Judul di atas merupakan suatu pernyataan. Benar tidaknya harus dibuktikan. Pembuktian dilakukan dengan cara menjelaskannya. Penjelasan biasanya melibatkan afirmasi sekaligus negasi.

Jika dikatakan 'sebagian orang suka meniup terompet', maka diandaikan 'sebagian orang tidak suka meniup terompet'. Dua pernyataan ini bukan tanpa rujukan dalam kehidupan. Seperti biasa, banyak orang yang suka meniup terompet untuk menandai pergantian Tahun Era Bersama (Common Era). Tidak sedikit juga yang enggan meniupnya. Masing-masing punya alasan yang beragam.

Orang-orang yang biasa meniup terompet tahun baru juga beragam latar belakang. Terompet ditiup oleh orang dengan beragam bangsa, agama, politik, jenis kelamin, orientasi seksual, dsb. Karena itu tidak tepat dikatakan, 'orang Yahudi saja yang biasa meniup terompet'. Atau dikatakan, 'orang sekuler biasa meniup terompet'. Lebih tepat dikatakan 'sebagian orang'. Sebab terompet memang tidak merujuk pada satu kaum saja.

Kemungkinan terompet mulai digunakan sekitar 1500 sebelum Era Bersama. Orang-orang dulu membuatnya dari tanduk binatang dan kerang. Pernah ditemukan sebuah terompet perunggu dari zaman Kerajaan Tut di Mesir. Banyak juga penemuan terompet tua tersebar di Cina, Amerika Selatan, Skandinavia, dan Asia. Ada yang menggunakan terompet untuk upacara keagamaan, ada juga sebagai tanda perang, atau mungkin untuk suatu pesta rakyat.

Baca Juga: Terompet

Terompet setua kisah-kisah mitologis. Dalam mitologi Yunani, Dewa Triton, anak Poseidon, dikisahkan meniup terompet berbentuk keong untuk menenangkan ombak. Dalam Kitab Suci Ibrani pernah dikisahkan adanya suara sangkakala yang keluar dari awan tebal di atas Gunung Sinai, saat Tuhan melawat bangsa Israel. Bangsa Israel yang dipimpin Yosua pernah mengelilingi tembok Yerikho sambil meniupkan terompet. Hasilnya, atas izin Tuhan, tembok roboh oleh suara dahsyat terompet.

Sebenarnya mana yang mempengaruhi? Kisah keagamaan atau terompet? Kalau yang pertama berarti kisah Kitab Suci menjadikan terompet punya makna keagamaan. Semakin lama diwariskan, makna itu semakin meresapi kebudayaan. Keduanya tidak terpisahkan lagi. Ketika bangsa Yahudi meniup terompet sebagai penanda dimulainya tahun baru Yobel, maka suara itu mengingatkan akan karya penyelamatan Tuhan bagi mereka. Tanpa ingatan itu, terompet hanyalah terompet.

Kalau yang kedua berarti terompet mempengaruhi kisah-kisah Kitab Suci. Misalnya, bangsa Israel menyerupakan suara bising dalam awan tebal di Gunung Sinai dengan suara sangkakala. Sebelum kisah atau peristiwa itu ada, sangkakala sudah ada terlebih dahulu. Bisa jadi, terompet itu populer bukan karena kisah keagamaan, melainkan memang sudah akrab digunakan bangsa manusia. Kemudian ketika identitas keyahudian mulai terbentuk, terompet itu diberi makna keagamaan.

Kita tidak bisa memastikan mana yang benar di antara dua pendekatan di atas. Namun yang jelas adalah terompet lebih tua daripada ketika bangsa Yahudi membentuk identitasnya. Terompet bukan milik eksklusif tradisi Yahudi. Benda ini tersebar di berbagai tempat, waktu, dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Pernah saat perang Salib I (sekitar Juni 1099), para ksatria dari Eropa meniru Yosua. Mereka mengelilingi tembok kota Yerusalem. Barangkali sambil meniupkan terompet, mereka membatin: "Dahulu kala bangsa Israel melawan orang-orang Yerikho. Sekarang kita, orang Eropa beragama Kristen adalah Israel baru." Lawannya adalah kekhalifahan Fatmiyah beragama muslim yang menguasai kota Kristus.

