Saat orang lain berkata jangan menangis, aku akan berkata padamu menangislah sekencang-kencannya di lorong gelap itu. Lorong gelap yang kutinggalkan dalam keterpurukan. Tangisilah semua kesedihan yang telah kutanggung. Kau tahu? Harus ada satu orang penerus yang menggantikanku. 

Satu hari yang mendung, kau menghampiriku dengan sukarela tanpa kuminta ataupun kusuruh. Kau datang dengan kehampaan yang seakan menyambar seluruh tubuhmu hingga ke urat-uratnya. Dahulu, mungkin aku akan bahagia dan senang melihatmu mendatangiku. 

Namun, tidak untuk kali ini. Rasa sakit telah menjalar ke dalam nadiku. Membentuknya menjadi sebuah daging berbau amis yang kemudian menjelma serupa rasa benci. Benci tak terbendung hingga tak sanggup lagi kuutarakan. 

Bayangkanlah penderitaanku yang harus menanggung semua itu. Tak tertahankan. Kuyakin tubuhmu pun tak akan sanggup menahannya. Dan dengan enteng kau menghampiriku?

Dengan gontai, kau berhenti tepat di teras rumahku. Seakan setumpuk keengganan bergerombol dalam hatimu. Aku hanya menatapmu di dalam rumah lewat jendela. Menyembunyikan diri di antara gorden. Telah sekian lama memprediksi kedatangan mengejutkanmu, walau sesungguhnya aku sama sekali tidak terkejut. 

Tak ada sedikit pun keinginanku untuk menghampirimu apa lagi menyambutmu. Dengan tersembunyi, aku hanya akan melihat. Memastikan dirimu. Namun kau tetap terdiam. Menatap penuh kekosongan tepat ke arah pintu. Apa yang tengah kau tatapi? Tidak adakah sedikit pun niatmu untuk melihatku?

Saat tubuhmu tak juga bergerak, barulah aku paham. Saat angin sepoi-sepoi  menerpa rerumputan dan rambut hitam kelammu, barulah aku mengerti. Bahwa dalam dirimu, entah itu hati atau jiwamu, semuanya telah mengikis. Melebur dalam suatu kepahitan tersembunyi. 

Karena kepahitan itu begitu dalam bersembunyi, mungkin itu sebabnya kau tak pernah bisa menyadarinya. Atau barang kali, kau memang tak sudi untuk membuat dirimu sadar. Embun gelap yang perlahan membuat matamu buram sepertinya kini telah membutakanmu. Semuanya telah berlangsung lama namun aku baru menyadarinya. Atau setidaknya, aku baru bisa menerima kenyataan miris itu. 

Lagi pula, kau memang sudah sangat lama meninggalkanku. Perjalanan panjangmu begitu berat dan sulit kukejar. Hingga tanpa sadar, kau telah menghilang dalam pandanganku. Menghilang sepenuhnya meninggalkan jejak serupa wangi parfum. Terasa wangi namun bau dalam sekali waktu. 

Dan lambat laun, kelelahan menyergapku. Membuatku menghentikan segala hal yang kulakukan untukmu. Butuh waktu yang lama agar aku bisa menyadari bahwa apa pun yang kulakukan dengan mengatas namakan “demi dirimu” sangatlah sia-sia. 

Lalu aku berhenti. Menghentikan langkah dan hatiku untuk terus mengejarmu. Sambil berharap kau akan menoleh dan mengulurkan tangan padaku. Namun percuma. Tak peduli selama apapun aku menunggu, dirimu yang dulu tak pernah kembali. Kau terlanjur berubah dan aku terlanjur melepaskanmu. 

Seandainya... andai sekali saja aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin kembali merombak hidupku. Atau setidaknya, tak pernah membiarkanmu pergi. 

Kau tahu? Aku sangat merindukan suaramu ketika memanggilku seperti dulu. Merindukan saat-saat kita berdua hidup dengan damai. Merindukanmu yang selalu ada untukku, tersenyum ke arahku, dan mencintaiku. Kenapa semua itu menghilang dengan sangat cepat?

Awan yang sedari pagi telah bergerombol gusar akhirnya menjatuhkan kesedihannya. Rintik demi rintik kian cepat. Menetes seakan menangisi kepedihanku. Dan kau, masih berdiri di tempatmu. Sepertinya kau memang tak berniat sama sekali mengunjungiku. Bodohnya aku yang terlalu mengharapkanmu. 

Bodohnya aku yang masih saja menantimu di tengah kebencianku. Karena berbarengan dengan hujan yang kian deras berjatuhan, kau berbalik dan melangkahkan kaki. Melangkah menjauhi pintu sebuah rumah kusam yang di dalamnya seorang wanita tengah bersembunyi di antara gorden jendela. Menatap penuh harap pada sosokmu. Dan akhirnya sang wanita kembali menangis. Aku benci saat-saat aku menangisi lelaki sepertimu.

