Perkembangan teknologi semakin pesat terutama pada bidang komunikasi, zaman dahulu orang berkomunikasi jarak jauh hanya sebatas melalui sepucuk kertas yang harus dikirimkan melalui kantor pos yang bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu untuk surat itu sampai, belum lagi jika surat itu dibalas, bisa tercapainya sebuah komunikasi yang utuh harus memerlukan 1 bulan lamanya. 

Namun dizaman milenial ini sudah banyak bermunculan sosial media yang mempunyai banyak fitur pilihan yang bisa mempermudah manusia dalam berkomunikasi jarak jauh mulai dari chatting, video call, bahkan berbalas stiker lucu yang bisa menarik banyak kalangan mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. 

Namun di balik banyaknya kecanggihan teknologi yang ada terdapat sebuah kekurangan yang mungkin sebenarnya hal yang sepele tetapi bisa berdampak besar bagi moral generasi masa depan bangsa. masih banyak sosial media yang belum bisaa menyaring konten-konten negatif tersebut. 

Padahal banyak anak dibawah umur yang menggunakan sosial media sebagai rutinitas sehari-hari yang wajib dilaksaanakan saat pulang sekolah hingga menjelang tidur. Seperti halnya keponakanku yang sudah saya anggap sendiri sebagai adik saya sendiri yang baru berusia 10 tahun dan baru duduk di kelas 5 SD. Dia pernah menunjukan kepaada saya media sosialnya yang baru dia buat 3 minggu terakhir ini pada waktu itu. 

Di situ saya tanpa sengaja melihat sebuah status yang menurut saya status tersebut tidak layak atau kurang pantas dibaca oleh anak berumur 10 tahun tersebut,karena status tersebut berisi tentang ujaran kebencian terhadap seorang ulama yang melakukan hal yang yang tidak sepantasnya.

Padahal usut punya usut hal tersebbut merupakan berita palsu atau yang sering di bilang sebagai berita hoax dan setelah saya telusuri lebih jauh saya terkejut ketika ternyata pemilik akun tersebut masih berumur 8 tahun. 

Bayangkan jika hat tersebut terbaca oleh seoarang anak kecil yang masih dibilang belum dewasa atau cukup mur untuk menerima ha ltersebut, ketika saya menanyakan tentang status tersebut kepada keponakan saya dia meresponnya dengan amarahnya yangmenurutnya orang tersebut sangat menyebalkan.

Padahal masa depan sebuah bangsa terletak pada pemuda dan pemudinya, bayangkan jika seorang anak yang baru berusia sekitar 8 tahun melakukan hal seperti itu sama saja dia menghancurkan masa depannya yang terang karena menyebarkan berita hoax akan terkena pasal 378 KUHP dan Pasal 28 ayat 1 UU ITE dan pada prinsipnya perbuatan menyebarkan berita hoax yang bertendensi sebagai tindak pidana penghinaan.

Lebih konkretnya cenderung terkualifikasi sebagai tindak pidana penghinaan berupa fitnah (laster). Hal itu disebabkan, berita bohong yang disampaikan tidak mengandung kebenaran, apa yang dituduhkannya tidak pernah diperbuat bagi yang tertuduh, oleh Kitab Undang-undang Hukum Pidana dikualifiasi sebagai “fitnah”  Pasal 311 KUHP dan Pasal 27 ayat 3 UU ITE.

Bukan hanya berita bohong atau hoax yang bisa menyebabkan kebencian dibenak seseorang tetapi status atau sebuah caption pada sebuah foto yang mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) sebagai contoh yang sudah pernah kita tahu pada kasus Siti Sundari Daranila yang menyebarkan konten hoax yang menyatakan istri Hadi Tjahjanto merupakan etnis Tionghoa. 

Selain dari media yang berupa tulisan tetapi bisa berupa video (vlog) yang belakangan ini sedang naik daun dikalangan anak muda generasi bangsa ini, sudah terdapat sebuah kasus yang pernah menjadi pusat perhatian dikalangan netizen. 

Selain dari media sosial kita bisa mengenal banyak teman baru tetapi kita juga harus bisa berhati-hati dalam bergaul dalam media sosial karena terdapat sebuah kelompok yang mengajak seseorang untuk melakukan perbuatan yang bisa menyebabkan seseorang membenci sesuatu. 

Sebagai contoh pada kasus Kelompok Saracen yang di laman facebooknya, Sri menghina Presiden Jokowi dan pemerintah. Sementara itu, Faisal mengunggah gambar yang isinya tudingan Jokowi adalah keluarga dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Diketahui jumlah akun yang tergabung dalam jaringan Grup Saracen lebih dari 800.000 akun.

Bukan hanya dikalangan orang dewasa yang melakukan sebuah ujaran kebencian tetapi pada Agustus 2017, polisi menangkap MFB, seorang pelajar SMK di Medan yang diduga menghina Presiden Jokowi. Akun Facebook yang menggunakan alamat email [email protected] itu juga menghina institusi Polri yang dipimpin Jendral Tito Karnavian. Ternyata, MFB menggunakan foto orang lain di sebuah akun Facebook untuk menghina Presiden RI Joko Widodo. Pelaku melakukan ini untuk menghindari pelacakan petugas.

Dalam laman Facebook yang pelajar tersebut menggunggah foto-foto yang berisi hinaan terhadap Jokowi dan institusi Polri. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata MFB membobol WiFi milik MR. Hal itu diakui pelaku saat menjalani pemeriksaan.

Mulai dari anak-anak yang baru berusia sekitar 8 tahun, orang dewasa, pelajar SMK bisa berbuat seperti itu bagaimana masa depan bangsa jika generasi bangsa yang dipercaya oleh negara untuk membangun sebuah negara yang lebih meju dari kemarin. Karena ingatlah masa depan sebuh bangsa terletak pada setiap moral dan pribadi pemuda dan pemudi saat ini dan hanya merekalah yang bisa melanjutkan cita-cita bangsanya sendiri.

Banyaknya media yang disediakan bukanlah semata-mata untuk menghina seseorang yang tidak sukainya, memberikan berita palsu atau hoax, keisengan semata karena ingin ikut-ikutan seperti teman-teman yang lain. 

Tetapi media yang diberikan atau yang telah dibuat oleh sesesorang itu digunakan untuk mempermudah kita dalam berkomunikasi dengan orang yang kita cintai diluar sana yang merindukan kita, memberikan pemberitahuan dan ilmu pengetahuan baru yang berguna untuk masa depan kita, dan berkarya untuk membayar sebuah jasa yang telah diberikan oleh negara kepada kita.