Waktu membawa saya bersahabat dengan seorang gadis manis beragama Islam. Saya lupa, kapan kami mulai bersahabat. Namun hal yang saya ingat adalah selalu menemaninya ke masjid untuk sholat dan juga mengajak dia mengikuti doa Taize di asrama. Seiring berotasinya waktu, ia sering berkunjung ke asramaku. Kami tidak hanya membicarakan masalah kuliah, keluarga tetapi juga tentang agama masing-masing walaupun hanya seputar ritus seremonial belaka. 

Dari obrolan ini kami menyadari bahwa dengan mengetahui kayakinan agama masing-masing, cakrawala berpikir kami makin terbuka, terbuka pula ruang untuk bersahabat dan tentunya semakin menguatkan iman. Saya akhirnya tahu bahwa dia seorang muslim yang baik dan harus tetap teguh dalam iman kepercayaannya. 

Sampai sejauh ini saya menyadari bahwa perbedaan agama telah membuat kami bersahabat.

Ini adalah sebuah pengalaman kontras. Sebab, sebagian besar orang melihat perbedaan sebagai kancah adu kelebihan. Pengalaman kontras ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah kenyataan yang harus dipeluk di bangsa ini. Lari dari kenyataan ini tidak ada garis finisnya. Maka pelbagai tindakan kekerasan, ujaran kebencian antar agama dan lain sebagainya adalah potret pilu dari orang-orang yang tidak berani menghadapi kenyataan.

Padahal bila merefleksikan fungsi agama akan tampak betapa cemerlangnya aura agama bagi kehidupan manusia. Sebab agama adalah wadah di mana manusia semakin dimuliakan hingga mencapai pemenuhan di akhirat. 

Dengan demikian agama bukan ruang pelucutan harkat manusia hanya karena sebatas perbedaan. Agama adalah gudang untuk amunisi cinta kasih di mana segala tindakan kejahatan diminimalisir dan dinetralisir. 

Agama adalah lahan untuk membangun peradaban kasih. Sebuah lahan di mana manusia dapat bertumbuh bersama dalam kedamaian dan ketentraman lahir dan batin.

Semua bentuk kekerasan atas nama agama yang belakangan ini viral, apakah tanda bahwa agama semakin mundur ke belakang dari konsentrasinya di bidang sosial-religius? 

Ini sebuah pukulan telak bagi agama sebab agama sejatinya untuk manusia. Tuhan tidak butuh agama. Manusia membutuhkan agama supaya arah dan tujuan hidupnya jelas, baik seperti Tuhan.

Maka sudah seharusnya ketika agama tidak lagi menghargai manusia, kita patut untuk bertanya pada diri apakah saya menyembah Tuhan atau menyembah ego pribadi. Sebab bila Tuhan yang disembah maka kemanusiaan secara otomatis berada pada level paling atas untuk dijunjung. 

Untuk itu agama jangan terlalu banyak persimpangannya nanti bisa mati rasa terhadap kemanusiaan. Agama jangan dijadikan sebagai alat politik sebagaimana Machiaveli usulkan. 

Politisasi agama, ekonomisasi agama dan lain sebagainya ujung-ujungnya adalah melupakan manusia karena di sana tarik ulur kepentingan dimainkan dan mereka yang kecil, miskin, tersingkir akan menjadi korbannya.

Persis pada titik tarik ulur kepentingan ini lahir sikap intoleransi. Buntutnya adalah lahir keyakinan bias bahwa keberagaman adalah ancaman. 

Keyakinan bias ini telah meninggalkan luka tak terperikan di dunia semisal, perang antar agama, suku, ras, teror atas nama keberagaman agama dan lain sebagainya. Pelbagai luka ini membuat profil satu agama dengan yang lain tampak buram dan buruk. 

Inilah getirnya luka yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin lari dari kenyataan keberagaman.

Toleransi dan Luka masa lalu

Ada pepatah yang mengatakan “corruption optimi pessima, kebobrokan dari yang terbaik itu terjelek”. 

