/1/ Panorama Jingga

Bahagia bisa muncul kapan saja. Lirih, hening, pun sederhana. Cukup mengalihkan pandangan ke ufuk barat, menyeruput secangkir kapucino, dan duduk di sampingmu. Perfecto!

Hm, sayangnya 'kau' masih sebatas imaji dan belum ada di sini (sampingku). Yasudah, kau disubstitusikan si kapucino dulu saja, ya. Hehehe.

Tidak ada larangan kan perempuan duduk di tepi senja sambil 'ngopi-ngopi cantik' begini? Pasti ibuku saja yang repot melarang, "Anak gadis tak boleh duduk di luar menjelang Maghrib. Nanti digondol Wewe Gombel!" Hiii, paling Wewe Gombel-nya yang kabur duluan melihat mukaku ternyata lebih seram darinya.

Saat-saat yang dimitoskan seperti ini, 'yang katanya' banyak setan keluar dari sarangnya, justru saat pemandangan ufuk barat sedang indah-indahnya. Aku duduk seorang diri di bawah bentangannya. Sudah sedari tadi, ketika waktu Maghrib kurang beberapa menit. Semoga tak digondol setan, dipikir-pikir kok ngeri juga, sih.

Sengaja kumenunggu langit berganti rona menjadi jingga dan menyapa pengagumnya. Momen yang kuanggap paripurna: jingganya senja. Senja menjadi "pancaroba"-nya hari kemarin, ini, esok, dan lusa.

Detik demi detik prosesnya kunikmati perlahan, senikmat aroma kapucinoku ini. Proses alam tersebut perlahan meremajakan sel-sel dalam tubuhku dan menanggalkan penat seharian ini.

Alam selalu baik, dia menghibur dan mengobati siapa saja tanpa 'tapi'. Walaupun malam akan segera datang, senja bisa membuat kita transit sebentar.

*

Bagi orang introvert, berdiam diri dalam waktu tak terhingga adalah biasa-biasa saja. Tak pernah meratapi sepi, karena sejenak saja senja bisa meramaikan suasana hati. Begitulah aku.

Transitlah sebentar di senja yang indah ini! Ada miliaran orang yang menikmati masa-masa pergantian ini, aku salah satunya. Wajar saja, panorama langit senja memang beribu pesona. Karena itu juga, senja berhasil 'merangsang' ribuan kata menjadi karya-karya seperti puisi, cerpen, novel, atau cerita ini.

Hiruk-pikuk siang mulai sepi, suasana beranjak hening. Detik demi detik pergantian warna senja nyata menakjubkannya. Ketika langit masih cerah, perlahan keemasan, jingga, nila, lalu dongker. Speechless!

Ternyata ada yang tiba-tiba membisukan, firman Pencipta: "Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?" (Ar-Rahman: 13)

Hari lain, mungkin senja alpa. Langit gelap akan berganti hujan yang membasahi bumi. Tiada jingga itu, hari langsung gelap. Dan, tiada masa transit.

Senja legowo berbagi spasi kepada awan yang berubah tetes air. Agaknya aku juga harus legowo menantimu yang masih sebatas imaji. Eaaa.

Jika banyak perempuan menuntut pasangannya akan barang-barang yang mahal agar dibilang 'romantis', maka aku cukup dengan diriku sendiri yang menikmati senja. Ya, tentu akan lebih romantis jika ditemani olehmu yang bukan lagi khayalan!

Kita tidak perlu makan di resto-resto mahal nan mewah, nonton bioskop, jalan ke mal, atau gaya borjuis lainnya. Cukuplah berbincang banyak hal di bawah panorama jingga dan secangkir kapucino seperti ini. Mau?

/2/ Malam

Senja yang indah akan berganti. Juga, malam dingin dan sepi menusuk ini, esok pasti akan berangsur menghangat bersama mentari. Tidak pernah sekali pun mentari ngambek terbit. Kiamat, dong.

Esok akan berujung senja dan menemui malam lagi, begitulah seterusnya. Tidak kurang, tidak lebih kadar ketepatannya. Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya.

Berawal dari ilmu titen (melihat sesuai kebiasaan sebelumnya), manusia selalu belajar dari kebiasaan-kebiasaan di sekitarnya. Dan, sebagaimana kebiasaan dua orang yang saling diciptakan pasti dipertemukan, aku berusaha niteni itu.

Jarak yang dekat akan menimbulkan kesan biasa-biasa saja. Sedangkan, jarak yang jauh akan memacu penasaran tingkat tinggi. Menimbulkan sejuta tanya yang tak kunjung terjawab.

Karena itu, jarak pertemuan kita yang tak biasa, tak pernah berhenti memacu rasa penasaran dan tanyaku. Bagaimana sosokmu?; Kapan kita bertemu?; Di mana aku bisa menemuimu?; dan bla bla bla.

