Aku Rara, mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sebentar lagi aku akan menyandang gelar sarjana. Sebuah mimpi yang sejak masuk kampus telah tertanam begitu kuat. Bukan apa-apa, aku berasal dari keluarga yang serba kekurangan.

Sudah dua tahun bapakku luntung lantang mencari pekerjaan pasca di PHK secara sepihak lantaran berdemonstrasi karena menuntut upah yang layak. Sementara itu ibuku berjualan kue dari rumah ke rumah. Satu-satunya sumber pendapatan keluargaku adalah dari ibuku.

Dengan kondisi seperti inilah aku merasa dengan mendapat gelar sarjana, akan lebih memudahkan kedua orang tuaku untuk keluar dari jerat kemiskinan dengan bekerja apa saja dan juga menghadiahkan senyum di wajah kedua orang tua ku yang telah bekerja keras untuk menyekolahkan ku sampai detik ini.

Aku sendiri anak pertama dari tiga bersaudara. Adik yang pertama masih mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas.

Sementara adik ku yang bungsu masih berumur 8 tahun. Dialah yang membantu ibu ku untuk menjajakan kue kesana kemari. Berbeda dengan anak-anak sebayanya yang dengan ceria menghabiskan masa kecil. Dia terpaksa merasakan kerasnya hidup yang dimana belum seharusnya dia rasakan itu semua diumur yang belia.

Dia juga terpaksa mengubur mimpi-mimpinya untuk merasakan dunia pendidikan karena kondisi ekonomi.

Pertanyaan demi pertanyaan tiba-tiba muncul dan menyerang hati nuraniku. Di mana slogan-slogan Pendidikan Gratis yang selama ini digaungkan pemerintah? Di mana pendidikan yang katanya tujuan sejatinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Di mana pendidikan yang katanya menjadi hak semua warga negara seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945? Semuanya hanya bullshit. Semuanya hanya palsu.

Apa yang dialami adik ku secara khusus dan keluarga ku secara umum hanyalah contoh kecil dari abainya negara dalam melihat rakyatnya yang begitu melarat.

---

Menjadi mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menyelesaikan studi, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan lagi, hati kecilku berkata, dimana pendidikan gratis itu?

Memang, di kampusku tersedia beberapa beasiswa. Namun, beasiswa itu bukan untuk aku yang selalu melempar kritik kepada birokrasi kampus. Beasiswa itu untuk mereka yang tunduk dan patuh kepada birokrasi kampus. Beasiswa itu untuk mereka yang bungkam dengan segala kebijakan yang dikeluarkan kampus, sekalipun kebijakan tersebut sama sekali tidak berpihak kepada mahasiswa.

Aku tetap teguh pada pendirian untuk tidak menyandera idealisme ku dengan iming-iming beasiswa.

Dengan kondisi yang seperti ini, dengan berat hati aku pun terpaksa menjadi kupu-kupu malam agar bisa menutupi biaya kuliah dan meringankan beban orang tua ku.

Aku tahu, itu adalah jalan yang begitu keliru bagi sebagian atau mungkin semua orang. Tapi sekali lagi, ini adalah pilihanku.

Suatu waktu, pelangganku bertanya alasan kenapa memilih hidup di dunia malam, padahal ada banyak pekerjaan yang bisa aku lakukan.

Sebenarnya aku malas untuk meladeni tapi karena dia adalah pelanggan yang akan memberiku pundi-pundi uang, terpaksa aku harus bersikap ramah.

Aku lalu menjelaskan bahwa sudah berulang kali aku melamar kerja kesana kemari. Tapi semuanya nihil tanpa hasil.

---

Banyak orang yang menganggap untuk menjadi pelacur itu sangat mudah. Sisa bersolek lalu menjajakan diri kepada lelaki. Oh tidak. Aku harus mematikan dulu perasaannku, mengubur mimpi-mimpiku, bahkan mengubur masa depanku. Tak jarang pula, aku mendapat tindakan yang tak sepantasnya dari pelanggan seperti dipukul, ditampar sebelum disetubuhi.

Banyak orang yang menganggap untuk menjadi pelacur itu sangat mudah. Tidak. Sekali lagi aku katakan tidak. Aku harus berdandan dan tampil cantik agar pelanggan mau memakai jasa ku. Apalagi saat ini persaingan yang semakin ketat. Dan satu hal yang perlu diketahui, menjadi pelacur maka aku pun harus siap dengan segala hujatan dan makian karena sebuah pekerjaan yang begitu hina di mata semua orang.

Label perempuan yang tak bermoral, perempuan yang tak punya malu, perempuan bajingan sudah melekat padaku. Entah sampai kapan semua itu harus aku tanggung.

Aku hanya bisa menerima semua hujatan itu dan membalasnya dengan senyum merekah dan berujar dalam hati “Iya, aku yang penuh dosa dan kalian semua suci tanpa dosa”

---

Kini aku menjadi hina. Jangankan menyapa, memandangku saja orang-orang merasa jijik.

Lalu kepada siapa aku harus bersandar jika semua orang sudah tidak mau lagi meminjamkan bahunya untuk aku melepas penat? Lalu kepada siapa aku harus mengadu jika semua orang sudah tidak mau lagi mendengarkan kisahku?

Kepada tuhan? Jangankan berdoa, menyebut namanya saja aku sudah diharamkan oleh orang-orang yang menganggap dirinya suci.

Ibu, bapak. Maafkan anakmu yang terpaksa harus menjadi pelacur. Aku tahu, ini bukan jalan yang kau restui. Tapi semua itu semata-mata dengan niat yang mulia, yaitu untuk membantu meringankan bebanmu dan lekas menjadi sarjana agar kalian bangga.