Bila pepatah ini dikonvert ke dalam konteks agama maka pelbagai tindakan kekerasan antar agama, peperangan, teror dan pelbagai tindakan yang tidak menyumbang nilai bagi kemanusiaan adalah yang terburuk. 

Maka agama harus memulihkan nama baiknya. Ia harus menyembuhkan luka itu. 

Hemat saya toleransi adalah  salah satu obatnya. Mungkin ini adalah sumbangan terbesar agama bagi manusia Indonesia yang religius dan beragam ini. Dengan toleransi orang dibantu untuk melepaskan diri dari bayangan buram hantu masa lalu.

Luka agama-agama pada masa lalu harus disembuhkan. Bila tidak disembuhkan maka akan menutup mata dan hati setiap orang untuk melihat keberagaman sebagai sebuah keindahan. 

Luka yang tak tersembuhkan menjadikan orang gagal memahami bahwa keharmonisan justru bertumbuh dari keberagaman. 

Dalam konteks ini toleransi mempunyai peran yang sangat vital yakni mengajak orang untuk saling mengenal, berbagi kisah kasih, saling mengagumi dan mendukung dalam mencarikan jalan keluar demi kemaslahatan manusia. Dengan demikian toleransi yang berasal dari kata Latin “”tolere” yang berarti “membiarkan, memaklumi keberadaan yang lain" memerdekakan kemanusiaan. 

Toleransi itu tidak menutup diri. Justru penekanan utamanya adalah membuka diri. Dengan lain kata toleransi lebih menekankan pada titik mengenal kehadiran yang lain dan menjaga kehadiran itu dalam keadaan aman.

Maka toleransi itu soal keintiman relasi antar manusia. Toleransi tidak hanya sekadar membiarkan orang lain melakukan apa yang harus ia lakukan tetapi menuntut setiap pribadi bertanggungjawab terhadap kenyamanan dari sesama atas apa yang mereka lakukan dalam agama atau budaya mereka. 

Toleransi harus menjadikan setiap pribadi polisi bagi keamanan sesama. Toleransi itu menjujung tinggi harkat manusia. Kedamaian, kesejahteraan, kerukunan dan lain sebagainya adalah jaminan bila semua agama memahami dan mempraktekannya.

Praktek toleransi itu harus dimulai dari keyakinan bahwa semua orang pada hakekatnya sama harkat dan martabatnya di dunia ini. 

Semua orang sama sebagai ciptaan Tuhan yang mulia dan satu sebagai pejuang bagi kebebasan manusia Indonesia dari pelecehan bangsa asing. Dengan dasar ini siapapun dapat didekati dan mendekati, terbuka untuk saling mengenal, kerjasama dan tentu saling mempedulikan kemaslahatan satu sama lain. 

Sampai pada titik ini keberagaman agama menjadi sebuah tanda positif karena akan ada beragam cara pula orang menyembah Tuhan sekaligus mengakui bahwa Tuhan tidak terbatas, apalagi hanya pada agama tertentu.

Ketika setiap agama mempraktekan sikap toleransi maka ia menyembuhkan luka masa lalu yang penuh kecurigaan dan sentimentil. 

Jika ingin membahasakan dengan analogi, bertoleransi itu seperti mesin thermostat yakni disaat suhu udara panas dia dengan sendirinya beraktifitas sebagai pendingin dan disaat suhu udara dingin ia menjadi penghangat. 

Pointnya adalah pada titik yang paling rendah toleransi itu harus menyumbangkan keselarasan hidup dengan alam semesta dan manusia dalam segala situasi terlebih situasi keberagaman dalam hidup bersama.

Agama dan toleransi sejatinya satu paket. Sebab agama sebagaimana pengertiannya dalam bahasa Latin “religio” yang tersusun dari kata “re-ligare” bermakna wadah untuk mengikat kembali. 

