Globalisasi merupakan perubahan pola hidup manusia karena ketergantungan antar satu-sama lain yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti sosial, ekonomi, politik dan bahasa yang didukung oleh kemajuan teknologi. Kemajuan pola hidup manusia ini secara tidak langsung telah mengantarkan manusia kepada sebuah pertumbuhan yang menuju ke arah “Satu Dunia”. 

Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Karena tidak dibatasi oleh wilayah maka dapat dikatakan sebagai satu dunia. 

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Sosiolog Martin albrow dan Elizabeth King memberi pengertian mengenai globalisasi itu sendiri sebagai sebuah bentuk proses yang mampu menyatukan penduduk dunia menjadi satu masyarakat dunia yang tunggal. 

Salah satunya dapat kita tengok bersama bahwa orang tidak lagi membutuhkan biaya untuk pergi ke luar negeri agar dapat berjumpa dengan sanak saudara disana, tetapi sekarang ini orang hanya membutuhkan sebuah benda berbentuk kotak kecil – Handphone - untuk dapat  berjumpa dengan saudaranya. 

Kemajuan industri juga mampu mengusung harga pakaian-pakaian menjadi lebih murah supaya mudah dibeli oleh para konsumen. Di sana lalu terjadi daya saing untuk memperebutkan konsumen. 

Sebaliknya konsumen pun menjadi lebih kuat untuk berubah yang awalnya hanya konsumen dengan taraf norma, kini telah menjadi konsumen dengan taraf konsumerisme.Sifat ketergantungan adalah aspek yang paling menonjol dari dampak globalisasi. 

Ketergantungan berupa pada benda maupun pada manusia yang kemudian menimbulkan kesenjangan sosial yang masih menjadi pembicaraan hangat diera digital ini (topik ini mungkin akan menjadi hangat sepanjang masa) seperti kemiskinan, kelaparan dan ketidakadilan dalam dunia pendidikan, pelanggaran HAM, dan pelayanan kesehatan yang masih minim. 

Kesenjangan sosial ini dapat kita jumpai dihampir pelosok dunia, terlebih di negeri kita. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin pun seolah telah menjadi hal biasa kita jumpai. Solusi sana-sini telah diberikan, program-program dimana-mana pun sudah diusung namun juga belum memberikan efek yang berguna bagi masyarakat kita. Masih saja dijumpai ada anak-anak yang belum mampu memperoleh pendidikan atau kesehatan yang baik. 

Kesenjangan juga telah membuat negara maju menjadi kuat dan otoriter pada kuasanya sedangkan negara miskin (berkembang) masih larut dalam ketergantungan kepada produk-produk negara maju. Anggapan atau paradigma masyarakat kita cenderung lebih puas jika ia sudah mampu menggunakan produk luar negeri.

“Asalkan bermerek” seolah telah mampu mengangkat martabatnya. Padahal, mungkin saja produk tersebut dibeli dari “pasar biasa”, tetapi karena keberadaannya berada di luar negeri maka orang merasa hebat sudah dapat membelinya. Disini lalu kita amati bersama produk lokal menjadi kurang diminati, sehingga tidak mengherankan jika saat ini pemerintah kita sedang berupaya dan memploklamasikan sebuah slogan “Cintailah produk dalam negeri”. 

Terkait dengan itu juga, kesetaraan gaji di negara-negara berkembang kadang diberikan tidak sesuai dengan standar yang berlaku. Para pekerja seakan telah menjadi binatang peliharaan perusahan-perusahan yang ada. Dalam sinode para uskup 1971 juga menegaskan bahwa banyak hak fundamental manusia dicabut. 

Ya, hak dasar manusia telah hilang. Oleh sebab itu, globalisasi adalah faktor utama kenapa ada begitu banyak kesenjangan sosial yang terjadi. Di satu sisi itu dapat bermanfaat, tetapi di sisi lain merupakan penyebab utama yang sedang menggerogoti manusia.

