Apa yang tergambar di sini, bukan jiplakan dari cerita film “Laskar Pelangi”.  Bercerita mengenai muramnya wajah pendidikan negeri kita. Jika film “Laskar Pelangi” bertutur tentang sulitnya anak-anak pedalaman Belitung mendapatkan pendidikan yang layak, di sudut Jakarta, Ibu Kota Negara, masih juga terdapat sekelumit cerita menyedihkan soal pendidikan. 

Langit mendung menggelayut di sudut Jakarta. Sesaat lagi hujan akan menyapa. Rombongan anak berusia 8-12 tahun segera berlari dari tanah lapang, tempat mereka bermain. Mereka menuju gudang besar yang selama empat tahun ini dijadikan sebagai tempat untuk menimba ilmu.

Benar saja, tak sampai hitungan jam, petir menggelenggar, buih air segera turun dari langit, semerbak bau tanah segera menusuk hidung, tak ketinggalan bau sisa-sisa pembakaran sampah juga tercium. Maklum saja, tak jauh dari gudang ini, terdapat 2-3 tempat pembakaran sampah.

Rupanya anak-anak ini lebih senang melihat derasnya hujan yang membasahi tanah lapang tempat mereka bermain. Suara panggilan dari guru mereka diabaikan, mereka tampak tertawa riang ketika salah seorang kawannya berlari tunggang langgang menuju gedung, tak ingin kebasahan karena hujan, mereka tertawa sambil menunjuk ke arah tanah lapang.

“Kan kakak sudah bilang, mau hujan, masuk ke dalam. Kamu malah tetap asik bermain,” tegur pengajar.

Teriakan anak yang lain pun membahana di dalam gudang, ketika si anak ini ditegur. Sang guru pun menggerakan telunjuknya ke arah bibir, pertanda untuk anak-anak yang lain agar tidak membuat gaduh. Tak lama berselang, si pengajar memulai pelajaran kembali.

Di white board yang tampak sudah kusam karena sudah berulang digunakan, ia mulai menuliskan beberapa angka perkalian. Bunyi bising hujan di atas gudang tak menyurutkan antusias  anak-anak ini untuk mengikuti pelajaran.

Seperti inilah proses belajar mengajar di sebuah sudut kota Jakarta, tepatnya di daerah Kampung Depang, Rawasari, Jakarta Pusat. Mereka yang mengikuti proses ini adalah anak-anak kurang mampu. Sebagian besar orang tua anak-anak ini bermata pencarian sebagai pengumpul barang-barang bekas.

Banyak juga anak-anak tersebut yang ikut membantu mencari barang-barang bekas tiap harinya. Keterbatasan dana untuk bertahan hidup, membuat orang tua mereka ‘seolah’ tak mempedulikan arti pentingnya pendidikan.

‘Beruntung’ sejumlah anak muda yang masih memiliki kepekaan sosial, mencoba berbagi ilmu kepada anak-anak ini. Alasan mereka untuk berbagi sederhana saja: pendidikan tak mengenal golongan, ia penting untuk masa depan. Jadi menurut mereka, tak ada alasan untuk anak-anak ini tidak mendapat pendidikan.

Memberikan pendidikan untuk mereka yang kurang secara kemampuan ekonomi memang menjadi ‘tren’ akhir-akhir ini. Sudah banyak sekolah informal yang disediakan untuk mereka yang tak mampu. Gebrakan awal, kita masih ingat bagaimana perjuangan dua ibu kembar untuk memberikan pendidikan anak-anak di bawah kolong jembatan. Gerakan yang kemudian diikuti oleh sebagian kecil manusia yang masih memiliki kepekaan sosial.

Kembali ke Kampung Depang, Rawasari, Jakarta Pusat. Tempat belajar anak-anak ini, seperti yang telah disebutkan, adalah sebuah gudang tua bekas peninggalan Badan Urusan Logistik (BULOG). Gudang ini memang lama tak terpakai, meski secara kepemilikan, gudang ini masih milik BULOG.

Begitu juga dengan tanah seluas kurang lebih 2 ha pun secara hukum masih milik BULOG. Kekhawatiran tentu menghinggapi mereka yang bertempat tinggal dan menimba ilmu di sana. Bukan tidak mungkin, sewaktu-waktu mereka bisa saja harus angkat kaki dari tempat itu.

Peralatan mengajar di tempat ini tentu jauh berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, juga tak seperti sekolah informal yang masih memiliki dana untuk membeli peralatan sekolah. Jangan tanya di mana LCD Proyektor untuk menampilkan materi ajar, atau jangan tanya mengapa kursi dan meja tempat anak-anak ini duduk begitu reyot.

