Belakangan ini publik internasional digemparkan dengan adanya wabah penyakit baru. Penyakit itu dikenal dengan Coronavirus atau Virus Corona yang mewabah sejak akhir tahun 2019. Virus itu pertama kali terindikasi dari pasar tradisional di Kota Wuhan, Provinsi Hubei China, dan menyebar ke beberapa negara.

Seperti yang dilaporkan dari Kompas.com, jumlah korban virus corona hingga Senin (3/2/2020) telah mencapai 361 orang meninggal dunia dan 17.238 orang dilaporkan terinfeksi. 

Mengutip dari media yang sama, jumlah korban meninggal dunia itu kembali mengalami peningkatan sebanyak 56 kasus, setelah di hari sebelumnya, pada Minggu (2/2/2020), tercatat korban meninggal sebanyak 305 orang, termasuk tambahan satu orang China yang meninggal di Filipina.

Virus yang diduga berasal dari hewan liar itu ternyata bukanlah “penyakit utama” yang menjadi wabah berbahaya di dunia. Dulu, di masa penjajahan bangsa kolonial, ada beberapa penyakit yang menyerang manusia dan menjadi masalah serius bagi masyarakat yang hidup pada saat itu. 

Dengan kondisi teknologi kesehatan seadanya dan yang tidak secanggih saat ini, penyakit-penyakit itu menyebar tak terkendali dan dapat menular dengan waktu yang sangat singkat.

Penyakit berbahaya yang dicacat sejarah adalah diare akut atau kolera. Penyakit mematikan yang mewabah di tahun 1860-an itu disebabkan oleh infeksi usus akibat bakteri Vibrio Cholerae. 

Penyakit epidemi itu ditandai dengan penderita yang mengalami gejala diare sangat encer, muntah-muntah, kehilangan cairan tubuh, sampai menyebabkan kematian. Wabah mematikan itu disebabkan karena banyaknya pribumi yang melakukan buang air besar sembarangan dan mengonsumsi makanan yang tidak sehat.

Total penyakit ini telah mengakibatkan lebih dari 40 juta jiwa meninggal di dunia dan sekitar 10.000 orang di Indonesia. 

Di masa Hindia-Belanda, untuk menanggulangi itu, terdapat kebijakan Kampongverbetering untuk menata lingkungan-lingkungan kumuh dan pembuatan jamban agar penyakit itu tidak menyebar dan menjangkiti keluarga para Meneer Belanda yang bekerja di Indonesia.

Penyakit lain yang tidak kalah berbahayanya adalah cacar. Penyakit itu disebabkan oleh virus Varisela Simpleks yang menyebabkan bintil-bintil merah berisi cairan diseluruh permukaan tubuh. 

Menurut catatan dari Kemendikbud, Cacar menjadi wabah yang paling mematikan di dunia sepanjang sejarah. Setidaknya 300 hingga 500 juta orang di dunia merenggang nyawa pada abad ke-20 karena penyakit cacar.

Di Eropa, sekitar 60 juta orang, termasuk 5 raja yang berkuasa terkena cacar. Sedangkan di Amerika, cacar bertanggung jawab sebagai penyebab kematian 90 sampai 95% penduduk asli Amerika. 

Dan hal yang sama terjadi di Hindia-Belanda ketika penyakit ini dengan cepat menular tanpa ada pengetahuan pencegahan maupun pengobatan, sampai dibangunnya sekolah kedokteran Jawa atau Stovia untuk menangani masalah serius itu dengan pengenalan vaksin khusus.

Lain hal dengan cacar, Pes atau sampar adalah penyakit menular berbahaya pada manusia yang disebabkan oleh Enterobakteria Yersiniapestis, yang disebarkan oleh tikus. Wabah ini berasal dari tikus yang terinfeksi basil pes dan disebarkan melalui kutu tikus yang mengginggit ke manusia. Wabah penyakit ini banyak terjadi dalam sejarah, dan telah menimbulkan korban jiwa yang besar.

Wabah ini juga menjadi kematian masal dramatis dalam sejarah manusia yang dikenal dengan Black Death atau kematian hitam yang menghuru-hara pada abad pertengahan. Pes di masa  Hindia Belanda juga mewabah di wilayah Malang dan sekitarnya tahun 1911. 

Kondisi wilayah Malang dan sekitarnya yang sejuk makin membuat wabah ini bertahan lama, hingga membunuh lebih dari 15.000 orang di sana. Untuk menanggulanginya, Pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan untuk mengisolasi penderita dan memberangus tikus-tikus yang terdapat di lingkungan masyarakat.

Itu tadi adalah beberapa penyakit berbahaya yang mematikan di masa lalu, disamping setelah menginjak awal tahun milenium atau tahun 2000-an, kita juga sempat melihat penyakit-penyakit mematikan seperti Sars, Mers, Zika, dan Flu Burung yang mewabah di beberapa negara, dan tak terkecuali Indonesia.

Tentunya, secara kuantitas, jumlah kematian dari Virus Corona saat ini tidak sebanding dengan penyakit-penyakit itu, namun penyakit apapun itu perlu untuk dicegah dan ditangani secara serius. 

Hal terbesar yang dapat kita petik dari sejarah tadi adalah bagaimana makanan dan kondisi lingkungan yang tak sehat, dapat memicu terjadinya wabah penyakit yang berbahaya. Semoga, kedepannya pemerintah dan masyarakat semakin sadar untuk meningkatkan kesehatan bersama.