Seandainya Kertas Tidak Pernah Diciptakan, Apakah Hutan Tetap Lestari?

“Seandainya Tsai Lun tidak pernah menemukan kertas, apakah hutan kita akan tetap lestari?” pertanyaan itu muncul begitu saja ketika melihat banyaknya pemberitaan tentang kerusakan hutan dan pro kontra tentang Hutan Tanaman Industri menjadi berita yang penuh dilema tanpa solusi yang berarti. Selalu ada korban dalam setiap perubahan. Terutama mereka yang telah lama menghuni hutan tersebut, mencintai hutan dan mendewasa bersama  alam.

Apakah kerusakan hutan hanya karena pabrik kertas saja? Urusan kerusakan lingkungan hidup dan deforestasi itu kompleks. Sejak dulu Pulau Sumatera dan Kalimantan adalah salah satu sasaran empuk pembalakan liar. Belum lagi laju pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat dan butuh areal hunian yang layak. Mana lagi daerah yang bisa dengan mudah untuk dijadikan lahan hunian tanpa harus banyak kendala? Ya, hutan!

Ruangan kantor dan perumahan butuh perabotan dari kayu juga, jelas sumbernya adalah hutan, bukan warung angkringan. Selain itu dalam mengurus surat-surat penting kita masih membutuhkan kertas karena lebih mudah menjadi alat bukti ketika diselidiki secara forensik. Pun dalam kehidupan sehari-hari juga kita membutuhkan kertas dan produk turunannya. Selain itu permintaan ekspor sawit juga meningkat, mana lagi yang harus dibabat selain hutan alam?

Suatu sore saya pernah berbincang dengan seorang teman di perpustakaan tempat saya bekerja setelah kami menonton film Sokola Rimba yang ada di Youtube. Dalam film itu ditampilkan bahwa orang pedalaman yang tersingkir di tanah adatnya sendiri. Pengusaha nakal membodohi mereka untuk menandatangani sebuah surat perjanjian yang mereka tidak tahu apa isinya.  Miris sebenarnya ketika melihat dua perbedaan gaya hidup yang sangat mencolok di dalam film itu. Orang pedalaman tidak mengenal gergaji mesin yang mampu menebas nyawa pohon dalam sekejap. Mereka berburu hanya untuk cukup makan pada hari itu. Mungkin kalau mau dibuatkan logo untuk film itu adalah golok versus gergaji mesin yang di tengah-tengahnya terdapat gambar pohon.

Lalu pada saat yang sama hasrat keingintahuan kami berdua mengantarkan kami kepada video-video yang mengingatkan kami pada tragedi Harimau yang memangsa warga. Begitu juga ular piton yang memangsa warga. Juga video kesaksian dari masyarakat rimba tentang Hutan Tanaman Industri.

Mungkin bagi sebagian masyarakat awam, ketika seseorang buta huruf latin, ia akan dinyatakan dalam kumpulan orang bodoh. Lalu apakah nama bagi manusia yang mengenyam Pendidikan perguruan tinggi ternama namun akhirnya tidak lagi menjadikan alam sebagai sahabat yang seharusnya saling menjaga bukan hanya sebagai sahabat dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri dan kaumnya?

Selama ini berdasarkan UU yang mengatur penggunaan hutan yang bertujuan untuk memanfaatkan hutan dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat Indonesia maka dari itu terbitlah regulasi tentang Hutan Tanaman Industri. Hanya saja yang terjadi adalah, banyak endemik lokal yang menjadi korban selain daripada masyarakat adat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Ketika isu tentang kerusakan hutan merebak, mafia peradilan pun beraksi. Menggasak orang jujur yang mencintai negeri ini dan mempunyai nurani.

Lain kesempatan ada sebuah pertanyaan yang menampar kesadaran, “Lha emangnya kamu pikir dunia ini cuma kamu saja yang boleh makan, minum, dan tinggal?”

Pada kesimpulan ini hukum kausatif dan kesetaraan adalah harga mati yang tidak pernah disadari. Atau lebih tepatnya, nggak digubris-gubris amat. Dilema memang ketika negara ini sedang gencar menggenjot pendapatan negara untuk memperbaiki ekonomi dan menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia melalui regulasi pengalihfungsian hutan, hewan-hewan endemik kehilangan tempat tinggal, bentrok antara kepentingan industri dan masyarakat setempat hingga jatuh korban, dan juga berkurangnya kawasan gambut, dan menjadikan kita sebagai negara penghasil Gas Rumah Kaca urutan ke tiga di dunia.

Sekarang mari beralih membahas tentang kertas. Sebagai seorang pustakawan desa yang setiap harinya berhadapan dengan buku dan program-program pemberdayaan, saya harus mengatakan bahwa kertas dan produk akan tetap hidup selama manusia membutuhkannya dan juga adanya ketersediaan bahan baku.

