Karena rutinitas saya yang menjadi seorang mahasiswa membuat saya sering kali membuat saya bolak-balik dari kota tempat tinggal ke kota tempat saya menjadi mahasiswa. Saya ingat betul kejadian waktu itu. Saat ada waktu libur selama 3 hari karena suatu hal, saya memutuskan untuk pulang ke rumah. 

Alasan saya pulang saat itu selain kangen dengan keluarga, saya pulang karena hampir semua penghuni tempat kos saya pulang ke daerahnya masing-masing. Karena saya takut sendirian akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

Sebenarnya banyak alternatif transportasi yang bisa saya gunakan untuk pulang. Tetapi waktu itu pilihan saya jatuh pada bus antar provinsi. Hal itu saya lakukan karena lebih ramah di kantong saya. 

Pada hari itu saya berangkat, saya menunggu bus di depan universitas saya sekitar jam 10 pagi. Karena hari itu bukan hari libur bus agak sedikit yang beroperasi. Setelah menunggu lama saya pun memulai perjalanan dengan menaiki bus umum yang terkenal akan keugal-ugalannya. 

Perjalanannya terbilang cukup lama. Bisa memakan waktu sekitar 6 jam apabila jalanan sedang padat. Tetapi karena hari itu bukan hari libur alhasil jalanan longgar sehingga perjalanan hanya saya tempuh sekitar 4 setengah jam. 

Perjalananya berjalan normal. Bus sering kali berhenti entah itu di pinggir jalan atau di setiap terminal yang dilewatinya. Saat itu terjadi banyak penumpang entah orang dewasa maupun anak sekolah yang turun dan naik sepanjang perjalanan. 

Tak terkecuali pengamen.

Setiap bus berhenti untuk menaikkan penumpang atau menurunkan penumpang pasti ada satu sampai tiga pengamen yang ikut naik. Usia para pengamen ini cukup bervariatif ada yang sudah tua, ada yang berusia pertengahan, dan beberapa merupakan remaja di bawah umur. 

Cara mereka mengamen terbilang adil dan unik karena mereka bergantian satu berdiri satu duduk entah untuk menyanyi atau pun melakukan hal lain di tengah-tengah rombongan. Awalnya saya tidak merasa terganggu dengan hal tersebut dan memberi mereka atas dasar karena kasihan. Toh hanya seribu atau dua ribu rupiah.

Tetapi hal itu terus terjadi dengan siklus yang sama. Dimana saat pengamen yang berada dalam bus keluar pengamen lainnya masuk. Hingga uang kecil yang saya siapkan untuk jaga-jaga kalau ingin ke kamar kecil habis. Kira-kira uang yang saya habiskan untuk memberi pengamen sekitar 20 ribu padahal harga tiket busnya sekitar 50 ribu. 

Karena itu untuk selanjutnya setiap ada pengemis yang naik ke dalam bus yang saya tumpangi, saya selalu menolak dengan berkata ‘maaf’. Hal itu pun terus saya lakukan sampai saya tiba di kota kelahiran.

Setibanya dirumah saya merenungkan hal yang saya lakukan tadi. Saya berfikir apa yang terjadi tadi? apakah perbuatan saya benar atau salah? 

Yang mana hal itu terus menari-nari di pikiran saya. Disatu sisi saya ingin memberi mereka sedikit uang saya karena dorongan perasaan kasihan dan kemanusiaan. Tetapi di sisi lainnya saya menolak untuk memberi karena jumlah mereka yang terlalu banyak.

Tetapi bukankah sesama manusia itu harus tolong menolong? Bukankah manusia itu harus memberi kepada yang kekurangan?

Sayangnya setelah lama merenungkan hal itu saya merasa memang saya seharusnya tidak memberi para pengamen tersebut. Bukan karena apa tetapi dengan kita tidak memberi, itu bisa membuat para pengamen ini untuk berhenti dan mencari sumber penghasilan lain yang lebih layak. Dan lagi, kebanyakan dari pengamen itu saya rasa mereka masih kuat untuk melakukan pekerjaan yang lebih berat daripada mengamen.

Pasti di luar sana banyak orang yang bernasib sama seperti saya dimana ingin memberi karena kasihan dan kemanusiaan tetapi malah merasa rugi karena jumlah para pengamen yang terlalu banyak. Rasa kasihan dan dorongan untuk berbuat baik itu memudar karena banyaknya jumlah pengamen ini.

Setelah saya mencari tahu. Ternyata banyak sekali peraturan tentang larangan memberi kepada para pengemis dan pengamen. Yang mana tujuan dari dibuatnya larangan tersebut agar dapat mengurangi jumlah pengemis dan pengamen yang menjamur di mana-mana.

Bersedekah memanglah perbuatan mulia dan dianjurkan oleh agama. Namun, sedekah yang berujung pada kebiasaan buruk tidaklah dibenarkan.

Dengan memberi kepada para pengemis dan pengamen ini hanya akan membuat mereka mempunyai pemikiran bahwa meminta-minta adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan. 

Dan hal itu dapat membuat mereka malas untuk berusaha mendapat pekerjaan yang layak. Lalu lambat-laun, perilaku mengemis akan dijadikan kebiasaan dan hal terburuknya adalah menjadi profesi. Yang mana bisa menimbulkan masalah sosial yang lainya.

Berbuat baik dengan bersedekah dan memberi kepada sesama yang membutuhkan sangatlah dianjurkan. Tetapi perbuatan baik yang berujung pada kebiasaan buruk tidaklah dibenarkan.

Dalam bersedekah haruslah kita memilah-milah kepada siapa kita harus memberi sedekah dan pemberian tersebut. Apakah orang yang ingin kita beri ini memang layak atau tidak. Oleh karena itu daripada salah sasaran maka sebaiknya kita bersedekah di tempatnya saja seperti di masjid, panti asuhan, dan lembaga yang bersangkutan karena lebih aman dan terjamin.