Amerika Serikat, pada suatu hari, adalah tempat yang menawarkan harapan dan apresiasi terhadap berbagai macam bakat dan minat. Ilmuwan dan peneliti dari berbagai negara datang ke AS kemudian menjadi yang terbaik di bidangnya.

Para ilmuwan imigran ini datang dari berbagai tempat bahkan yang dilanda perang atau dikuasai pemerintahan otoriter. Menurut Royal Swedish Academy of Sciences dari 72 warga AS yang menerima nobel bidang kimia, fisika, dan kedokteran sejak tahun 2000, sebanyak 25 orang (35%) diantaranya adalah imigran1.

Diantara berbagai macam bidang penelitian yang tumbuh subur di Amerika, yang paling mudah menerima peneliti imigran adalah penelitian kanker. Di 7 pusat penelitian kanker ternama di AS, 30-62% personelnya imigran yang lahir diluar AS (foreign born)1. Angka tersebut belum termasuk anak-anak imigran generasi ke-2 yang lahir di AS.

Sayangnya kebijakan baru Trump akan membubarkan utopia ilmu pengetahuan dan teknologi di AS. Dalam minggu-minggu pertama pemerintahannya Trump sudah berhasil mengangkat personel kabinet yang percaya bahwa perubahan iklim adalah sebuah mitos dan mewujudkan kebijakan anti imigrasi.

Ada kabar bahwa Trump hampir tidak pernah membaca buku. Entah betul atau tidak, namun saya hampir yakin kalau dia tidak membaca buku pemenang pulitzer karya ahli onkologi, Sid Mukherjee, yang juga seorang imigran.

Buku tersebut berjudul "The Emperor of All Maladies", menceritakan tentang sejarah perkembangan umat manusia dalam memahami dan memerangi Kanker. Di dalam sebuah bab, Mukherjee menyinggung nama seorang ilmuwan imigran yang berjasa besar namun tak dikenal. Hingga membaca buku itu, saya juga tidak pernah mendengar nama Yellapragada Subbarow.

Bukan hanya saya saja ternyata yang tidak mengenal karya Subbarow yang amat penting bagi ilmu pengetahuan dan dunia medis. Seorang doktor di bidang biokimia pun tidak mengenali foto maupun namanya sampai ia datang ke pameran "Beyond Bollywood" yang diadakan oleh Smithsonian Institution di National Museum of Natural History2.

Setelah membaca lebih jauh, ketidaktahuan kami semata-mata hanya karena Subbarow memang tidak pernah diberi kesempatan untuk mendapatkan penghargaan yang setimbang untuk seorang yang membidani lahirnya obat malaria dan filariasis, asam folat, dan kemoterapi modern3, hanya karena statusnya yang seorang imigran dengan bahasa Inggris beraksen India kental.

Tanggal 4 februari lalu adalah Hari Kanker Sedunia, saat ini kita berfokus kepada pencegahan Kanker. Hebat sekali pencapaian umat manusia hari ini sehingga sudah bisa merumuskan langkah-langkah pencegahan Kanker.

Hal ini tentu karena kita sudah pada tahap di mana sebagian besar mekanisme dan perjalanan penyakit dari berbagai macam kanker sudah dipahami hingga tingkat molekuler.

Untuk itu kita berhutang besar kepada Sidney Farber, ahli patologi pertama yang memakai anti-folat pada pasien leukemia anak. Farber tidak bisa memulai itu tanpa Subbarow. Sebagai catatan Sidney Farber juga seorang imigran dari Jerman.

Subbarow lahir di Madras tahun 1895, setelah lulus dari Madras Medical College dengan kurang sukses, ia mencoba berkelana ke Amerika dan berhasil mendapatkan tempat sebagai junior faculty member di Harvard.

Setelah kiprahnya menemukan peran penting Adenosine Triphosphate (ATP) dalam mekansime kerja otot, ia mendapatkan PhD di bidang biokimia.

Namun karena tidak berhasil menembus pergaulan akademisi elit di Harvard, bukannya menjadi Profesor di sana, Subbarow malah bekerja menjadi peneliti di Lederle, laboratorium swasta yang sekarang dimiliki oleh Pfizer.

Di Lederle Subbarow mengembangkan sintesis asam folat, untuk mengatasi anemia pada kehamilan akibat kekurangan produksi darah karena kekurangan asam folat pada diet ibu-ibu hamil di India yang mekanismenya ditemukan oleh Lucy Wills pada tahun 1930-19314.

Berdasarkan hal ini Farber yang mengamati struktur darah pasien leukemia post mortem berpikir untuk menghentikan produksi darah dan meminta bantuan Subbarow untuk membuat antagonis dari karya sebelumnya.

Pasien leukemia limfoblastik akut anak-anak yang sebelumnya sangat menderita dan tanpa harapan, masuk ke dalam percobaan klinis Farber lalu beberapa mencapai remisi5. Hal ini membuka pintu gerbang penelitian pengobatan dan mekansime kanker selanjutnya.

Para klinisi dan peneliti mulai paham bahwa obat yang dapat menghambat pertumbuhan sel dapat mengendalikan kanker.

Methotrexate, turunan dari aminopterin, anti asam folat, menjadi agen kemoterapi pertama, dan masih digunakan dalam berbagai terapi tidak hanya untuk kanker, namun juga untuk beberapa penyakit autoimun.

Penemuan ini membuka pintu untuk penelitian-penelitian kanker selanjutnya ke tahap molekuler.

Jika Yellapragada Subbarow tidak pindah ke Amerika, tidak mendapatkan PhD di bidang biokimia, tidak bekerja di Lederle dan tidak membuat sintesis asam folat dan anti asam folat, ada dimanakah umat manusia dalam pemahaman mekanisme dan terapi kanker saat ini? Entahlah.

Namun jika seseorang telah mengetahui tokoh bersejarah ini lalu masih menganggap imigran tidak lebih dari hanya sekedar beban belaka, saya tidak tahu lagi harus berkata apa.

Referensi

1. Immigrant Scientists Invaluable to the United States. Stuart Anderson.

2. The Indian-American I didn’t know: Yellapragada Subbarao. R. Mukhopadyay.

3. HISTORY OF MEDICINE Dr. Yellapragada SubbaRow (1895-1948) He Transformed Science; Changed Lives. Pushpa Mitra Bhargava.

4. Lucy Wills - Wikipedia

5. A tribute to Sidney Farber – the father of modern chemotherapy. Dennis R. Miller.