Bila sedikit senja berilham secuplik-cuplik...

Bila isak-isak petang membisiki hambanya...

Tolong, bangunkan aku tatkala gelisah merekah jadi rembulan...!

Lihatkah engkau rembulan yang berjongkok lesu di pucuk dermaga sana...?

Engkau pastilah tahu! Perihal yang sebegitu klasiknya...!

Tentang cintamu yang menguap dari bilik-bilik restoran La' Pasta...

Cinta-cinta yang terhidang rapih di atas meja komisaris rembulan...

Tolong, bangunkan aku...

Kala isak-isak senja mencabut nyawa-nyawaku....

Senja yang tengah mengaduk kaldu kebencian....

Senja yang tak pernah bersua satu setengah hari lalu...

Hei senja! Bisakah anda berhenti di antara paragraf-paragraf maghrib selanjutnya?

Dan untuk engkau... Yang telah lama bercengkrama pada rembulan...

Ceritakanlah padaku soal bait magrib...

Aku takut pada senja yang terduduk sedang membelah mata pisaunya...

Sebelum senja menutup tirai-tirai elegi...

Tolong, bawakan aku pada cangkir-cangkir yang berdialog...

Dialog singkat atas prahara rembulan dan dosanya...

Dan sebelum senja meniup kemuning dari utara...

Aku butuh engkau bersanding dalam hiruk pikuk kota Paris...

Berkisah tentang hujan-hujan yang sempat menangis diksi...

Walau cinta tak pernah diskusi dalam cangkir-cangkir di Paris...

Namun engkau selalu mencangkiri seduhan cinta untukku...

Aku sangatlah rindu padamu tepat di bawah rindang pohon selasaran kota Praha....

Aku sangatlah cinta padamu tepat di ujung kalender Beijing bertebaran...

Untuk saat ini...

Bila senja datang diam-diam membawa pisaunya...

Tolong, berikanlah aku secuil ciuman saat mati....

Jakarta, 2018