Aku selalu kesulitan menemukan kosa-kata setiap kali berusaha mendeskripsikan kepribadianmu. Aku tahu, kau juga tahu. Ini tak lebih dari sekedar polemik dari perjalanan sikluk kehidupan yang bangsat.

Sebelum mati dan lekas pudar segala dendam, satu-satunya hal yang paling melekat dan selalu ingin aku utarakan adalah caci-maki pada diri sendiri yang tak ada guna ini.

Kepada penantian panjang sebuah harapan atas keyakinan manusia pada apa-apa yang kelak tiba. Sungguh, aku tak suka kalimat itu, membosankan pun selalu berakhir mengecewakan.

Itulah sehingga apa-apa yang belum sempat kutemui, tak pernah kuanggap bisa kumiliki. Aku selalu menghadirkan harapan-harapan seolah hari ini tiba giliran kematianku, menjadi kebanggan semua orang termasuk engkau yang senantiasa kubacakan puisi.

Puisi yang setiap kau dengar, kau menirunya dalam kertas, lalu meremuk dan membaurkannya di tempat penampungan sampah.

Mungkin benar kata orang. Aku tak selayaknya hadir sebagai manusia, bisa jadi aku hanya percikan sperma yang tercecer dan meresap di perut ibuku, lalu dibuahi hingga terlahir celaka sebagai laki-laki.

Kadang aku berpikir, akankah aku benar-benar dilahirkan. Atau keluar di hidung pas ibuku bersin, sehingga apa-apa yang kulakukan selalu disebut ingusan?

Tetapi aku juga ingin menulis tentang hal-hal di luar kendali manusia. Aku harus menyampaikan ini sebagai asumsi belaka, sebab kenyataan sudah terlampau buruk memberiku predikat.

Tentang mitos yang melahirkan peperangan, dari zaman kuno hingga tekhonologi hadir mempermudah manusia mencapai klimaks. Benarkah cinta itu benar-benar ada?

Bisa jadi cinta tak pernah ada namun, manusia kelebihan perasaan tetapi kekurangan kata sehingga memilih kata itu sebagai upaya menebus kekurangan. Atau cinta memang ada dalam diri manusia?

Jika cinta ada, bukankah ensiklopedi tentang cinta selalu baik, mulia, suci dan sempurna. Tetapi kenapa setiap kali kata itu diucap selalu dijawab buruk, bahkan diremehkan.

Bahkan saat kuucapkan itu padamu, kau malah balik tertawa dan menganggapku lebay. Aku selalu kebingungan memaknai perilaku manusia dalam hal asmara. Bila diberi kebenaran malah menolak, giliran dibohongi justru bangga.

Namun, di balik semua itu. Aku masih punya keyakinan, kau orang baik. Bahkan sangat baik. Aku saja yang terlampau buruk.

Suatu kegilaan memang bila aku berambisi mengkoyak-koyakkan hatimu yang merah itu.  Jika menyangkut kepantasan, aku pamit lebih dulu. Tetapi bila ingin bertaruh konsistensi aku tetap meng-amin-i perasaanku.

Bukan memuji, justru aku benci banyak hal dalam diriku, termasuk perasaan. Tetapi kebencian dalam diri bukan perihal baik untuk dirayakan.

Aku benci pada diriku yang merasa tenang saat menatap matamu berkedip lebih pelan dari kendaraan yang patuh rambu-rambu. Aku benci saat tubuhku nyaman lekat dari aroma tubuhmu yang tak pernah dimandikan parfum.

Kenyamanan semacam itu selalu sementara, membuat orang-orang sepertiku muak.  Ingin aku mencabik-cabik dadamu, sekali saja. Kukeluarkan lancip hati dari rongga tubuhmu, kudekap skali dengan waktu yang panjang agar semua selesai.

Tetapi siapa yang rela diotak-atik tubuhnya hanya demi sepenggal hati? Bukankah itu kurang ajar. Begitulah, dari dulu sebelum kita lahir jatuh cinta selalu saja brengsek.

Basa-basi ini tak boleh dibiarkan, jadi aku singkat dan sedikit melanjutkan. Aku ingin bertanya pada semesta, haruskah perempuan sepertimu dilahirkan?

Banyak lelaki selamat hanya karena beberapa perempuan tak pernah dilahirkan. Di sisi lain, banyak lelaki gila hanya karena perempuan diciptakan untuk lelaki lainnya.

Andai nasib hanya diperuntukkan bagi manusia-manusia amatir. Aku yakin kita bisa merencanakan banyak hal, memulai dan mengakhiri sesuka hati sesuai keinginan.

Tetapi nasib berlaku sama. Hidup seperti tebak-tebakan, sebagian dari kita gagal mengira-ngira, dan sebagian lain tak sanggup menerima.

Orang-orang merakayakan kesedihan dengan air mata masing-masing, meledakkan gemuruh di dadanya agar tubuh dan seperangkat perasaannya ikut terbakar.

Tetapi, segala yang hilang atau pergi tak benar-benar lenyap, ingatan punya cara kerja yang menyiksa dan kejam. Orang-orang seperti kita tak bakal sanggup menanggungnya.

Maka kutulis kekacauan ini untuk menandai peradaban yang kian berubah. Kelak dan pasti, lelaki atau perempuan akan menyadari jatuh cinta tak pernah sederhana.

Perasaan yang menggebu tak mungkin bisa dimaterialisasikan, untuk mengukur kedalamannya hanya butuh ketabahan, sebab benda-benda yang nampak hanya memberikan perspektif, tidak ketenangan.

Terakhir, aku ingin menyampaikan pada segenap pembaca tentang hal-hal receh yang tak sanggup kita beli. Bahwa tabungan yang dimiliki hanya bisa beli cincin, sementara setiap jemari akan bosan dengan benda, ia butuh elusan lembut dengan cara yang memanjakan.

Lihat telapak tangan ayah yang begitu kasar, tetapi sangat disukai ibu sebab membuatnya terus hidup bahkan sekiranya lama setelah ia meninggal. 

Pada telapak tangan ayah yang kasar itu, terdapat sejumlah gari. Dari garis kemewahan, hingga garis kematian. Tapi mungkin ada yang salah, pada garis itu aku sungguh benar-benar belum menemukan gari menuju pelukmu di waktu senja.