Ketidaktahuan adalah lubang dan pengetahuan adalah sumbatnya. Naluri alamiah kita adalah selalu berupaya menemukan jawaban yang masuk akal—setidaknya bagi diri sendiri—atas pertanyaan yang membingungkan.

Ketika berhadapan dengan ketidaktahuan atas fenomena-fenomena baru, kita merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kondisi semacam itu adalah hal biasa, alamiah, dan bukan masalah luar biasa yang harus dikonsultasikan dengan seorang psikiater.

Leluhur kita ratusan tahun lalu berusaha lepas dari ketidaktahuan dengan mengarang cerita-cerita. Mereka tak tahu bagaimana proses terjadinya pelangi. Maka untuk mengisi kekosongan itu, mereka menciptakan fiksi tentang bidadari-bidadari yang turun mandi ke telaga.

Kita bisa memaklumi cara mereka (para leluhur) menambal ketidaktahuan karena keterbatasan pengetahuan kala itu. Uniknya, warisan buyut kita yang satu ini dilestarikan banyak orang. Bahkan tak sedikit yang memodifikasinya dalam balutan agama.

Kita dengan mudah bisa menyaksikan orang-orang semacam itu di televisi, koran, Internet, atau di mana pun di sekitar kita.

Pertama kali bertemu dengan orang jenis ini, ketika saya mengetikkan bunyi hukum kekekalan energi di suatu grup diskusi daring yang katanya membincangkan jalinan Sains dan Agama.

Kala itu, karena sedang punya jam lowong, saya berencana memulai diskusi. Sekilas, label grup ini cukup menjanjikan.

“Energi tak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tapi dapat berubah bentuk menjadi energi lain.”

Begitulah kalimat yang saya ketikkan. Awalnya saya merasa tindakan saya mengetikkan bunyi hukum kekekalan energi biasa-biasa belaka.

Percobaan Fisika menunjukkan kalau dalam suatu sistem tinjauan, banyaknya panas yang timbul karena adanya gesekan selalu sebanding dengan tenaga mekanik yang terdisipasi (seolah-olah hilang, tapi sebenarnya hanya beralih bentuk belaka).

Jadi panas dapat dipandang sebagai bentuk tenaga dan tenaga total terdiri atas tenaga mekanik dan tenaga panas. Jadi, bagaimanapun juga, tenaga total selalu sebanding dengan penjumlahan tenaga mekanik dan tenaga panas.

Total tenaga selalu tetap atau kekal atau tak berubah. Yang dapat terjadi adalah perubahan tenaga dari satu bentuk ke bentuk lain. Pernyataan demikian dikenal sebagai hukum kekekalan energi.

Sama halnya ketika dua pasangan kekasih menerapkan hukum ini di atas kasur tempat tidur. Tenaga yang mereka keluarkan membuat tempat tidur berguncang (energi getar), papan penyangga kasur berderit (energi bunyi) dan sebagian lagi diserap dalam bentuk gesekan, suara desahan, dan lain-lain.

Tak ada tenaga yang hilang begitu saja melainkan berganti menjadi bentuk berbeda. Jadi, hukum kekekalan energi ini berlaku mulai dari laboratorium sampai kos-kosan mesum. Tak ada yang lepas dari aturan ini (maaf, contoh terakhir ini hanya candaan).

Kembali ke soal grup diskusi daring itu. Setelah beberapa menit menunggu respons, harapan saya tentang diskusi yang sehat pupus seketika. Tanggapan yang saya dapat jauh panggang dari api.

Saya coba kalem dan mencari pola pikir orang yang berkomentar ini lebih dahulu.

Saya balas, “apa yang salah dengan bunyi hukum itu?”

“Energi itu makhluk. Makhluk tak ada yang kekal. Hanya Tuhan yang kekal.”

“Lho, kok dikaitkan dengan urusan agama? Yang saya ketik itu hukum Fisika.”

“Tuhan maha segalanya.”

“Tuhan memang maha segalanya. Tapi masa kuasa Tuhan dibandingkan dengan hukum alam, mana sebanding? Bukankah Anda sendiri yang membandingkan Tuhan dengan makhluk?"

Hukum kekekalan energi itu adalah frasa alihbahasa dari The Conservation Energi. Memang terjemahannya sering disalahartikan. Tapi, agar lebih paham, saya beri penjelasan tambahan. 