Kemudian kita lalu bertanya, “Apakah globalisasi adalah takdir?” Ia dapat dikatakan takdir jika memang itu merupakan kehendak abadi dari Tuhan. Tetapi bukankah Tuhan selalu menghendaki yang baik? Hanya saja manusia sendiri yang kadang kurang peka menanggapi kebaikan Tuhan. Globalisasi adalah buatan manusia yang tidak dapat kita katakan sebagai takdir, melainkan sebagai buatan manusia berdasarkan ukuran standar moral. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mantan Presiden Jerman Johannes Rau (1931-2006), “Globalisasi bukan fenomena alam. Hal itu dimaksudkan dan dibuat manusia. Maka, manusia juga bisa mengubah, membentuk dan membimbing ke jalan yang benar”.

Perubahan dunia adalah bagian dari perubahan perilaku kita. Segala sesuatu di dunia ini memiliki konsekuensi tersendiri bagi kita manusia. Contohnya, setiap hari saya selalu berusaha untuk mengurangi pemakaian dan penggunaan sampah plastik. Kalaupun pergi berbelanja ke supermarket, biasanya saya selalu membawa tas khusus untuk keperluan belanjaan yang hendak mau saya beli. 

Ketika saya sudah membeli sesuatu berarti saya juga telah menolong jutaan orang di dunia ini dari kesenjangan sosial. Sikap ini tidak mengandaikan supaya kita berperilaku konsumtif terhadap benda. Tidak. Tetapi, ini mau mengajak kita supaya tahu bersikap menghargai. Kita belajar menghargai lewat karya-karya perjuangan sesama kita, karena dengan membeli benda atau barang tersebut kita sudah membantu dia untuk mendapatkan sesuap nasi. 

Ia mungkin saja bekerja di sebuah perusahan dimana produk tersebut diproduksi dengan situasi perusahan yang tidak menomorsatukan MANUSIA, melainkan lebih memprioritaskan BARANG. Dan kita pasti tidak mengetahui bagaimana kegiatan produksi itu terjadi, karena yang kita tahu hanya merumuskan 2M (Makan dan Mengkritik). Dasar dibalik itu semua cenderung kita lupakan. 

Pemberantas masalah kemiskinan pun perlu juga digali dari akarnya, bukan saja hanya berdiri pada dataran kedangkalan sejauh mata memandang. Misalnya, hanya dengan memberikan uang kepada mereka, toh, ini juga tidak akan mengurangi kemiskinan. Kita diajak untuk menggali hingga ke akarnya, penyebab dari kemiskinan itu dan bagaimana pemberdayaan SDM dipergunakan. 

Saya mengajak kita untuk kembali lagi kepada ide awal bahwa perilaku kita menentukan perubahan dunia ini. Saya disadarkan banyak hal terhadap cara dunia ini berubah. Perubahan dunia bukan hanya mencakup saya dengan teman sebangku sekolah atau kerja, melainkan perubahan dunia mencakup kompleksitas keberadaan dunia ini. 

Kesadaran bahwa saya hidup dalam dunia dengan peradaban yang kaya akan berbagai budaya, ras, suku dan agama mengajak kita untuk respect. Globalisasi memampukan kita juga untuk dapat mengenal batas sudah sejauh mana tindakan tersebut mempengaruhi kita?

Dalam salah satu dokumen Konsili Vatikan II – Gaudium et Spes – menyatakan bahwa, “Tugas untuk menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil. Dengan demikianlah Gereja akan menanggapi pertanyaan-pertanyaan, yang pada segala zaman diajukan oleh orang-orang tentang makna hidup sekarang dan pada masa mendatang, serta hubungan timbal balik antara keduanya. Maka, perlulah dikenal dan dipahami dunia kediaman kita beserta harapan-harapan, aspirasi-aspirasi, dan sifat-sifatnya yang sering dramatis…(GS. 4). 

Dengan demikian, Gereja selalu berusaha menunjukkan sikap yang terbuka untuk membantu para korban lewat cinta dan kasihnya kepada mereka yang acapkali tidak diperdulikan atau dikucilkan oleh mereka yang dianggap tidak berguna. Belajar dari Yesus, Mother Theresa dari Kalkuta mencoba mendorong supaya dunia juga menolong mereka yang selalu dipinggirkan. Mother Theresa adalah wajah cinta Tuhan yang nyata. 