Haruskah aku jujur padamu? Bahwa aku tak bisa memahami sedikit pun keputusanmu dan sangat meragukan niatmu yang sesungguhnya. Sungguh, sedikit pun aku tak pernah merasa terkesan atau berterima kasih padamu. Meskipun kau selalu berkata dan meyakinkanku bahwa semua yang kau lakukan sampai saat ini adalah untukku, demi diriku. 

Kau tahu apa yang kerap kali terbersit dalam pikiranku? Sangat konyol. Benar-benar konyol. Namun aku menutup mulutku rapat-rapat dan berusaha menerimanya.  Hanya saja yang kukecewakan, bagaimana bisa kau berubah sebanyak itu? Hingga, tak butuh waktu lama perasaan asingku padamu mulai tumbuh. 

Kau selalu berkata dengan yakin bahwa kau tak pernah berubah. Tetap seorang lelaki yang selalu begitu mencintaiku. Untuk waktu yang lama aku meyakinkan diriku bahwa memang begitulah adanya. Namun akhirnya, kau melakukan suatu hal yang membuatku sangat terluka.

Dalam sisa hidupku, aku akan selalu menatapi kakiku yang menghilang dan terduduk di kursi roda. Sebuah operasi telah memotong kaki kiriku demi menyelamatkan hidupku. Padahal tubuh bagian itulah yang amat kupuja. 

Untuk seorang atlet lari sepertiku, kaki tak jauh bedanya dengan kehidupan. Dan saat kehidupan itu direnggut secara paksa, bagaimana bisa aku bernafas? 

Tepat pada hari itulah aku mati. Hidup dalam kematian. Terpuruk dalam penderitaan seolah-olah di dunia ini hanya aku yang paling menderita. Melupakan orang-orang yang jauh menderita ketika melihat keterpurukanku. 

Untuk beberapa waktu yang panjang, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Mengabaikan segala hal di luar batasku. Melupakan cintaku padamu. Lalu suatu hari, di tengah malam yang pekat kau menghampiriku dan berbisik.

“Akan kubalaskan dendammu. Orang itu harus menanggung penderitaan yang jauh lebih berat darimu. Meskipun dia seorang penguasa, ia tetap tidak boleh hidup bebas ketika kau seperti ini. Aku berjanji padamu. Tunggulah aku.”

Saat aku sepenuhnya sadar dan terbangun dari keterpurukanku, kamarku telah kosong. Kau sudah menghilang. Bisikan yang sebelumnya kau ucapkan terasa bagai mimpi. Harusnya saat itu aku menghentikanmu bukan? Namun aku tak sanggup. 

Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku juga ingin melihat orang yang membuatku seperti ini namun tak mendapat hukuman apa pun jatuh tersungkur. Aku juga ingin menyaksikan orang itu mendapat balasan. Dan balasan yang kau janjikan malah seakan menjadi racun mematikan yang memantul pada diriku sendiri. 

Suatu pagi yang teramat cerah, saat aku duduk di depan jendela yang menghadap ke arah pekarangan rumah, tiba-tiba bibi menyodorkan ke arahku sebuah surat kabar. Dengan tatapan bersalah ia berkata.

“Bacalah ini.”

Aku menerima enggan. Hanya membalik halaman demi halaman dengan malas tanpa berniat membaca keseluruhan. Namun pandanganku berhenti tepat ke arah sebuah kolom yang memajangkan fotomu. Membaca judul yang tertera lalu menoleh ke arah bibi. Seakan memastikan bahwa apa yang kubaca memang benar. 

Perlahan ia menganggukkan kepalanya. Aku kembali menatap surat kabar dan membaca keseluruhan kolom berita itu. Setelahnya aku hanya terpaku. Pikiranku terasa kosong melompong. Tak tahu harus bagaimana aku bereaksi. Dan akhirnya, aku menangis sambil berteriak itu bohong. Merobek-robek surat kabar menjadi potongan-potongan kecil. Aku sudah siap menerima kabar terburuk tentangmu namun tidak untuk hal ini.

Tidak mungkin kau meninggalkanku untuk seseorang yang telah membuat kakiku diamputasi. Bagaimana bisa kau mengikat janji dengannya seperti itu? Dan yang kutahu, hidupku benar-benar berakhir tepat di hari itu. Hari di mana aku selalu, selalu, dan selalu menunggumu. 

Namun, bukannya dirimu yang kujumpai, yang kudapat malah sebuah surat kabar yang memorak-porandakan hatiku. Meskipun malamnya kau meneleponku dan menjelaskan bahwa itu hannyalah satu dari sekian ribu rencana yang telah kau persiapkan, aku tetap terluka dan meragukan setiap ucapanmu. Menurutmu aku bisa mempercayai itu? Sayangnya aku terlalu tolol dan tetap berusaha mempercayai ucapanmu.