Contoh sederhananya, jika Anda memantulkan bola, tenaga awal yang Anda berikan kepada bola itu sebenarnya sama saja dengan jumlahan tenaga pantulan bola ditambah tenaga yang diserap lantai dan tenaga panas hasil gesekan bola dengan udara.

Jadi, tenaga Anda yang Anda transfer ke bola tidak lenyap, tapi berubah bentuk menjadi energi tertentu. Paham? Jadi, di bagian mana hukum ini bertentangan dengan ajaran agama Anda?”

“Semuanya.”

Dengan nada agak kesal, saya menulis lagi dengan coba melihat hukum kekekalan tenaga (Energi) dari sisi lain.

“Hei, hukum kekekalan ini dipandang dari sisi manusia, bukan dari sisi makhluk di luar manusia. Manusia tidak dapat menciptakan atau memusnahkan energi; itu di luar kuasa manusia. Manusia tak dapat menciptakan listrik, tapi manusia dapat mengubah energi gerak pada turbin jadi energi listrik. Dengan kata lain, manusia dapat mengalihbentukkan satu jenis energi ke jenis energi lain. Itu salah satu implikasi teori ini.”

“Dasar kafir liberal,” lanjutnya yang diikuti anggota-anggota grup lain yang tersulut kemarahannya.

Saya meninggalkan grup itu lalu bertanya kepada diri sendiri: apa hubungannya keimanan seseorang dengan Hukum Alam yang ia ketikkan? Jika saya mengetikkan Hukum Kekekalan itu, apakah lantas saya langsung pantas dilabeli kafir atau liberalis? Mekanisme apa yang tengah terjadi pada otak mereka? 

Mengapa, manakala saya mengatakan suatu hal yang barangkali agak bertentangan dengan apa yang mereka percaya, pasti ujungnya adalah label-labelan, cap-capan, tuduh-tuduhan?

Itulah kali pertama saya merasakan langsung tak enaknya kena cap sebagai komunis dan liberal di media aosial. Tentu saja, saya tak terima. Alasannya ada tiga. 

Pertama, saya tak senang dengan komentar bernada demikian. Kedua, saya merasa bukan sebagai penganut ideologi-ideologi atau gaya pandang tertentu. Ketiga, saya bisa kehilangan jodoh—jika ukhti-ukhti juga menganggap saya kuminis dan liberalis calon kuat penghuni neraka, saya tak akan dipilih sebagai calon imam yang baik.

Setelah perenungan tak panjang, saya mulai menyimpulkan beberapa hal tentang mereka. Modus mereka yang senang mencap dapat saya bagi dalam tiga tahapan. 

Pertama, menyembulkan perbedaan. Kedua, membagi dua golongan—diri mereka dan yang lain. Ketiga, menekankan relasi kuasa dan kebenaran lewat monopoli mayoritas. 

Intinya adalah sedari awal mereka tak ada niat bertarung gagasan. Untuk menutupi kekurangan mereka, salah satu cara mereka adalah menerapkan langkah tadi.

Tapi mau tidak mau, saya harus bersimpati kepada mereka. Salah satu langkah telah berhasil mereka lewati, yaitu berani. Tapi masih banyak langkah yang harus mereka upayakan. 

Langkah kedua yang harus mereka jalani adalah belajar. Langkah ketiga, yaitu memahami. Langkah keempat, yaitu menghargai pendapat orang lain dan membantahnya dengan logika dan cara-cara yang baik. 

Langkah kelima, yaitu diam jika tak memahami sesuatu. Langkah keenam, yaitu sering-sering piknik atau mengeluarkan yang seharusnya dikeluarkan atau menerapkan hukum kekekalan energi di atas kasur.

Yang terakhir, saya juga tak lupa bersimpati kepada diri sendiri. 

Kenapa saya berharap diskusi yang sehat di media sosial dengan kumpulan orang yang tak saya kenal? Kenapa saya tak mengundang teman-teman saya sendiri di suatu grup diskusi?

Setelah saya pikir-pikir lagi, saya adalah sebab utama asal-usul tuduhan mereka. Karena saya menulis pandangan sains di tempat yang salah dan waktu yang kurang tepat. Seharusnya saya menulis bunyi hukum alam setelah pilpres.