalitas resmi akhirnya dia dapat pekerjaan tetap di tambang batu bara daerah bayah. Disana dia mendapat pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha biasa,  dia menjadi pengurus semua rhomusa dan penduduk kota bayah dan sekitarnya dalam hal makanan, kesehatan, pulang pergi dan sakitnya rhomusa semua dia yang diberi tanggung jawab sebagai Ketua Badan Pembantu (BPP) dan Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3).

Dengan massa rakyat bayah dan para rhomusa Tan Malaka sangat dekat, dari mulai urusan olahraga sampai batu bara dia pasti selalu ada. Semasa dibayah memang Tan selalu mengorganisir massa rakyat, bertanam, hingga mengurus orang-orang sakit karena keracunan atau terkena penyakit. Di bayah bukan lah nama Tan Malaka yang masyarakat kenal9, begitulah Tan Malaka ketika berpindah tempat, berganti juga nama. 

Ilyas Husen adalah nama yang disamarkan untuk dirinya, demikianlah dia yang pada masa penjajahan jepang memperkenalkan diri dengan nama itu. Begitulah kira-kira madilog ikut lari bersembunyi , dari cililitan jakarta ke bayah banten, hingga ikut pergi mengantarkan para rhomusa ke jawa tengah dan ikut menggeleng-gelengkan kepala memerhatikan proklamasi Republik Indonesia, pernah juga Tan Malaka ditangkap di surabaya bahkan hampir saja madilog hilang.

Begitulah kiranya perjalanan buku yang menjadi sumber reverensi Tokoh besar seperti Soekarno dan lainnya.