“Sudah cukup. Kau tidak perlu lagi berbuat apa pun. Aku bersalah karena membuatmu harus terlibat dengan mereka. Sungguh, maafkan aku. Kembalilah. Aku sudah tidak membutuhkan pembalasan, yang kubutuhkan saat ini hanya dirimu. Kau bisa melepaskan segalanya dan kembali padaku.” Ucapku dingin.

“ Tidak bisa. Aku sudah terlanjur berada di sini. Aku harus menyelesaikannya sampai akhir. Tunggulah. Aku berjanji ini tidak akan lama.” Balasmu penuh penekanan. Aku hanya menghela nafas. Sudah menerka sebelumnya hal itu yang akan kau katakan.

“ Aku sudah menunggumu selama 4 tahun. Dan selama itulah aku mencoba bersabar. Kau mulai berubah. Aku jadi takut akan perubahanmu. Aku takut kau berubah menjadi seperti mereka."

“ Kau tahu sendiri apa yang kulakukan demi dirimu. Aku akan menghancurkan ba****an itu melalui anaknya. Berita yang kau baca itu adalah rencana besarku. Hanya... tunggu saja mengerti?”

" Jangan libatkan dia..."

Seperti yang kau katakan, aku memang menunggumu. Menunggumu dengan sangat lama hingga akhirnya aku menyaksikan perubahanmu dengan mata kepalaku sendiri. Baik itu dunia atupun hatimu, tak ada satu hal pun yang dapat kukenali lagi. Sangat asing sampai pada tahap memahami dan berjumpa denganmu terasa sangat sulit. 

Dan kala itu, saat aku hendak menemuimu, tepat di depan rumah yang kau tinggali aku menihat kalian. Satu hal kusadari saat melihat kalian bersama. Tatapan yang kau pancarkan saat kau menatap orang yang telah membuatku seperti ini, bukanlah sebuah tatapan balas dendam. Saat kau merangkul orang itu, tak terpancar sedikit pun rasa benci. 

Yang kurasakan, kau memang mencintainya, dengan sepenuh hatimu, melewati batas perasaanmu padaku. Dan anehnya, aku sama sekali tak terkejut. Saat aku melihat kalian berdua, aku mengurungkan niatku untuk menjumpaimu dan kembali pulang. Membawa serta sebuah kekecewaan yang terlalu dalam hingga bahkan tidak menyisakan air mata sedikit pun. Hidupku baru benar-benar berakhir.

Saat orang lain berkata jangan menangis, aku akan berteriak padamu untuk menangislah sekencang-kencannya di lorong gelap itu. Lorong gelap yang kutinggalkan dalam keterpurukan. Tangisilah semua kesedihan yang telah kutanggung. 

Kau tahu? Harus ada satu orang penerus yang menggantikanku. Setelah aku pergi sesuai kehendakku, kau harus memikul tanggung jawab. Lagi pula aku sudah terlalu muak dengan ini semua, dengan keadaanku ataupun denganmu. Kini aku akan melepaskannya. 

Kau senang? Kurasa ambisi telah membutakanmu hingga kau menjadi seorang penjahat dalam kehidupanku. Kau berhak hidup sesuai keinginanmu. Aku bahkan tak punya kuasa atas hatimu. Aku hanya bisa berharap, suatu saat nanti kau akan dilingkupi suatu penyesalan. Aku terus menatapmu.

Melihat punggungmu, aku jadi mengerti satu hal. Bahwa cintaku padamu tak pernah padam. Seterluka atau sebenci apapun itu. Nyatanya aku masih kecewa saat melihatmu melangkah pergi. Aku masih khawatir melihatmu kehujanan seperti itu.

Langkahmu kian menjauh. Sebelum kau melewati pagar rumah, aku keluar, berhenti di tepi teras dan meneriakkan namamu. Tanganmu yang hendak mendorong pagar seketika terhenti. Rintik hujan yang berjatuhan membuat tubuhmu hampir basah kuyup.

“Harusnya kau masuk. Bagaimana kalau kau sakit?”

Saat aku kian mendekat, kau berbalik. Aku terpaku di tempat. Menatapmu dengan pedih dan tak percaya. Detik berikutnya, kau malah  membuka pintu pagar dan berjalan melewatinya. Semakin menjauh lalu masuk ke dalam mobil hitam tanpa sepatah kata. 

Sang mobil berjalan dengan cepat secepat kedatangannya. Nyatanya, matamu kini tak lagi menyiratkan cintamu padaku. Meskipun aku menggalinya dalam, sedalam mungkin. Dan bahkan, aku tak bisa melihat bayanganku dalam sorot matamu. Begitu pun halnya ketika aku menunduk, genangan air di bawahku juga ikut tak memantulkan sosokku.