Menurut data dari Komisi Pemilihan Umum KPU jumlah pemilih pemula 17-20 tahun pada tahun 2017 di Indonesia berjumlah 2.236.672 jiwa, hal ini menjadikan pemilih pemula tak luput dari sasaran sosialiasi baik di tingkat pemilihan kota, kabupaten, hingga nasional. Salah satu cara efektif untuk menggaet para pemilih pemula adalah dengan menggunakan Sosial Media, mengingat pemilih pemula merupakan generasi millenial yang tak bisa jauh dari gadget dan tentu saja Sosial media sebagai ciri utamanya.

Sosial media merupakan tempat di mana kita bisa berkomunikasi dengan semua orang di mana dan kapan pun tanpa terbatas tempat dan waktu. Dalam perkembanganya sosial media pun dijadikan tempat untuk ajang aktualiasasi diri, mengeluarkan ekspresi, dan hiburan (kebutuhan pribadi) bagi para generasi millenial.

Menurut laporan statistik pengguna Facebook (nama salah satu platfrom media sosial) kelompok usia 18-24 dapat dikategorikan pemilih pemula berjumlah 17.417.060 jiwa pada tahun 2015 hampir setengah dari pemilih pemula pada tahun 2017. Data tersebut baru dihimpun dari Facebook belum dari media sosial lainn. Hal ini pun menggundang para kandidat untuk membuat akun media sosial untuk menarik generasi millenial.

Wajarlah, ketika masuk masa kampanye banyak akun para kandidat muncul dan tiba-tiba menyapa di sosial media. Hal ini merupakan salah satu cara mendongkrak popularitasnya di kalangan pemilih pemula. Jangankan mereka yang punya kepentingan, kita juga sebagai rakyat biasa ingin populer. Berharap bisa menjadi artis kaya Justin Bieber, itu kalo kita punya skills yang mumpuni, kalo tidak?

Ya, paling kita mentok jadi Awkarin. Kalian semua suchi aku penuh dosyah. Lah kok jadi nyanyi?. Jadi saya sih wajar ketika para generasi baby boomber tiba-tiba ikutan upload foto dan ikutan jokes jomblo ala Aa Raditya Dika yang dirasa dapat meraih simpati. Walau gak lucu euy.

 Tim sukses pun tak luput menggunakan sosial media untuk melakukan sosialisasinya. Bayangkan tak ada harga untuk mencetak brosur, pamflet, atau biaya mengundang penyanyi dangdut dan jumlah sasarannya pun besar. Cukup bermodalkan uang sebesar 50K untuk paket internet selama satu bulan tapi sudah dapat menyampaikan visi-misi para kandidat ke suluruh Indonesia.

Murah dan Efektif. Penyampaian visi-misi para kandidat ini biasanya diikuti dengan serangan berupa fitnah, olok-olok, hinaan dan jangan lupa foto editan yang dapat memprovokasi. Lucunya adalah sang penghina terlalu sibuk menghina hingga lupa menunjukan kualitasnya. Sebut saja itu dengan Black Campaign, walau istilah Black Campaign itu sendiri tak ada dalam istilah Bahasa Inggris atau setidaknya terdengar aneh bagi penutur Bahasa Inggris.

Mereka lebih mengenal istilah Negative Campaign, mungkin ini karena kita melakukan terjemahan secara langsung (harfiah) dari kampanye hitam. Menurut KBBI Kampanye Hitam adalah kampanye dengan cara menjelek-jelekan lawan politik, dan menurut David Mark dalam bukunya yang berjudul Going Dirty: The art Of Negative Campaign menuliskan the term “negative campaigning refers to the actions a candidate takes to win an election by attacking an opponent, rather than emphaizing his or her own possitive attributes or policies.

Walau sebenarnya Black campaign dan Negative campaign itu sama aja dalam pengertian, tapi penggunaan istilah yang tepat jauh lebih baik, jadi jangan sebut Black Campaign tapi sebut dia Negative Campaign, Ok.  Ya itu mah cuman sekilas agar penulis terlihat intelek.

Ketika pemilihan presiden 2014, Jokowi-Kalla dan Prabowo-Hatta, saya baru duduk di kelas 3 SMK. Di beranda Facebook saya Negative Campaign mudah ditemui, bahkan lebih mudah menemukan tulisan Negative Campaign daripada status alay di kala masa kampanye tersebut, walau kedua-duanya sama-sama mengelitik dan patut untuk ditabok.

Astagfirulloh, kasar, walau demikianlah keinginan saya ketika membaca tulisan negative campaign. Kalimat penuh ejekan, hinaan, dan berbau SARA begitu gamblang di tuliskan dan entah bagaimana tulisan seperti inilah yang mudah beredar mendapakat share yg besar.

Meski saya akui penggunan tata bahasa serta sumber data yang sebenarnya gak jelas juntrungnya berhasil membuat sebagian termasuk saya untuk meng-iya-kan tulisan tersebut dan membuat saya setidaknya selama masa kampanye membenci saingan pilihan saya.  

Tulisan-tulisan Negative Campaign ini selain memiliki jumlah share yang banyak juga mendapatkan komentar yang banyak, saya rasa kolom komentar inilah yang terbaik. Pusat dari humor sesungguhnya. Bagaimana tidak? Meme bermunculan dengan segala tulisan dan editan yang lucu, debat kusir antar sesama pendukung yang terlihat cerdas, sarkatik, dan penuh hoax menghias di kolom komentar hingga menyentuh berjuta-juta komentar.

Saya yakin jika dibukukan mungkin bisa bersaing dengan buku Koala Kumal milik Aa Raditya Dika, adakah penerbit yang mau?. Debat kusir ini pun terbawa hingga ke dunia nyata walau masih berupa percakapan dan berhasil membuat percikan amarah.

Rasanya sering sekali saya cekcok dengan teman-teman saya kala kampanye berlangsung, tapi segara berbaikan ketika teringat Ujian Nasional yang akan segera di hadapi. Hal ini membutikan bahwa begitu efektifnya sosial media untuk dijadikan sarana sosialisasi bagi tim sukses bukan hanya bagi pemilih pemula bahkan pemilih berpengalaman. Eh ini saya menggunakan istilah yang benarkan?.

Di akhir tulisan saya berharap bahwa negative campaign ini tak sebebas sewaktu pemilihan tahun 2014, saya harap Dalang yang terbukti melakukan Negative Campaign  dapat di jerat UU ITE agar tak ada lagi akun, tulisan atau halaman berisi Negative Campaign. Lalu saya berharap juga pada Badan Pengawas Pemilu memberikan perhatian khusus terlebih di media sosial mengingat betapa cepatnya peredaran negative campaign di media sosial.

Untuk teman sejawat saya rasa cara paling efektif untuk menghindari negative campaign adalah dengan tak bermain sosial media. Eh maksudnya untuk tak segan melaporan, block atau setidaknya tak ikut menyebarkan Negative campaign. #LombaEsaiPolitik