“Sejarah ditulis oleh para pemenang.” Begitu kiranya pepatah lama itu, terdengar seperti teriakan, terkesan angkuh dan paling benar. Tapi bagaimana jadinya, jika sejarah, di mana didalamnya, ada yang salah dan benar, dimenangkan dan ditulis oleh orang yang salah? Dan juga bagaimana jika, anggapan mapan kita, yang kita pegang teguh sebagai kebenaran, pada akhirnya guncang?

Sejarah itu adalah realitas di masa lalu. Didalamnya, ada kejadian-kejadian yang tentu saja sama seperti sekarang; Pertikaian, cerita pertemanan, kebahagiaan, sampai kisah-kisah yang muram, juga ada di masa lalu. Hanya saja, selayaknya sebagai realitas, dimana tiap-tiap kejadian ada, dan diceritakan dalam bentuk buku ataupun dari mulut ke mulut,  tak akan bisa utuh secara keseluruhan.

Ketika seseorang dihadapkan pada realitas, untuk kemudian ditulis atau diceritakan, bagi Albert Camus, maka ia sedang melakukan penghitungan pada sesuatu yang tanpa batas. Dengan kata lain, kita harus bisa menceritakan setiap sudut tanpa melewatkan sedikitpun setiap titik dari tiap kejadian dalam realitas tersebut. Maka, bagi Albert Camus, ketika seseorang berkata telah menceritakan sesuatu sesuai realitas yang ada, itu sangat yang absurd.

“Dengan menulis,” kata Albert Camus, “maka kita telah melakukan pemilihan-pemilihan terhadap realitas.” Dengannya, kata Albert Camus pula, terjadi pengebirian terhadap realitas itu sendiri. Sama halnya dengan sejarah, yang di dalamnya mengandung realitas-realitas, maka tentu saja, selain tidak utuh ketika ditulis maupun diceritakan, sejarah juga belum tentu diceritakan dengan benar. Bisa saja ada kepentingan yang bermain di dalamnya.

Sejak kecil saya selalu menganggap sejarah, yang ditulis dalam buku-buku pelajaran sekolah, mutlak sebagai kebenaran. Cerita-cerita tentang kerajaan, banyak membuat saya sampai pada kesimpulan heroisme dan antagonisme. Ada perbandingan-perbandingan sebagai nilai tambah yang membuat saya selalu kagum pada cerita-cerita heroik hingga selalu memandang antagonisme dengan sinis.

Padahal, cerita-cerita kepahlawanan—tidak mungkin tidak—mengandung tendensi, baik secara teritori maupun kesukuan. Hal itu yang membuat saya atau bahkan mungkin kita semua, hanya melihat sesuatu sesuai apa yang sama dan ada didalam kita. Jika ada yang pernah membaca buku M.C Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, disana diceritakan bagaimana awal mulanya Bangsa Portugis datang ke Nusantara, yang dulunya belum bersatu, sampai akhirnya juga mengundang Bangsa Belanda melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk kemudian menjajah Indonesia.

Jika kita bisa menafsirkan sejarah penjajahan tersebut dengan lebih objektif, Belanda melalui organisasi atau perusahan VOC, tidak secara serta merta datang melakukan pendudukan. Ada yang ditawarkan oleh pihak belanda sebelum menanamkan ekspansinya, yaitu kerjasama dan perjanjian politik. Dalam buku itu, juga dikisahkan bagaimana di masa itu, dimana dalam kerajaan-kerajaan Nusantara, yang tentu saja belum bersatu, dipenuhi orang-orang yang haus kekuasaan. Pihak VOC sangat bisa membaca situasi itu lalu memanfaatkannya.

Pada mulanya adalah perniagaan, lalu berubah menjadi penundukkan dan pendudukkan. Kerugian demi kerugian dialami oleh pihak VOC dalam menanamkan eksipansinya. Belum lagi penghianatan dari pihak-pihak kerajaan terhadap perjanjian-perjanjian, tentu saja membuat VOC kelabakan. Jadi, bagi saya, adalah hal wajar jika Bangsa Belanda, melalui VOC, memetik hasil dari apa yang ditanamnya yang telah banyak menyebabkan kerugian. Tapi bagaimanpun, penjajahan tetaplah penjajahan. Didalamnya, eksploitasi besar-besaran terhadap manusia dan alam tidaklah dibenarkan.

Tidaknya utuhnya realitas dalam sejarah, yang menyangkut benar dan salah, heorisme dan antagonisme, bukan hanya dalam lingkup yang luas antara Indonesia dan bangsa lain. Bahkan pada ruang lingkup yang lebih kecil, dalam tubuh peradaban Nusantara misalnya, sikap untuk memandang secara berlebihan terhadap suku dan golongan itu muncul. Sikap semacam itu memang patut atau bahkan sangat dibutuhkan. Hanya saja, itu tidak lebih baik daripada sikap objektif yang harus tertanam lebih dalam. Maka, Penggalian terhadap data-data yang otentik juga sangat diharuskan.

Sejarah yang ditulis para pemenang, juga ada sejarah bagi orang-orang yang kalah. Tapi kita hanya mengingat mereka dalam angka yang menulis korban jiwa. Disana, heroisme, tak satupun  ada yang menggugah kesadaran kita untuk menatapnya dengan teguh. Kita mengenang mereka dalam angka-angka, tetapi mereka yang mati, seperti angka-angka itu, hanya muncul sekejap lalu hilang.

Tapi mungkin sejarah, dengan kenyataan-kenyataanya, memang dituntut untuk tidak utuh.  Sebab itu pula ia jadi unik. Hanya saja, jika sejarah itu sampai ke tangan yang salah, ditulis oleh orang yang salah, lalu di racik sesuai kepentingannya sendiri, maka sejarah itu, tidak hanya tidak utuh, tapi juga belum tentu bisa benar. Maka itu, sifat kritis harus tumbuh, untuk kemudian membongkar atau menyusun kembali apa yang dianggap telah mapan.

Sejarah memang ditentukan oleh orang-orang yang menang, tapi belum tentu, mereka yang malakoni lalu menulis sejarah itu, orang-orang yang benar. Mempertanyakan sejarah, sama dengan mencari kebenaran dan membuktikan kesalahan. Dengan tidak mempertanyakannya, berarti sama dengan kita melanggengkan kesimpangsiuran. Meskipun kiranya sejarah itu simbol ketidak-utuhan, realitas yang terpecah-pecah, paling tidak tempatnya haruslah lebih baik, harus disusun ditempat yang semestinya.