Hasilnya adalah tembok tidak rubuh oleh tiupan terompet. Selanjutnya giliran cara kedua, yakni perang langsung. Para tentara Salib berhasil merebut Yerusalem. Begitu memasuki kota, mereka bukan hanya membunuh pasukan Fatimiyah, melainkan juga rakyat biasa, baik yang beragama muslim, Kristen, maupun Yahudi. Sebab busana yang rakyat kenakan tidak berbeda. 

Apakah mereka merayakan kemenangan dengan tiupan terompet? Entahlah. Yang pasti kekejaman itu telah terekam dalam benak para sejarawan Barat. Namun terompet tidak hanya berkaitan dengan tanda mulainya peperangan dan kemenangan. Ia juga berkaitan dengan suatu perdamaian.

Pada periode Perang Salib V (1217-1221), Fransiskus Assisi pergi ke Damietta Mesir menemui Sultan Malik Al-Kamil, keponakan Saladdin. Motifnya sederhana, ia hendak berkotbah pada sultan tanpa jalan kekerasan. Kalau Tuhan mengizinkan, ia berharap terbunuh sebagai Martir. Gambaran tentang kaum Sarasen yang bengis memenuhi pikiran orang-orang Eropa pada saat itu. Fransiskus juga mengira Sultan pasti segera membunuhnya.

Namun Fransiskus keliru. Sultan Malik ternyata orang yang terbuka dan ramah. Ia tidak dibunuh. Malahan mereka saling bertukar pikiran selama beberapa hari. Di akhir pertemuan yang tidak biasa pada zaman itu, konon katanya Sultan memberikan Fransiskus hadiah sebuah terompet dari tanduk binatang.

Menurut kesaksian Bartolomeus dari Pisa (1309), Fransiskus sering memanggil pengikutnya dengan terompet untuk berdoa. Ia meniru kebiasaan itu dari umat Muslim saat berkunjung ke Mesir. Tampaknya umat muslim Mesir biasa meniup terompet dari tanduk sebagai panggilan untuk Sholat. 

Rekaman sejarah di atas jauh dari lengkap. Namun cukup menunjukkan bahwa terompet bukan milik kelompok tertentu. Apakah terompet 'berbau' Yahudi atau kebarat-baratan? Sejarah sudah mengendus. Ternyata terompet banyak baunya. Ia berbau keagamaan, berbau peperangan, berbau persahabatan. Terompet hadir dalam perjalanan sejarah banyak bangsa dan agama.

Lantas, mengapa beberapa orang suka meniup terompet di tahun baru? Barangkali karena motif keagamaan dan budaya. Tapi barangkali juga dengan motif praktis. Terompet adalah alat yang mudah dipakai. Orang cukup meniupnya tanpa harus sibuk dengan ketukan seperti kalau menabuh genderang. Suaranya sudah cukup bising untuk memeriahkan suasana sekaligus menganggu tetangga.

Apabila beberapa orang enggan meniup terompet pasti juga punya alasan. Mungkin karena sungkan mengganggu tetangga. Mungkin juga dikarenakan asumsi bahwa terompet ini identik dengan kaum tertentu. Terompet sendiri tanpa identitas. Kalau ada identitas di dalamnya, tafsiran manusia yang membuatnya demikian. 

Bagi yang suka meniup terompet tahun baru, selamat meniupnya. Asalkan jangan sampai mengganggu ketertiban umum. Bagi yang enggan meniup terompet tahun baru karena asumsi tertentu juga tidak dilarang. Sikap saling menghormati itu yang paling penting. Jangan sampai karena tafsiran terhadap terompet, perbedaan dijadikan masalah. Selamat menyambut tahun baru 2019 Era Bersama !