Pernah, kala mata menatap tajam membawa duka juga luka, alirkan pahit sampai ke muara.

Pernah, kala senyum jadi barang langka dan tak terbeli dengan canda.

Pernah, kala hati dibalut benci di isi iri juga dengki hingga hitam sanubari.


Hingga, badai datang menyiringai.

Direnggutnya tawa dari kanak dan balita. Dan kau adalah induk dari segala bentuk yang remuk. 

Tiba-tiba, jari-jari itu mensyahidkan airmata duka yang deras sampai tuntas.

Adalah, kata sutra yang engkau pakaikan di tandus jiwa. Kata sutra yang menghangatkan di dingin renta usia. Katamu ini ukhwah. Cara untukmu menemuiku di dalam jannah. 

Alasan sebuah pertemuan tak selamanya untuk kepentingan melainkan untuk keridoan.