Oleh karena itu dengan beragama dimaksudkan agar orang kembali terikat dengan Tuhan yang tentunya tampak dalam kesatuan dan keterikatan dengan manusia dan ciptaaan lainnya. 

Maka ketika agama tidak menyumbang nilai bagi kebaikan manusia terutama untuk mendapatkan hidup yang baik dan layak di dunia, ia menjadi kontraproduktif.

Dengan konsep seperti ini maka tidak ada tempat bagi agama apapun yang mencederai kemanusiaan. 

Ketika agama tidak membawa orang untuk pro kemanusiaan maka pada saat yang sama agama tidak hanya telah kehilangan taring dimensi sosialnya tetapi juga kehilangan keilahiannya. Sebab agama, keilahian (iman) dan kemanusiaan (sosial) adalah satu paket. Paket ini yang menjadikan eksistensi agama di dunia ini bisa diandalkan dibandingkan dengan pelbagai institusi sosial lainnya. 

Agama dalam dirinya mempunyai kekuatan yang mendorong manusia untuk bersolider dengan sesama. Kekuatan itu adalah iman.

Pada hakekatnya menjadi orang beriman, bukan pertama-tama supaya mendapatkan tempat yang istimewa di akhirat, di surga atau supaya tereliminasi untuk masuk neraka. 

Level pertama iman adalah untuk hidup baik di dunia ini dengan sesama dan juga alam ciptaan lainnya. Sebab iman sejatinya adalah rahmat yang dianugerahkan kepada manusia supaya dapat melihat kebaikan, sukacita dan kemurahan Tuhan dalam kenyataan konkrit yang beragam, yang menggelisahkan, menakutkan dan lain sebagainya. 

Dengan demikian manusia dimampukan untuk melakukan hal yang sama kepada sesama dan alam ciptaan lainnya. Maka semakin beragamnya agama sebenarnya semakin menampakan betapa banyaknya tangan-tangan baik yang datang dengan beragam pendekatan untuk berjuang mengangkat manusia dari pelbagai keterpurukan semisal perang, teror, kemiskinan dan lain sebagainya. Inilah identitas agama yang sejati. 

Maka segala sesuatu yang melecehkan kemanusiaan adalah musuh utama agama.

Persahabatan bersifat Segitiga

Saya teringat tokoh Yunani kuno yang bernama Plato. Ia mengatakan persahabatan itu selalu bersifat segitiga. Di antara dua orang berbeda ataupun sama mereka dapat membangun sebuah persahabatan karena kehadiran sahabat ketiga. Sahabat ketiga ini yang kadang tidak diketahui persis. Walaupun demikian dia mempunyai peran yang menentukan eratnya sebuah persahabatan. 

Sahabat ketiga itu hadir sebagai perekat, penentu yang kadang dilalaikan dalam kehidupan bersama. 

Dulu bangsa Indonesia sangat kuat bersatu karena memiliki sahabat ketiga yaitu keinginan untuk bebas dari luka kemanusian akibat penjajahan. Sebut saja tokoh Masyumi bersahabat dengan tokoh-tokoh Katolik, Protestan dan pemimpin agama lain. 

Masih tercatat rapi dalam sejarah persahabatan yang terjalin antara tokoh seperti Natsir atau Prawoto Mangkusasmito dengan I.J. Kasimo, Herman Johanes, A.M. Tambunan atau J. Leimena yang tetap terjaga hingga revolusi kemerdekaan bahkan pasca kemerdekaan.

Lantas setelah penjajah diusir sekian puluh tahun, apa kabar persahabatan orang-orang di Indonesia yang beragam agama? 

Pelbagai ketimpangan sosial adalah wajah baru dari penjajahan di bangsa ini, sebuah penjajahan kemanusiaan. Namun tampaknya agama-agama telah kehilangan sengat, mati rasa hingga membiarkan manusia terkapar tak karuan. 

Agama bahkan tidak sanggup  membaca tanda-tanda bahwa orang tidak dapat beragama dengan baik bila lapar, mengalami ketidakadilan, perang, terluka dan lain sebagainya. 

