Di Sumenep, Madura, tempat saya tinggal, obrolan politik menjadi obrolan nomor wahid dalam keseharian masyarakatnya. Rasanya tiada hari tanpa obrolan politik. Seakan ia berhubungan langsung dengan hajat hidupnya, padahal tidak; politik tidak lebih hanya sebagai alat kepentingan para elite, alat berebut kue-kue kekuasaan.

Ada berbagai tema politik yang acap kali mereka obrolin. Mulai dari hasil Quick Count dari lembaga survei yang katanya manipulatif, saling klaim kemenangan, sampai isu kecurangan pemilu dan keberpihakan KPU terhadap salah satu calon. Sungguh obrolan politik yang benar-benar menjengkelkan. Mereka menjadi sok tahu urusan politik, melebihi pengamat politik sekelas Cak Adi Prayitno itu.

Jika kubu sebelah menang, otomatis ulama akan dikriminalisasi, Indonesia akan dikuasai asing yang kafir, dan macam-macamlah opini yang dibangun. Sehingga umat Islam wajib berjihad, yang dalam istilah Amien Rais disebutnya people power. Dikira politik ini perang badar apa, kok bawa-bawa jihad segala?

Dan begitu juga sebaliknya, jika kubu sebelahnya lagi yang menang, Indonesia akan berubah jadi khilafah, negara syariah, dan bukan tidak mungkin akan menjadi seperti Suriah dan negara-negara di Timur Tengah lainnya yang hari ini terjadi kemelut perang saudara. Ah, sungguh berlebihan sekaligus menyebalkan.

Padahal ngobrolin politik itu harusnya biasa-biasa saja. Tidak perlu mengerutkan dahi, menyipitkan mata, dan petantang-petenteng ke sana kemari memikul emosi. Ngobrolin politik itu lazimnya pakai otak bukan pakai otot. Ngobrolin politik itu butuh pengetahuan yang dalam tentang politik. Minimal pernah baca buku-buku tentang politik, supaya obrolannya tidak ngelantur dan sedikit lebih berbobot.

Orang yang tidak pernah tahu kondisi riil dan suhu politik yang sesungguhnya atau minimal tidak pernah kuliah politik dan baca-baca sedikit buku-buku politik biasanya cenderung mau menang sendiri dan merasa paling benar. Terkadang keyakinan akan kebenaran persepsinya soal politik melebihi keyakinannya kepada Tuhan-nya. Ah, genit benget.

Orang-orang jenis ini tidak bisa diajak ngobrol baik-baik, ber-mujadalah billati hiya ahsan, tukar pikiran, dan sejenisnya. Karena apa yang sudah diyakininya benar juga harus diamini dan diyakini yang lain. Hukumnya fardhu ain. Tidak ada fardhu kifayah, apalagi mubah.

Sungguh, obrolan politik seperti ini, bagi saya, begitu sangat menjengkelkan. Ia jauh dari nilai-nilai kebenaran akademis. Maaf, bukannya mau sok akademis, tapi paling tidak, kedunguan ini (meminjam istilah Rocky Gerung) tidak terstruktur, sistematis, dan masif. Nanti, kan, dungunya berjamaah.

Menepi dari hiruk-pikuk obrolan politik yang bagi saya sangat menjengkelkan ini merupakan suatu keharusan bagi seorang yang tidak terlalu mahir mengonter opini-opini miring tentang politik, seperti saya.

Sejak tiga hari ini sengaja saya tidak beraktivitas di bagian barat Kabupaten Sumenep, wilayah yang paling ramai ngobrolin politik, wilayah yang hari-harinya dipenuhi dengan obrolan politik; layaknya tumpukan sampah di Jakarta, nyaris tanpa jeda. Di warung kopi, pasar, sekolah, masjid, pengajian, dan bahkan di dalam toilet, mereka ngobrolin politik, entah dengan siapa. Mungkin ngobrol sendirian.

Saya memilih beraktivitas di rumah saya, ujung timur Kabupaten Sumenep, Pulau Poteran. Karena di sini saya menemukan kesunyian dan ketenangan rohani, tanpa hiruk pikuk obrolan politik yang menjengkelkan itu. 

Sehari di sini tanpa obrolan politik itu menyehatkan, menyehatkan mental juga pikiran. Perasaan ingin marah-marah, jengkel, dan syahwat ingin mendebat mereka yang sok tahu tentang politik dan yang katanya ingin berjihad melawan kecurangan pemilu seketika menjadi sirna.

Dan sengaja memang tidak membaca berita-berita politik yang bermuatan hoaks, kebencian, dan caci maki yang bertebaran. Semata-mata bukan karena fobia terhadap politik, tetapi untuk meng-kaffah-kan keinginanku untuk tidak ngobrolin politik, meski hanya sehari.

Anda perlu tahu, di tempat saya tinggal hari ini, orang-orang tidak suka ngobrolin politik, sebagaimana kebanyakan masyarakat Sumenep di wilayah barat, kecuali sedikit. Mereka lebih suka ngobrolin bisnisnya di Jakarta, ngobrolin perihal tangkapan ikan semalam. 

Karena mereka sadar bahwa politik kita dewasa ini tidak berhubungan langsung dengan hajat masyarakat banyak di akar rumput. Politik itu tidak dapat mengenyangkan perutnya. Siapa pun yang jadi Presiden, mereka akan tetap harus cari makan sendiri. Jadi gontok-gontokan hanya karena beda pilihan politik itu bukan hanya tidak penting, tetapi juga mubazir. Mereka sadar itu, termasuk juga saya.

Jadi tidak perlu teriak-teriak jihad dan perang atau menuduh yang lain garis keras, garis lunak atau garis-garis yang lain. Maknai politik biasa-biasa saja. Pandanglah politik dengan kacamata politik, bukan dengan kacamata agama, apalagi kacamata kuda.

Maha benar Pengamat Politik kita, Cak Adi Prayitno, dengan segala sabda politiknya, bahwa politik bukan perang agama, bukan pula perang suku dan golongan. Tak ada guna larut dalam permusuhan sesama anak bangsa. Berbeda politik perkara biasa. Tak perlu dimaknai berlebihan. Berbeda aliran keislaman itu hal lumrah; sebab yang penting itu tetap Indonesia.

Eh, kok malah ngobrolin politik?