Pengalaman saya tentang bermain Instagram cukup menyebalkan. Saya buat Instagram sekitar akhir tahun 2015 di Bluestack—maklum dulu belum punya android, masih amatiran, gembel—dengan tujuan agar bisa unggah foto-foto keren dan kekinian kayak orang-orang. 

Sialnya, buka Bluestack di komputer jinjing beratnya minta ampun. Ya, gimana lagi, hanya demi memenuhi hasrat zaman untuk bisa bermain Instagram.

Awal-awal, foto yang sering saya unggah tema-tema hitam-putih dengan kepsyen yang ngajak orang buat mikir gitu. Saya masih ingat dengan jelas foto pertama yang saya unggah berupa foto quote yang saya ambil dari dinding kos pertama di Jogja. Foto itu saya beri kepsyen: “Makin sengsara, makin bahagia” (wedyan, ra? Wis ketok filosofis to? Padal sing nge-laik mung siji. Diguyu tengu).

Lalu saya mulai mengisi beranda Instagram saya dengan foto-foto soal kesenian, lukisan, buku, liburan, potret sahabat-sahabat dan diri saya yang terlihat sedang bahagia, serta foto saat saya lagi demo memperjuangkan ra’jat di Nol KM (halah). 

Beranda saya harus tampil Instagrammable Instagramgenic Instagramworthy dong di tengah netizen yang menuntut mahasempurna dan mengklaim dirinya mahabenar ini. Dengan kepsyen-kepsyen yang pseudo-inspiratif, motivatif, reflektif, dan semua yang berakhiran tif-tif gitu. Biar dikira keren.

Saya juga tahu posisi. Sejak awal minat saya memang mengarah pada hal yang mikir-mikir. Gak peduli konsekuensinya. Hingga di tahun 2018 saya berhasil menjadi selebgram—sekamar kos. 

Sejujurnya saya iri pada kawan-kawan Instagram saya yang tiap posting hal gak penting dapat banyak like dan komen. Sementara, kawan-kawan saya juga iri karena unggah saya yang isinya berat-berat—bera(n)takan maksudnya. Mau sombong juga sebenarnya, tapi prestasi pas-pasan.

Lalu pada Selasa (15/1/2019), ada berita menarik yang saya baca. Rekor dunia terbaru foto telur di Instagram cetak rekor like terbanyak. Gokil. 

Se-hardcore apa sih postingan akun @world_record_egg yang the one and only bergambar telur ayam horn betina warna coklat pastel bisa ngebandrol like netizen sampai 40 juta lebih? Ngemeng-ngemeng, itu angka bisa dicicil pakai BPJS gak sih? Mengalahkan potret manusia dari yang terseksi hingga termonyong (dalam hati, ‘anjir, foto telur gitu doang! Hardcore-an postingan gw lah ke mana-mana’)

Okelah main hitung-hitungan. Misal rata-rata tiap kali saya unggah foto, saya bisa dapat 50 like. Jika tiap hari saya unggah satu foto—yang kayaknya sudah cukup membuat pengikut saya muntah—selama setahun saya bisa dapat (365X50) 18.250 like. Jika 40 juta like, saya membutuhkan (40.000.000:18.250) 2.192 tahun! Bangsat! 

Dua milenium lebih saya harus menunggu. Sayangnya Tuhan tak memberi waktu saya hidup selama itu. Bisa-bisa nasib gajah kayak dinosaurus, evolusi duluan, terus punah. Dan netizen Indonesia yang ganas-ganas udah hidup sampai Jupiter. Eta terangkanlah...

Sebab saya meneladani laku filsuf, saya pun mencari maksud di balik viral. Ternyata ide telur itu memang tidak sembarangan dan plastisan. Pelakunya orang London yang terinspirasi setelah membaca tulisan daring tentang 20 postingan Instagram teratas tahun 2018. 

Ternyata si doi punya kritik fundamental buat para selebritis di dunia dan akhirat yang dia ibaratkan kayak telur: rapuh dan mudah retak. Khususnya budaya selebritis yang berlomba-lomba ngumpulin banyak like dan pengikut. Rekor yang dibuat Geng Telur ini untuk mengalahkan rekor-rekor yang dibuat oleh selebritis-selebritis.

Doi menolak dominasi selebritis di media sosial. Dalam sejarah pendeknya mengutip data Guinness World Records, like terbanyak pernah didapat oleh Justin Bieber dan Will Smith dengan foto setting rekaman mereka yang dapat 1,5 juta like pada tahun 2014; Kim Kardashian West dan Kanye West atas foto pernikahan mereka yang dapat 2,4 juta like pada tahun 2014; Kendall Jenner yang dapat 3,5 juta like; Beyoncé Knowles-Carter yang pamer foto kehamilannya dapat 7,3 juta lebih like di tahun 2017. 

Rekor ini dipatahkan oleh Kylie Jenner sama anaknya yang dapat 18 juta like. Terbaru si foto telur menjadi satu-satunya foto non-manusia yang berhasil mendapatkan like terbanyak.

Jadi ceritanya si founder kepikiran buat tuh postingan hari Jumat (4/1/2019). Empat hari kemudian, yang nge-like baru sedikit. Hari Selasa (8/1/2019) cuma dapat 10.000-an like. 

Baru kemudian ada sesosok anonim yang membantu mewujudkan misi tersebut. Si pihak anonim itu bekerja di balik layar hingga bisa mengumpulkan like sebanyak itu, dengan jumlah komentar lebih dari satu juta hanya dalam waktu satu setengah pekan.

Postingan foto telur ini mengalahkan postingan yang dibuat oleh bintang reality show dan model Amerika Serikat, Kylie Jenner. Foto Kylie memperlihatkan jempolnya tengah digenggam jari-jari anak perempuannya yang masih bayi bernama Stormi Webster—hasil hubungan Kylie dengan rapper Travis Scott. Postingan Kylie itu mendapat sekitar 18 juta lebih like dari para netizen seluruh dunia. 

Merasa tidak terima dengan pencapaian foto telur, Kylie mengunggah video tentang usaha konyolnya menggoreng telur di jalanan aspal yang panas. Kylie memberi kepsyen: “Ambil tuh telur kecil. Makan!!!” 

Pas lihat video itu, saya jadi mikir: itu kayak si Kylie sebenarnya tengah menertawakan dirinya sendiri yang mudah pecah kayak telur—horn lagi.

Telur dalam fenomena ini maknanya lebih dalam daripada sekadar yang terlihat. Kalau dijelaskan pakai semiotika Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roland Barthes, Umberto Eco, sampai Julia Kristeva—lewat buku anggitan Kris Budiman—kayaknya bakal sepanjang rinduku padamu, eaaa, wik-wik-wik. 

Belum lagi dari sisi hermeneutika. Yang jelas, melansir Mikhail Bakhtin, kita mempunyai multi-makna dalam pembahasan apa pun, dan kita punya kecenderungan untuk menghilangkan multi-makna tersebut. Sebab itu kita butuh dialogisme sebagai bentuk kondisi eksistensial kita yang saling berikatan.

Nilai-nilai foto telur yang tengah viral tersebut sangat menarik dikulik ulang ironi, maksud, dan dampak yang terkandung. Agar tak mengartikannya hanya “sebatas telur”. Sebab sosial media bisa jadi tool for fools. Dan telur adalah simbol dari benih awal tumbuh suatu makhluk hidup.

Akhirul kata, mau berpanjang ria apa daya, bahasa cekak. Hidup telur!