Sudah tak asing lagi telinga kita mendengar kata-kata LGBT. LGBT sendiri merupakan singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender/transeksual yang menunjukkan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas.

Ada beberapa faktor adanya aktivitas LGBT, yaitu faktor lingkungan seperti pergaulan yang salah. Jika kita berteman dengan orang yang termasuk LGBT, akan ada kecenderungan kita menjadi terpengaruh menjadi LGBT.

Faktor lainnya, yaitu keluarga. Kita semua tahu bahwa keluarga merupakan tempat dimana kita berlindung. Namun bagaimana jika terjadi kekerasan di dalam rumah tangga? Contohnya seperti seorang anak perempuan mendapat perlakuan kasar dari ayahnya sehingga anak perempuan tersebut membenci lawan jenisnya.

Tentunya banyak sekali pro dan kontra mengenai LGBT ini. Sebagian masyarakat menerima adanya LGBT di daerah mereka sedangkan masyarakat yang lainnya menolak bahkan sampai mengutarakan ujaran kebencian mengenai LGBT.

Banyak sekali perdebatan yang terjadi akibat adanya LGBT ini. Mereka yang menolak adanya LGBT karena hal ini sangat menentang agama yang mengajarkan kita untuk menyukai dengan lawan jenis, karena Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka bersama dan menghasilkan keturunan.

Indonesia sendiri merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang tidak memperbolehkan adanya LGBT. Sedangkan beberapa mereka yang menerima adanya LGBT karena mereka berfikir bahwa mereka berhak memilih pasangan mereka meskipun sesama laki-laki ataupun perempuan.

Ada beberapa negara yang melegalkan adanya LGBT ini, salah satunya adalah negara terkuat yang ada di dunia, Amerika Serikat. Negara ini melegalkan pernikahan sesama jenis dan juga LGBT. Hal yang melatarbelakangi negara tersebut melegalkan pernikahan sesama jenis dan LGBT adalah kembali lagi pada hak manusia untuk mencintai siapapun tanpa melihat adanya jenis kelamin, suku, ras dan agama.

Berbeda dengan negara Amerika, Indonesia tidak melegalkan pernikahan sesama jenis. Namun menurut Wikipedia, hak LGBT di Indonesia merupakan aktivitas legal karena tindakan tersebut bukan merupakan tindakan kriminalitas.

Seseorang memiliki hak untuk memilih siapa pasangan mereka dan siapa yang mereka cintai sehingga Indonesia pun memberikan hak untuk menyukai sesama jenis karena Indonesia tidak ingin mengambil hak yang dimiliki oleh masyarakatnya.

Menurut data Kementrian Kesehatan (kemenkes), jumlah penganut LGBT termasuk homoseksual dari tahun ke tahun meningkat. Pada tahun 2012, sekitar 1.095.970 laki-laki menganut LGBT. Jumlah ini naik sebanyak 37% dari tahun 2009.

Jika Indonesia melegalkan hak LGBT, dan data penganut LGBT semakin meningkat dari tahun ke tahun, bukankah hal ini merupakan suatu ancaman besar bagi negara Indonesia?

Negara Indonesia sendiri merupakan negara Islam yang tidak mengakui adanya LGBT. Bahkan, di Aceh dan Palembang pun yang mayoritas beragama Islam menetapkan hukuman cambuk bagi para homo seksualitas. Agama lain pun tidak ada yang menyatakan bahwa LGBT boleh dilakukan dan melarang keras untuk melakukan LGBT.

Namun sebagian orang pada zaman sekarang, mindset-nya sudah terprogram bahwa LGBT merupakan bagian dari gaya hidup. Beberapa orang merasa bahwa dirinya tidak cool jika tidak menyukai dengan sesama jenisnya atau bahkan ingin melakukan hal-hal yang anti-mainstrem seperti LGBT tersebut.

Lalu, apakah kita masih ingin melegalkan adanya aktivitas LGBT? Bagaimana jika dari tahun ke tahun jumlah homoseksual ini semakin bertambah dan semakin parah? Mau jadi apa Indonesia kelak jika masyarakat melegalkan aktivitas LGBT ini? Meskipun Indonesia memberikan hak LGBT, namun tindakan ini tetap merupakan tindakan yang menyimpang.

Agama sudah menentang keras adanya aktivitas LGBT tersebut karena hal ini merupakan sesuatu yang tidak diajarkan di dalam agama mana pun. Indonesia sendiri merupakan negara yang amat sangat menjujung tinggi nilai-nilai yang terkandung di dalam agama.

Tak hanya agama yang menentang adanya aktivitas LGBT, namun dari sudut pandang kesehatan tindakan ini sangat tidak baik. Beberapa data menunjukkan bahwa adanya penyakit HIV/AIDS disebabkan oleh adanya homo seksual dan kasus LGBT ini.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia menolak adanya LGBT yang terjadi. Meskipun setiap orang memiliki hak untuk memilih siapa pasangan yang kita sukai, entah dari jenis kelamin apa, tetaplah LGBT merupakan tindakan menyimpang.

Sudah banyak kasus LGBT terjadi di Indonesia, salah satu contohnya pada tahun 2017 ditemukan 141 orang gay sedang berpesta seks di salah satu daerah di Jakarta. Tindakan ini sudah tak wajar lagi jika dilakukan di tempat umum. Kasus lainnya yang masih berkaitan dengan LGBT, banyak pelecehan-pelecehan seksual terjadi terhadap anak dibawah umur seperti guru melakukan aksi sodomi terhadap muridnya.

Sudah saatnya Indonesia melakukan tindakan lebih dalam menghadapi kasus LGBT ini. Di luar adanya hak yang diberikan Indonesia bagi kelompok LGBT, aktivitas ini cukup membuat resah bagi para kelompok yang menentang kelompok LGBT.

Indonesia memang sudah melarang adanya LGBT ini dari segi agama maupun hukum secara tidak tertulis, namun meskipun Indonesia tidak memberikan pengakuan terhadap tindakan ini menurut saya Indonesia harus mengeluarkan hukum atau Undang-Undang yang berlaku mengenai LGBT.

Pemerintah bisa menutup situs-situs yang dapat mengakses mengenai pornografi yang memicu terjadinya LGBT. Selain itu, mengadakan penyuluhan keagamaan mengenai LGBT yang menyimpang dari aturan agama.

Dengan ini masyarakat Indonesia tetap menjadi negara yang menjunjung nilai-nilai agama yang menentang keras adanya LGBT dan dapat mengurangi kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi akibat LGBT ini.