Walaupun, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa tindakannya itu adalah bagian dari kristenisasi, tetapi pengaruh dari hal tersebut tidak mempengaruhinya untuk tetap terus berkarya. Gereja Katolik juga selalu mengingatkan para pemimpin dunia agar supaya tidak hanya memperhatikan negaranya, tetapi perlu membantu negara-negara lain. 

Ini menyangkut kebersamaan kita di dunia ini. Dan berbagai kebijakan untuk melestarikan bumi – manusia dan alam – mendapat dukungan penuh dari otoritas Gereja. Hal serupa juga seperti yang diungkapkan oleh Peter Kardinal Turkson bahwa gereja dalam beberapa forum dunia menjadi pendukung perubahan. Kita tidak pergi ke kantor PBB atau ke New York untuk menyerukan “Ini harus terjadi!”. 

Kita juga tidak bisa mengontrol undang-undang tetapi kami berharap  untuk membantu orang-orang yang membuat hukum menjadi paham yang besar, dan kami mencoba untuk mempengaruhi undang-undang menurut perspektif kita.

Kerja sama. Ya, saya mengajak kita semua untuk saling bekerja sama. Tak ada tak mungkin di dunia ini diubah jika kita saling bekerja sama. Bekerja sama mengandaikan kita – saya – mau untuk memberi diri. Proses pemberian diri kita tergantung seberapa besar sikap solidaritas kita kepada sesama. Ada begitu banyak permasalahan yang sedang menggeroti saudara-saudara kita karena kesalahan saya, bukan siapa-siapa. 

Alam ini rusak karena siapa? Banyak orang menderita kelaparan karena siapa? Kekacauan dan peperangan disana-sini, karena siapa? Banyak orang kesulitan memperoleh jaminan kesehatan yang baik karena siapa? Ketidakadilan dan ketidaksetaraan : gaji, gender dan HAM karena siapa? Sistem pendidikan yang semakin merosot, karena siapa? Dan ada begitu banyak hal yang terjadi karena sikap kita (baca: saya) yang tidak mampu untuk bekerja sama membangun dunia ini. 

Mempentingkan diri sendiri adalah dasar kerusakan moral zaman modern ini. Kita tidak lagi memandang mereka sebagai SAUDARA, karena kita kurang percaya. Ada baiknya dan memang dianjurkan supaya dalam hidup keluarga, sikap saling percaya sudah saling diaktualisasikan.  Keluarga adalah basis utama masyarakat berkembang dan maju.

Keluarga adalah sarana penghubung ke seluruh dunia. Keluarga harus mampu memberikan energi positif untuk mendorong masyarkat kita yang masih sibuk dengan dirinya, menjadi pribadi yang peka dan peduli. Banyak hal yang dapat diajarkan dalam keluarga. Misalnya, mengenai perbedaan. Kita adalah makhluk yang diciptakan dengan beraneka ragam. Maka, dari keberagaman itulah sumber kekayaan cinta kita harus terus mengalir. Kita terikat satu sama lain sebagai “anggota keluarga bersama” Paus St. Yohanes XXIII.

Dengan begitu, di tengah arus global yang berkembang sangat pesat, kita sebagai satu keluarga yang menamakan diri sebagai orang-orang yang mau peduli terhadap kelangsungan hidup sesama menjadi aktor utama. Aktor yang mau berlaga untuk mengubah dunia. Bukan ke arah yang lebih rusak, tetapi ke arah dunia yang satu, dunia yang lebih baik. Sebab, dunia sekarang ini sedang menuju ke arah pemusnahan, jikalau saya (anda) tidak mulai bertindak dari sekarang untuk mengubahnya, lalu siapa lagi? Nyokap dan bokap loe?. Belum terlambat! Satu manusia untuk satu dunia yang lebih harmonis. Living More Harmoniously.



Sumber acuan :

  • DOCAT Indonesia, Apa yang harus dilakukan?
  • Wikipedia.net
  • Lerebulan, Aloysius, Traktat Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.