Pada tahun 320, gairah teologis mulai memasuki gereja-gereja di Mesir, Siria, dan Asia kecil. Orang-orang pada saat itu hanya percaya bahwa Tuhan yang satu yaitu Sang Bapa, Tuhan yang sangat jauh dan trasenden dengan kehidupan manusia.

Perbedaan pendapat serta konflik yang cukup panas pada saat itu disulut oleh salah seorang pemuka gereja bernama Arius. Arius melemparkan sebuah tantangan kepada uskupnya Aleksandria yang tidak mungkin dia abaikan tapi akan sulit untuk menjawabnya

Arius melemparkan sebuah pernyataan yang berbunyi: “Bagaimana mungkin Yesus Kristus menjadi Tuhan dalam cara yang sama dengan Tuhan Bapa?”

Dalam konteks ini, Arius tidak menyangkal ketuhanan Kristus, tetapi dia hanya berpendapat bahwa meyakini Kristus itu ilahiah adalah suatu penghujatan terhadap Yesus. Karena Yesus sendiri tidak pernah mengklaim bahwa dirinya Tuhan.

Tapi penulis tidak akan membahas tentang ketuhanan Yesus Kristus di sini. Mungkin hal itu bisa dibahas lain waktu.

Sejak dilemparkannya pernyataan tersebut ke masyarakat, kaum awam pun mulai memperdebatkan isu yang cukup memanas pada waktu itu, sehingga kaisar Konstantin turun tangan dan mengimbau penyelenggaraan sebuah sinode di Nicea untuk membahas masalah ini.

Umat Kristen percaya bahwa Yesus Kristus telah menyelamatkan mereka melalui kematian dan kebangkitannya. Yang menjadi kerancuan bagi Arius adalah apakah Sang Kristus berasal dari alam yang suci atau bisa kita sebut sebagai wilayah Tuhan atau berasal dari dunia yang rentan ini (dunia manusia).

Sebuah perbedaan pandangan terjadi antara Arius dan Anthanasius. Arius beranggapan bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa yang berasal dari dunia yang rentan ini, sementara Anthanasius meyakini bahwa Sang juru selamat berasal dari Allah dan menjelma sebagai manusia agar bisa menyelamatkan manusia dari dosa dan kesesatan.

Ada sebuah istilah yang namanya logos. Logos ini merupakan instrument atau alat yang digunakan Tuhan untuk menciptakan segala sesuatu. Jadi semua ciptaan yang ada di muka bumi ini menjadi ada karena logos.

Bagi kepercayaan orang Kristen, Yesus merupakan logos. Seperti yang tertulis dalam Yohanes 1: 1-3

Pada mulanya adalah Firman, Firman bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa tidak ada satupun yang jadi.

Walaupun demikian, Arius tetap percaya bahwa Yesus bukanlah Tuhan, melainkan seorang utusan Tuhan untuk Bani Israel yang diangkat ke status Keilahian.

Kebanyakan orang yakin Yesus adalah Tuhan karena dia diciptakan tanpa ada campur tangan pria pada Maryam ibu kandungnya. Maka sudah pasti bahwa yang dikandung Maryam ini adalah Anak Tuhan. Begitulah kira-kira persepsi orang Kristen memandang Yesus sebagai anak Allah.

Karena dia diciptakan Allah secara langsung ke dalam perut Maryam, berbeda dengan kita makhluk biasa yang diciptakan melalui perantara Dia.

Ketika kita melihat kasus di atas, sebenarnya tanggung jika kita hanya menyebut Yesus adalah tuhan hanya karena Tuhan secara langsung menciptakannya dan meniupkan roh kudus ke dalam rahim Maryam. Mengapa tidak sekalian Nabi Adam kita sebut Tuhan? Karena Nabi Adam tidak memiliki ayah dan ibu dan Tuhan menciptakan Adam tanpa perantara apa pun. Maka pasti lebih dahsyat lagi status keilahiannya.

Arius tidak bermaksud untuk merendahkan Sang Mesias. Arius tetap menghormati Yesus, tidak seperti yang dituduhkan oleh musuh-musuhnya. Tuhan Arius sama seperti Tuhan para filsuf, Tuhan yang jauh dan transenden terhadap dunia.

Baca Juga: Trinitas Islami

Berbeda dengan pandangan Anthanasius yang memiliki padangan seperti kutipan yang ada pada Yohanes 3: 16

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah memperanakkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal.

Maka dari itu, seperti yang dikatakan Anthanasius, Firman dibuat menjadi manusia dengan tujuan agar kita bisa menjadi kudus.

20 Mei 325, terjadi konsiliasi ketika para uskup berkumpul di Nicea untuk mengatasi krisis ini. Sedikit sekali yang mendukung pandangan Anthanasius tentang Kristus. Kebanyakan dari mereka berada pada posisi tengah, tidak berpihak pada Arius maupun Anthanasius.

Meskipun demikian, Anthanasius berhasil mendesakkan teologinya kepada delegasi dan di bawah ancaman kaisar pada waktu itu. Hanya Arius dan dua orang sahabatnya yang berani menolak untuk menyetujui kredo Anthanasius.

Maka secara resmi, creation ex nihilo menjadi doktrin resmi Kristen untuk pertama kalinya serta menegaskan bahwa Kristus bukanlah sekadar makhluk, melainkan Tuhan dan Penebus itu adalah satu.                                                               

Kredo Anthanasius masih menimbulkan banyak pertanyaan penting. Mereka menyatakan bahwa Yesus itu ilahiah, tetapi tidak dijelaskan bagaimana logos bisa berasal “dari bahan yang sama”.