Aku menikmati terjebak perjalanan panjang menujumu. Segala kerapuhan yang kukuatkan sendiri, segala keraguan yang kuyakinkan sendiri, dan segala kepiluan yang kubahagiakan sendiri. Perjalananku tertatih-tatih, penuh godaan, penuh ancaman, dan tuntutan-tuntutan. Seperti kelam malam ini.

Aku mencari separuh jiwaku seperti menaiki wahana roller coaster terseram di dunia. Penuh kejutan dan deg-degan yang ampun-ampunan. Jadi, kupikir aku bisa hemat karena tak perlu mengeluarkan biaya untuk naik wahana itu lagi. Cukup menantimu di kesendirian ini sudah menegangkan dan ampun-ampunan.

*

Mari kita melanjutkan ngopi lagi, wahai kau dalam imaji!

Semua yang berat-berat harus diringankan. Semoga, aroma seduhan kapucino yang sudah dingin ini bisa ikut melarutkan kegundahan.

Biar saja malam ini aku berdua dengan secangkir kopi ini saja. Kenapa harus kuhabiskan dengan seseorang yang membuatku insecure? It's wasting time!

Membuang waktuku saja berbagi cerita dengan orang-orang yang 'memancing di mana-mana'. Umpan satu tak dimakan, umpan lain mungkin dimakan. Makan saja sendiri itu umpanmu!

"Apakah kau begitu?" Lirihku dalam hati kepadamu dalam imaji. Aku yakin, aku tidak akan salah menempatkan pengharapan.

Malam yang kelam dengan perenungan-perenungan. Sedih memikirkan sebagian laki-laki masih berpaham kasta-kasta. Apalagi yang sudah punya uang, semakin menjadi-jadi. Iya, tidak semua laki-laki sama. Pun tidak semua perempuan sama.

Masih ada perempuan yang rela berpetualang mencari kesejatian dalam hidup ini. Yang tidak akan meleleh kau bawakan gepokan uang dan segala jenis kebendaan duniawi.

Semoga kita tidak lelah dalam ketersalingan mencari.

/3/ Kau dalam Imaji

Entah apa yang akan terjadi jika kita saling menemukan. Mungkin aku masih mabuk roller coaster penantian sehingga masih tergagap-gagap tak percaya.

Kubiarkan semua ini mengalir seperti air, kubiarkan semua ini jatuh ke bawah seperti gravitasi, dan kubiarkan kau dalam bayangan saja sampai nyata. Aku tidak akan memburu segala keadaan.

Kau, nanti kita berbincang banyak hal, ya. Aku tak ingin kita dipenuhi kebisuan dan kediaman. Pokoknya, kita harus penuh 'keramaian' dan bincang-bincang! Kalau kau tak suka kapucino sepertiku, biar kubuatkan teh untuk menemani diskusi kecil kita. Gimana?

Nanti, kalau kau bosan makanan rumahan, aku bisa membelikan bakso yang lewat di depan rumah kita. Sayang kan duitnya dihambur-hambur di resto mewah demi status di media sosial, mending kita beli jualannya si pak tukang bakso itu. Menolong dan membahagiakan orang lain indah, bukan?

Atau, kita bisa keluar rumah dan makan nasi goreng di pinggir jalan itu. Tenang saja, aku tidak gengsi atau semacamnya. Kenapa? Makan kan yang penting kenyang, bukan penting tempatnya.

Kita bisa menikmati hari libur kerja dengan berkebun di rumah saja. Kau tahu? Aku suka menanam beragam jenis bunga. Dan, nanti kau bisa bantu menyirami dan memberi pupuknya. Atau, kau boleh beternak ayam di belakang rumah kita dan aku yang memberi pakannya.

Kalau kau mau bermain basket atau olahraga bersama teman-temanmu, ya silakan. Kita tidak harus ke mana-mana berdua, berbaju sama, dan apa-apa serba 'kita'. Aku dan kau tetap individu yang berbeda dengan segala hak masing-masing.

Jika libur agak lumayan lama, kita bisa travelling berdua. Aku suka melihat panorama-panorama alam dan keunikan budayanya. Kuharap kau juga suka (sedikit maksa, hehehe).

Kita hidup sederhana dan secukupnya saja, ya (tapi bahagia seluasnya). Tidak usah bermewah-mewah, tidak usah mengoleksi banyak barang, tidak usah selalu pamer kemesraan di media sosial, dan semoga kita bisa sama-sama 'membumi'.

Besok lagi, ya. Malam makin larut dan kapucinoku sudah ludes. Kau akan kulanjutkan di dalam bunga tidurku.