Myth is, after all, the neverending story. (Joan D. Vinge – American Author)

Sejak awal, kedekatan manusia dengan mitos seperti telunjuk dan jari tengah. Kita anggota komunitas masyarakat tanpa dipaksa mengakuinya sebagai daya tarik kehidupan. Jika dipikir dengan logika, tak masuk akal. Tapi, siapa tahu apa yang sebenarnya ingin para penyampai mitos tanamkan adalah agar kita jauh dari perbuatan tertentu.

Begitulah, demi mendukung cerita adakalanya perlu menambahkan aroma legenda. Seperti siang itu, saat kuhabiskan jarak pandang terantuk pada tiga lelaki yang sedang mengejar seorang gadis. Rambut hitam si gadis terkibas angin, sebelum ia akhirnya berhenti di tubir laut. Bulu mata lentiknya bergerak diikuti binar bulatnya mengarah pada samudera yang bergelung di bawahnya. Ketiga lelaki pun menahan langkah. Harap-harap cemas dengan kenekatan yang mungkin dilakukan si gadis.

Inilah Pantai Seger tempat temu ramah lekuk tanjung, bukit, dan laut merundingkan orkestrasi alam yang luar biasa indah. Gugus perbukitan yang tersusun dalam beragam bentuk bersama karang-karang seolah menahan rindu pada Samudera Hindia nun jauh yang tak jemu bergemuruh. Dan seperti diketahui dari tepian landai itu, sang Putri Mandalika memulai langkah kaki jenjangnya. Sebelum melabuhkan diri melepas wujud menjadi cacing laut; nyale.

Udara jelang sore masih hangat. Debu tanah kering meruap. Eskavator mengeruk-ngeruk tanah kering hingga menggelepar. Komvaktor melindas membuat pejal. Selain bergiat membangun akomodasi lengkap dengan fasilitasnya, lahan kritis di sekitar pantai diratakan. Kabarnya pembangunan dilakukan untuk arena balap motor kaliber dunia.

Destinasi wisata Mandalika terus dikebut untuk menjadi Nusa Dua berikutnya. Hotel-hotel mewah segera beroperasi untuk menadah tumpahan wisatawan dari Bali. Ujar pak supir bernada bangga. Mobil terus melaju, kembali ke arah kota dan melejang ke sisi Utara mendekati pantai berkersik kelam; Senggigi.

Hari menjelang senja. Kedai minum yang berderet sepanjang jalan mulai menyala. Saya menginap di hotel yang agak jauh dari keramaian. Sebuah hotel dengan arsitektur rumah tradisional Sasak, terbuat dari kayu-kayu rustic dengan pintu kamar kuno. Pohon-pohon palem putri yang dibiarkan meninggi menciptakan atmosfer teduh.

Saya tahu dari beberapa ulasan ada aura mistis yang mereka rasakan di sini. Saya menepis itu. Where there is no imagination there is no horror, begitu Arthur Conan Doyle. Saya melihat tamu-tamu asing pun baik-baik saja. Mereka duduk santai di kursi sekitar teras kolam renang.

Di tepi pasir Senggigi, saya habiskan sisa matahari hingga benar-benar tunduk di pelupuk laut. Dengan sedikit bercanda surya tersenyum menggoda awan yang mulai mendung. Semilir angin burit menuntun saya balik. Ada rasa ganjil saat mendekati halaman kamar. Cahaya redup menyapu pucuk-pucuk tanaman dadap. Selain kamboja dan puring, bunga kantil tumbuh baik di halaman hotel. Bunga-bunga khas pekuburan.

Kepala saya muncul dengan imajinasi yang membuat bulu kuduk meremang. Saya buka pintu gebyok setelah menarik kunci batang kayu. Berderit. Pintu terbuka. Seketika saya tertegun. Hawanya aneh. Inikah tanda hal-hal ganjil ada di ruangan ini. Seperti mimpi tapi rasanya begitu nyata. Saya tak tahu sudah berapa kali merapal doa; semoga malam jangan terlalu panjang.

Selain kawasan Mandalika di Lombok Tengah yang pantai-pantainya sudah mengemuka. Di bagian lain pulau deretan pantai permai relatif sepi dari jamahan wisatawan. Sebutlah Pantai Tangsi dengan pasir merah muda di Jerowaru, Lombok Timur. 

Pantai Tangsi yang wisatawan menyebutnya pink beach berjarak sekitar 60 km dari Kota Mataram. Tapi jalanan yang berbukit dan buruk rupa membuatnya harus dicapai hingga tiga jam lebih. Barangkali ini pula yang menjadikan destinasi elok ini jarang dimasukkan dalam agenda perjalanan para travel agent.

Masih di Jerowaru selain pink beach ada Pantai Segui, Pantai Antak-antak dan Tanjung Ringgit. Fasilitas di destinasi wisata ini pun masih sangat apa adanya. Meski begitu, sebenarnya tak jauh dari pesisir yang berkeluk membentuk busur terdapat sebuah beach camp mewah terpencil yang jadi incaran para honeymooner. Ya, sebagai bukti momen klimaks pengejaran, bulan madu suatu fase manis dalam kehidupan nyata pernikahan perlu dirayakan.

Dan semua tahu Lombok has all the ingredients required to a romantic getaway, perfect for a second honeymoon termasuk bagi para pemburu sepi amatir atau andal. Juga buat seseorang pencari tempat menghindar dari soal tanya kapan menikah yang terus mengejar. Hmm, bukannya saat seseorang memutuskan menikah, ketika itulah ia memulai perjalanan panjang yang asing dan penuh tantangan, kalau tidak menyebutnya menakutkan.

Ini malam terakhir. Dalam perjalanan pulang dari pantai merah jambu saya teringat bagaimana malam kemarin terasa beautifully terrifying. Padahal, sebelumnya terhadap hal-hal berspektrum mistis, saya sangat skeptis bahkan menjurus congkak.

Maka, dengan alasan jarak lebih dekat ke Bandara Praya, malam ini saya memutuskan mencari penginapan sekitar Mandalika. Banyak homestay di sini atau bisa saja memaksa menumpang tidur bersama turis asing yang sejak sore asyik bermain kartu bersama anak-anak pantai itu.