Dewasa ini kita melihat begitu banyak budaya-budaya baru yang muncul ke permukaan, budaya-budaya tersebut dapat berasal dari dalam maupun luar negeri. Namun, ada satu budaya sederhana yang justru menjadi suatu polemik dalam kehidupan sehari-hari kita, yaitu beberes setelah makan di rumah makan.

Budaya beberes ini mulai menjadi polemik ketika salah satu perusahaan waralaba yang menekuni bidang kuliner mulai melakukan sebuah kampanye mengenai budaya beberes, di mana para pengunjung rumah makan yang bersangkutan dihimbau untuk membereskan makanan yang telah mereka makan dan meletakkannya di tempat yang tersedia. 

Para warganet pun saling beradu argumen mengenai budaya seperti ini, sayangnya jumlah warganet yang memberikan tanggapan negatif jauh lebih banyak daripada yang positif.

Respon negatif ini umumnya dikeluarkan oleh para warganet yang masih memiliki jiwa ingin dilayani karena mereka telah membayar sejumlah uang pada rumah makan tersebut. Ada juga yang beranggapan bahwa kalau mereka melakukan budaya beberes, maka karyawan rumah makan yang bersangkutan akan menganggur dan seakan-akan tidak bekerja sehingga mendapatkan gaji buta. 

Ada juga yang berpikiran bahwa mereka tidak perlu membereskan sisa makanan mereka karena akan ada orang lain yang baru datang membereskan makanan mereka supaya mereka dapat tempat duduk. Di antara banyak orang yang masih berpikiran tertutup ini, ternyata masih terdapat orang-orang yang bersimpati dan mendukung gerakan ini.

Mereka yang mendukung umumnya berkata bahwa budaya seperti ini justru berasal dari barat. Saya pribadi berpendapat budaya beberes ini memang harus ditanamkan sejak kecil karena apa yang ditanam sejak kecil tidak akan pernah dilupakan ketika dewasa.

Ini sama sekali bukan tentang gaji karyawan rumah makan yang memakan gaji buta atau tentang uang yang telah dibayarkan kepada rumah makan tersebut, tapi ini merupakan sebuah bukti bahwa masih banyak orang Indonesia yang pemikiran dan pandangannya harus dibuka. Membereskan makanan yang telah habis merupakan sebuah tindakan kecil tapi sangat mulia dan secara tidak langsung akan berdampak bagi beberapa orang.

Ketika kita membereskan makanan kita dan membersihkan meja makan seperti saat kita masuk ke dalam rumah makan tersebut, maka saat kita meninggalkannya dalam keadaan bersih, orang lain yang datang ke rumah makan tersebut dan melihat meja kita bersih secara tidak sadar akan berterimakasih kepada kita karena mereka tidak perlu repot-repot membersihkan meja tersebut, khususnya bagi mereka yang datang dengan membawa makanan baru. 

Pihak lain yang diuntungkan adalah pihak rumah makan, khususnya karyawan yang terlibat. Para karyawan ini masih memiliki tugas yang jauh lebih penting daripada hanya membereskan sebuah makanan sisa yang ditinggalkan oleh konsumennya, tidak peduli membereskan maupun tidak, para karyawan ini akan digaji sama. 

Ketika para pengunjung rumah makan memiliki partisipasi yang tinggi dalam kampanye gerakan beberes setelah makan, maka para karyawan ini dapat melakukan pekerjaan mereka yang lebih penting sehingga mereka dapat menjadi lebih produktif. Budaya ini sangat mudah dikatakan, tetapi sangat sulit dilakukan jika tidak ada penanaman budaya sejak dini.

Budaya beberes dimulai sejak kita masih kecil dan harus digalakkan secara terus-menerus dan berkelanjutan supaya tertanam kebiasaan dan kemudian akan tumbuh dengan sendirinya sebagai budaya. 

Ketika saya masih anak-anak, ibu saya selalu menyuruh saya supaya meletakkan piring dan alat makan lainnya ke tempat cuci piring yang terdapat di dapur rumah. Hal ini beliau tanamkan dalam diri saya dari saya TK hingga saat ini. Saya pun sering lupa melakukannya karena pengaruh situasi setempat, tetapi berkat penanaman terus menerus, kebiasaan tersebut tumbuh dalam diri saya. 

Saya tidak hanya memberesi piring tersebut di rumah, tetapi juga di tempat makan atau ketika di warung kaki lima, saya selalu mengembalikan piring sisa makanan saya kepada pemiliknya di tempat yang tersedia. 

Ini akan terlihat sangat aneh pada awalnya, tetapi ketika dilihat lebih lanjut ke depannya, hal sederhana ini justru sangatlah indah karena perbuatan kita mencerminkan pikiran, etika, dan cara kita bereaksi terhadap lingkungan sekitar sehingga budaya semacam ini harus terus digalakkan.

Pada akhirnya, budaya beberes merupakan langkah awal untuk memperbaiki budaya dan etika rakyat Indonesia. Masyarakat hendaknya tidak hanya memikirkan diri sendiri saja, melainkan memiliki kepekaan terhadap keberlangsungan hidup orang lain di sekitarnya. 

Pelayanan yang dilakukan bukan karena kewajiban dan tanggung jawab, melainkan karena ketulusan hati dan kesadaran diri terhadap lingkungan sekitar akan bernilai lebih kuat paling tidak bagi dirinya sendiri dan kemudian bagi orang lain di sekitarnya. 

Budaya beberes akan menjadi sebuah awal dari sebuah revolusi pendidikan moral dan etika di Indonesia yang dapat mengubah rakyat Indonesia menjadi rakyat yang luar biasa kepribadiannya.