Bisa saja hari ini kita gembar-gembor soal digitalisasi, tapi yang harus kita ingat adalah kertas adalah elemen penting dalam banyak lini kehidupan saat ini. Era surat-menyurat via pos memang sudah tergeser oleh keberadaan email dan sosial media, tapi yang perlu diingat adalah, sampai hari ini kita belum menemukan bungkus nasi padang yang tidak berbahan kertas atau sterofoam. Atau bungkus nasi digital, atau tissue digital. Di beberapa Dinas Arsip dan Perpustakaan memanglah sudah beralih menggunakan teknologi digital untuk membuat ebook dan rekaman arsip berbentuk pdf, tapi kalau melihat syarat pemenang lomba perpustakaan, jelas jumlah koleksi buku cetak adalah syarat utama. Begitu juga dalam bidang pendidikan. Buku tulis dan buku cetak adalah harga mati. Kita tidak perlu iri terhadap Finlandia yang kini telah menggunakan tablet smartphone untuk kegiatan belajar mereka, kita masih jauh untuk mengejar Finlandia, walaupun secara SDA kita memang lebih kaya. Jangankan pakai Tablet, lha listrik saja belum merata ke pelosok negeri ini, kok!

Sebagai pengelola perpustakaan desa, secara nyata saya melihat minat baca masyarakat terhadap buku elektronik memang sangat minim. Kebutuhan buku cetak untuk keperluan bacaan dan juga pendidikan terus meningkat.  Itu belum termasuk kertas yang saya gunakan untuk mengajar TIK di perpustakaan dan juga untuk membuat proposal maupun laporan.

Indonesia boleh bangga karena kita masuk di dalam daftar 10 besar negara pengekspor pulp dan kertas, tapi dalam kebanggan itu ada hak-hak yang dirampas. Tapi, melarang pembangunan pabrik kertas sama saja menambah daftar panjang kesengsaraan dan jumlah karyawan yang akan dirumahkan.

Jadi apa yang seharusnya dilakukan?

 Pemanfaatan hutan itu memang perlu, tapi ya jangan terlalu. Pemerintah wajib mengkalkulasi untung-rugi dalam jangka panjang. Kesetaraan hak semua makhluk harus dihitung secara proporsional. Pabrik kertas boleh saja mengatakan bahwa dirinya adalah harapan bagi masyarakat banyak. Pabrik kertas juga menjadi harapan bagi pabrik rokok untuk melinting tembakau dan juga kemasannya. Bisa dibayangkan jika kesemua produk yang menggunakan kertas itu tiba-tiba harus impor kertas dari luar negeri dengan harga yang mahal karena pemerintah melarang pengelolaan hutan industri?

Dalam hal ini sepertinya kenetralan terhadap kepentingan wajib dilakukan pemerintah. Kalkulasi untung-rugi tentu perlu, karena hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat Indonesia, hanya saja jumlah lahan yang diperbolehkan untuk menjadi HTI harus dibatasi. Orang rimba harus mendapatkan kembali haknya untuk mengelola hutan sebagai tempat mereka, setiap perusahaan kertas harus membuat lahan konservasi bagi hewan endemik yang ada di daerah yang mereka garap. Atau malah jangan sampai mengganggu area konservasi. Kita tetap akan makmur. Kita tetap akan hidup bersama.

               Pemerintah wajib membuat daftar ulang mana daerah yang boleh untuk dialihfungsikan, mana yang tidak. Batasnya harus jelas, peraturan dan sangsinya juga harus tegas dan jelas.

               Pengelolaan Hutan Tanaman Industri memang tidak salah karena secara tidak langsung ikut dalam memajukan ekonomi negara.  Namun,  pemerintah wajib memberikan pengawasan penuh pada pihak yang mengelola,  jangan sampai malah menjadi senjata makan tuan.  


            Saat ini hutan alam yang tersisa hanya di Papua.  Ada baiknya, pemerintah tidak lagi membuka lahan tanpa kalkulasi di Papua.  Biarkan Papua menjadi daerah konservasi.  Binatang butuh tempat yang nyaman untuk hidup, agar bisa hidup berdampingan dengan manusia.  Syukur-syukur menjadikan hutan papua adalah wilayah hutan konservasi terbesar yang mana seluruh perusahaan menggelontorkan dana CSR untuk memvangun konservasi itu.  Selayaknya kita,  mereka tidak ingin hidup di dalam sangkar.  

           Saya butuh kertas,  ekonomi negara harus membaik,  pendidikan harus terus ditingkatkan,  infrastruktur juga harus terus dibangun,  tapi…  Tuhan menciptakan dunia ini bukan cuma untuk manusia saja.

           Saya sadar ngelap ingus versi digital dan nasi padang dengan bungkus digital itu belum ada. Tapi saya juga sadar, harimau kalau lapar dan rumahnya sudah digusur,  pasti akan makan orang juga.