Soal buku materi ajar? Atau soal silabus pengajaran? Juga tak ada. Lalu soal alat tulis? Entah benar atau tidak, salah satu pengajar bertutur bahwa mereka pernah mengambil secara diam-diam beberapa peralatan tulis dari sebuah LSM anak.

“Kami memberikan satu metode pelajaran yang kami sebut pendidikan yang membebaskan. Konsep pendidikan ini dipopulerkan tokoh pendidikan Brazil, Paulo Freire. Tentu kami tak sepenuhnya menjiplak konsepnya, kami sesuaikan dengan kondisi anak-anak di sini,” jelas salah satu pengajar di Depang.

Tapi bukan berarti, tak ada buku materi dan silabus pembelajaran serta konsep pendidikan yang membebaskan membuat proses belajar mengajar di Kampung Depang menjadi tak terkontrol. Kaidah pendidikan untuk saling mendapat dan berbagi ilmu diterapkan. Konsep utama pendidikan dari yang tidak tahu menjadi tahu dijalankan dengan seksama oleh para pengajar di sini.

“Kami melngamati kondisi di sini. Hal apa yang mereka butuhkan. Satu contoh, anak-anak ini sering membantu orang tua untuk mengumpulkan barang bekas, lantas dijual ke penadah barang bekas. Lantas pelajaran apa yang mereka butuhkan dengan kondisi seperti itu? Apakah PPKN? Atau Kimia serta Fisika? Tentu tidak, mereka membutuhkan Matematika Dasar, bagaimana membagi, menambah, mengurang, serta mengkali,” jelas pengajar.

“Ini penting untuk mereka agar tak tertipu. Juga ada pelajaran bahasa Indonesia, mengapa kami berikan pelajaran ini? Asal kampung orang di sini dari Indramayu, dan hampir tiap hari mereka berkomunikasi dengan bahasa ibu. Ini tentu menyulitkan ketika mereka berada di Jakarta,” tambah pengajar.

Satu lagi yang menarik dari proses pembelajaran di Kampung Depang, tak ada jadwal layaknya sekolah-sekolah umum. Murni, apa yang ingin dipelajari anak-anak ini, coba diberikan oleh pengajar. Artinya, pengajar mencoba memberikan pencerahan bahwa pendidikan adalah hak, bukan kewajiban.

Ketika pendidikan dirasa menjadi hak, anak-anak ini pun punya keinginan kuat dan ikhlas dalam belajar, tanpa paksaan yang justru membebankan mereka. Ini tentu mengingatkan kita pada metode yang diajarkan Sosaku Kobayashi

Sosaku Kobayashi adalah guru dari Tetsuko Kuroyanagi/Toto Chan – Tokoh pendidikan asal Jepang yang banyak memberikan inspirasi pada dunia pendidikan. Sekolah yang didirikan Sosaku Kobayashi, memberikan kebebasan kepada siswanya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Setiap siswa bebas memilih pelajaran apa yang ingin dipelajarinya lebih dulu pada hari itu. Hal yang tak jauh berbeda jika kita melihat proses pembelajaran di Kampung Depang.

Secercah harap terpancar dari wajah-wajah ini, sesaat sebelum mengakhiri materi pelajaran di hari itu. Sejumlah anak perempuan tampak tersenyum memamerkan deretan gigi mereka, rambut kusam tampak diikat rapi oleh sang ibu. Sejumlah anak laki-laki sibuk mengelap ingus yang keluar dari hidung mereka. Kulit mereka tampak hitam terbakar sinar matahari. Pertanda kerasnya perjuangan mereka membantu orang tua dengan memulung barang-barang bekas,

Ketika pengajar bertanya di akhir pejaran bertanya:

“Apakah besok masih mau belajar?”

Dengan lantang, mereka menjawab, “Masih!!!” 

Setelahnya, mereka pun berlari ke depan sang pengajar, satu per satu berebut mencium tangan pengajar. Bentuk penghormatan dan rasa terima kasih tiada tara kepada pengajar mereka. Dan hanya itu yang bisa mereka berikan, bukan selembar rupiah tanda uang SPP seperti di sekolah formal lainnya.

“Satu pengalaman saya, ketika ada yang bertanya ke anak-anak ini, siapa yang mau kalian ucapakan terima kasih kelak jika kalian menjadi orang sukses, mereka serentak maju ke depan, menunjuk dan memeluk saya. Saya meneteskan air mata. Meski begitu, hal tersebut bukanlah yang saya cari atau impikan ketika mengajar di sini,” tutup si pengajar.

#LombaEsaiKemanusiaan