Hemat saya untuk mencegahnya bangsa ini harus mencari sahabat ketiganya dan menumbuhkannya. Jujur saja, tanpa sahabat ketiga ini kebersamaan hanya sebatas kata dalam konsep. Kita ada bersama sebagai bangsa tetapi tidak bersatu sebagai manusia.

Sikap toleransi harus dibangun dengan mencari dan menemukan sahabat ketiga itu. Menurut saya sahabat ketiga itu adalah melakukan kegiatan sosial lintas agama, suku, ras, golongan dan lain sebagainya kepada mereka yang miskin, tersingkir dan difabel. 

Sebagai contoh kegiatan pendampingan warga miskin kota, pendidikan bagi anak-anak di pelosok tanah air, pemberdayaan warga miskin dipelbagai bidang seperti pertanian dan lain sebagainya. Atau juga kegiatan lintas agama semisal kegiatan tinggal di Pesantren, Gereja, Wihara dan lain sebagainya.

Tujuan di balik pelbagai kegiatan ini adalah selain untuk tujuan utama kemanusian tetapi juga untuk mengakrabkan kembali mata, telinga, hati dan pikiran orang-orang Indonesia akan bangsa ini yang masih bisa bekerjasama, hidup bersatu dan harmonis dalam keberagaman. 

Hal ini juga dapat mengembalikan agama pada titik orbitnya. Sebab selama ini agama seakan absen. Agama lebih menguduskan hal-hal di luar dunia ini dan lupa menguduskan kehidupan saat ini. 

Di sisi yang lain agama mengurusi dunia ini tetapi terlalu duniawi sampai mengorbankan manusia. Jika agama kebablasan sampai titik ini kapan saja ia bbisa menjadi monster bagi yang lain di dalam kehidupan bersama.

Sejatinya pelbagai kegiatan kemanusian yang bersemangatkan kebajikan seperti kebaikan, cinta kaksih, sukacita, tolong menolong adalah nilai-nilai yang tidak beragama, tak bersuku, tak ber-ras yang bisa diterima oleh siapa saja dan boleh dilakukan oleh siapa saja. 

Ini adalah obat untuk menyembuhkan luka antar agama yang pernah terjadi di masa silam sekaligus mencegah luka di masa depan. 

Sampai pada titik ini agama sungguh mempunyai energi untuk memberdayakan kemanusiaan sakaligus membebaskan dirinya sendiri. 

Untuk alasan semacam ini eksistensi keberagaman agama seharusnya dirayakan sebab pada saat yang sama merayakan kemanusian universal.

Merayakan Keberagaman: Merayakan Kemanusiaan

Setelah menerjang masa-masa kelam bersama sebagai bangsa yang beragam, harus diakui bahwa keberagaman adalah Indonesia. 

Indonesia tanpa keberagaman adalah tidak bisa dibayangkan. 

Dengan lain kata eksistensi Indonesia ditentukan oleh keberagamannya. Maka menolak keberagaman adalah kudeta karena ingin membubarkan bangsa ini.

Kemanusiaan Indonesia tercabik bila keberagaman ini tidak dirayakan sebagai sebuah syukur. 

Sebab keberagaman inilah yang telah menopang bangsa ini merayakan kehidupannya sebagai manusia yang merdeka. Sampai pada titik ini semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” itu bukan mitos, bukan imajinasi tetapi fakta yang harus disyukuri dan dirayakan.

Dengan demikian untuk merayakan keberagaman adalah merayakan kemanusiaan Indonesia, merayakan kesatuan bangsa ini, meneriakkan kemerdekaan manusia, menyerukan kebebasan beragama. 

Lebih jauh kemanusian yang dirayakan akan menjadi toleran. Dengan demikian konsekuensinya adalah tersembuhkannya luka masa lalu dan perjalanan ke masa depan lebih ringan sebagai bangsa yang pancasilais dan beragam agama.